
Mengenang pertemuan pertama diantara keduanya, di hutan kematian.
Sebelum pulang ke bumi, Mawar dsn Briant pergi ke Hutan Kematian. Dimana keduanya bertemu untuk pertama kalinya.
Tibalah keduanya di hutan kematian, Mawar menggenggam tangan Briant menariknya untuk mengikuti langkahnya.
Mawar memberi tahu Briant dimana ia tinggal selama seribu tahun. Di depan air terjun, Mawar melambaikan tangan dan air terjun itu bergeser terbuka seperti tirai. Keduanya masuk ke dalam.
Briant mengamati lingkungan sekitar dimana Mawar menjalani hukuman tertidur selama seribu tahun. Tempat yang indah.
Ada ranjang gantung di sana dengan lilitan bunga Mawar yang tumbuh merambat. Dan disisi lain ada kolam dengan air sangat jernih yang biasa Lea gunakan untuk mandi.
"Honey.. tempatnya sangat cantik." kata Briant.
"Ya memang sangat cantik" Mawar berjalan menuju ranjang duduk di sana.
Briant mengikuti, dan mereka duduk berdampingan.
"Kau tau Bri.. hutan kematian bukan tempat biasa, tidak ada yang bisa memasuki tempat ini, aku sangat penasaran kenapa kamu bisa masuk ke sini dan kamu hanya lah manusia biasa"
"Benarkan?"
__ADS_1
"Ya" jawab Mawar sambil melihat Briant pandangan lurus ke depan.
"Dari kecil aku memang berbeda, tidak seperti anak-anak pada umumnya dalam segala hal, keluarga ku sendiri juga tidak tau kenapa aku berbeda, aku punya kecerdasan dan kemampuan diluar akal manusia, mungkin ini adalah takdir yang menghubungkan kita berdua Mawar. Ada hal yang mengganggu pikiran ku, kenapa setiap kita berciuman bunga Mawar akan tumbuh di sekitar kita?"
"Bunga Mawar adalah lambang dari hidupku Bri.. jika suatu saat kamu mendapati bunga Mawar yang tumbuh kala kita bersama mati maka begitu juga dengan ku."
Briant mengerutkan keningnya kala mendengar fakta yang Mawar ceritakan padanya.
"Mungkin karena aku merasa bahagia ketika bersama mu. Maka bunga itu akan tumbuh dan bermekaran, lihatlah sekitar kita Bri"
Briant mengedarkan pandangannya ke sekitar, benar saja bunga Mawar tumbuh dan bermekaran.
"Dulu ketika Ibunda hamil, ketika ia pergi ke hutan di wilayah peri, Ibunda mendapatkan hadiah bunga Mawar, peri itu berkata jika anak dalam kandungannya berjodoh dengan mawar yang Ibunda terima, waktu itu Ibunda hanya menganggapnya sebagai pemberian biasa. Namun, ketika aku lahir bunga tumbuh menjalar bermekaran disekitar kami. Dan karena itu mereka memberi ku nama Mawar.
Mawar tertawa mendengar perkataan Briant.
"Kenapa kamu tertawa?"
"Karena kamu orang pertama yang sangat jujur berani berkata seperti itu padaku."
"Sepertinya aku ingin lebih meyakinkan diriku tentang perkataan mu."
__ADS_1
"Maksudnya?"
Tanpa menjawab pertanyaan Mawar, Briant meraih tengkuk Mawar dan menciumnya.
Ciuman keduanya begitu intens. Benar saja disekitar mereka bunga Mawar tumbuh dan mekar begitu indah.Briant yang dalam posisi berciuman melirik keadaan sekitar, bunga mawar semakin tumbuh dengan indah.
Beberapa saat kemudian ciuman kedua terlepas. Kening keduanya saling menempel dengan nafas terengah-engah.
"Kamu sengaja ya Bri.."
Briant berdiri, ia beranjak dari sisi Mawar. Bisa gawat jika aku tetap di sisinya.
"Ayo kita keluar, aku ingin liat lingkungan disini" Briant dan Mawar berjalan keluar goa, keduanya berjalan menyusuri hutan kematian. Hewan-hewan yang berpapasan dengan mereka menunduk menghormati keduanya.
Briant terheran dengan pemandangan yang ia lihat. Dalam hati bertanya kenapa mereka semua seolah tunduk dengan kami atau sebenarnya hanya kepada Mawar saja. Ini aneh sebelumnya berulang kali aku datang kemari tidak ada satu pun hewan yang nampak berkeliaran, tapi kenapa sekarang begitu banyak penghuni di sini."
Penampilan Briant tiba-tiba berubah dengan jubah kebesaran dirinya. Tidak seperti biasa yang hanya mengenakan kemeja dan setelan jas yang ia kenakan.
Mawar terkejut menyadari perubahan Briant.
"Bri.. kenapa kau merubah penampilanmu seperti itu? kau nampak menakutkan!."
__ADS_1
"Aku tidak merubahnya, entah kenapa dengan sendirinya penampilan ku jadi seperti ini!."
Briant berjalan beriringan dengan Mawar menelusuri seluruh bagian hutan kematian.