
"Hal penting apa yang membawamu kemari hingga menanyakan tentang perihal buku tentang Iblis Hitam Briant?" tanya sang Kakek pada Cucunya.
"Ada seseorang yang kini tubuhnya dikuasai oleh Iblis Hitam Kakek? sesuai dengan ciri-ciri yang disebutkan dalam buku mitologi kuno yang dulu pernah Mama baca."
"Jadi kamu mengetahui tentang buku itu dari Mama mu?"
"Benar Kakek."
"Akhirnya masa itu datang juga" kata Kakek Briant dengan nafas mendesah seakan memikul beban berat di kedua pundaknya "masa hidup dan mati" ujar Kakek Briant.
"Apa maksud Kakek berkata demikian?" tanya Briant dengan raut muka menggambarkan keingintahuan yang besar.
"Iblis hitam bukan makhluk biasa, mengalahkannya tidaklah mudah Briant.. dahulu kala.. satu abad yang lalu, Iblis hitam terbangun di tubuh seseorang dan berhasil menghimpun kekuatan lalu ia mengalahkan wilayah apa saja yang ia lewati. Saat itu lahirlah sosok pejuang dengan gagah berani melawan Iblis Hitam, namun sayangnya pejuang itu hanya bisa menahan Iblis hitam tanpa bisa membunuhnya. Kemungkinan Iblis Hitam yang kau lawan sekarang adalah kebangkitan Iblis terdahulu."
Kakek mengulurkan tangan mengambil salah satu buku yang terletak di rak paling atas.
"Ini kitab yang kau tanyakan Briant?"
Briant mengulurkan tangan menerima kitab yang Kakeknya berikan padanya.
"Terimakasih Kek"
__ADS_1
Briant membuka buku itu, ia membaca halaman demi halaman. Ada secercah cahaya di muka Briant namun detik berikutnya wajah Briant terlihat muram. Lalu setelah selesai membacanya ia lalu menutup buku mitologi kuno yang berada ditangannya.
"Kenapa kamu terlihat bersedih Cucu ku? tanya sang Kakek.
"Ya Kakek, di dalam buku dijelaskan bahwa yang bisa mengalahkan Bintang adalah pasangan phoenix yang telah bersatu. Bersatu disini disebutkan dengan bersatunya hewan yang menjadi simbol keduanya lalu menjelma menjadi sebuah senjata berupa pedang yang dinamakan pedang cahaya."
"Lalu apa yang kamu khawatirkan? bukankah kamu dan Istrimu adalah pasangan phoenix?"
"Bagaimana Kakek bisa tau jika aku dan Istriku adalah pasangan phoenix?"
Kakek Briant tersenyum dan mengedikkan kedua bahunya tanpa mau menjawab ke ingin tahuan Briant.
Baik Mama dan Kakek keduanya sangat misterius, banyak hal yang tidak biasa yang Briant ketahui sedari kecil selama bersama mereka.
"Baik Kakek."
"Satu pesanku, apa pun yang terjadi jangan pernah kalian terpisah satu sama lain."
"Ya Kakek."
Briant menggerakkan tangan dan pats.. buku yang ia pegang hilang dari tangannya, tersimpan dalam dimensi penyimpanan miliknya.
__ADS_1
Sang Kakek dan Briant berjalan keluar dari ruang rahasia lalu masuk kedalam perpustakaan. Keduanya berjalan keluar perpustakaan menuju kediaman.
Sesampainya ia dikediaman "Kakek.. Briant pamit undur diri."
"Baiklah.. hati-hati dan selalu ingat pesan Kakek."
"Tentu" jawab Briant. Briant berbalik pergi dengan diantar kepala pelayan menuju depan kediaman.
"Mari Tuan Muda" kata pelayan.
Briant mengangguk sebagai jawaban.
Sang Kakek melihat kepergian cucunya hingga Briant tak nampak lagi semoga kamu berhasil gumamnya dengan lirih.
Briant berjalan keluar kediaman menuju tempat dimana mobilnya berada. Sesampainya ia di mobil, Briant masuk pada bagian kemudi mobil, menyalakan mobil lalu mobil berjalan meninggalkan kediaman.
_______
Dua minggu waktu telah berlalu dari kejadian menghilangnya penduduk satu Desa. Semua yang telah terjadi masih menjadi misteri hingga saat ini, namun usaha yang mereka lakukan tidak membuahkan hasil sama sekali.
Hanya menyisakan rasa penasaran bagi banyak orang.
__ADS_1
Di Istana Kahyangan.
Para bawahan Briant tengah berkumpul menunggu pemimpin mereka di sekitar altar persembahan yang telah disiapkan. Malam yang mereka tunggu-tunggu, yaitu malam bulan purnama.