
Bella masih berada di ruang tamu. sesekali ia mengintip dari jendela karena sedari tadi menunggu kedatangan Alex yang sebentar lagi pulang. Bella mempersiapkan dirinya, berdandan secantik mungkin dan menggunakan baju dinas yang di berikan Anna.
“Abang kok lama sih? Apa gak jadi pulang ke sini ya?” gumam Bella sambil membuka tirai jendela kaca ruang tamu.
Akhirnya ia memutuskan untuk duduk di sofa dan tanpa sadar ia tertidur. Beberapa eberapa kemudian Alex sampai di rumah. Alex membuka pintunya dan mendapati istri ketiganya itu tengah tertidur dengan posisi duduk. Alex tersenyum lalu meletakkan tasnya di meja dengan begitu pelan ia duduk di Bella lalu mengusap lembut rambutnya.
Merasa ada yang mengusap rambutnya, Bella terbangun dan tersenyum saat melihat Alex tersenyum padanya.
“Abang...,” lirihnya lalu memeluk Alex.
“Sudah lama nunggu Abang? Kangen ya?” goda Alex lalu tertawa kecil.
“Iya, kangen. Bella pikir Abang gak jadi pulang ke sini.” Bella mendongak ke arah Alex.
“Jadi dong ... kan Abang sudah janji. Abang juga kangen sama kamu.” Alex tersenyum lalu mencium kening Bella.
“Ya sudah, ke kamar yuk!” Keduanya bangkit dari duduknya tak lupa Bella mengambil tas kerja milik suaminya lalu berjalan ke kamar.
Sesampainya di kamar Bella meletakkan tas kerjanya di tempat biasa, sementara Alex memperhatikan Bella yang saat ini memakai baju lingerie. Lekuk tubuhnya begitu terlihat dan membuat Alex sedikit gugup menelan silvanya.
Bella sangat muda dan tubuhnya begitu menggoda. Mungkin Alex adalah laki laki beruntung yang bisa menikahi Bella. Apa lagi masalah ranjang ia tinggal pulang ke rumah istri yang ia inginkan untuk menuntaskan keinginannya tersebut.
“Abang kok lihat aku kayak gitu sih?” Bella memperhatikan wajah Alex yang tampak masih memperhatikan dirinya.
“Abang mau?” goda Bella mendekati Alex.
Bella memainkan kerah kemeja Alex lalu sedikit menariknya. Keduanya tersenyum kemudian mereka berciuman.
Mereka berdua akhirnya melepas rasa rindu. Walau hanya sebentar sudah cukup bisa membuat Bella bahagia. Alex sebenarnya masih lelah, namun ia juga tidak ingin membuat Bella kecewa .
Setelah selesai membersihkan tubuhnya masing-masing. Mereka berdua menuju ruang makan. Bella membuatkan jahe hangat dan mengupas buah apel serta pisang. Mereka berdua untuk saat ini mang sedang menjaga asupan nutrisi makanan mereka untuk program memiliki anak.
Alex mencuri pandang saat duduk di kursi. Bella dengan asyik memakan buah apel. Alex berfikir kenapa istrinya ini tidak menanyakan oleh-oleh darinya.
“Kamu kenapa gak tanya oleh-oleh sama Abang?”
__ADS_1
Bella tersenyum lalu melihat suaminya. “Gak...! Yang penting Abang sudah pulang, Bella sudah seneng.”
Alex tersenyum lalu merogoh kantong baju tidurnya dan mengeluarkan kotak cincin yang ia beli sembunyi-sembunyi dari Iren.
“Ini untuk kamu.”
“Ini apa Bang?” Bella melihat Alex dan kotak tersebut bergantian.
“Buka aja.”
Bella membuka kotak cincin tersebut, lalu melihat Alex. Bella begitu terpesona dengan cincin berlian yang menurutnya begitu indah. Alex tersenyum lalu mengambil cincin tersebut dan memasangkan ke jari manisnya.
“Waktu nikah, kan Abang cuma berikan kamu uang lima juta, rasanya tidak ada wujudnya di jari kamu. Ini Abang berikan sebagai gantinya. Biar selalu ada di jari kamu dan sebagai tanda kamu milik Abang selamanya. Apapun yang terjadi, kamu akan tetap bersama Abang sampai kapan pun.”
“Terima kasih ya Bang. Bella pasti akan selalu sama Abang. Karena Bella hanya punya Abang. Bella sudah tidak punya siapa-siapa. Kadang Bella juga banyangin kalau Abang tiba-tiba pergi ninggalin Bella, terus Bella sama siapa.” Tidak terasa air mata Bella meleleh.
Alex tersenyum tipis lalu menarik Bella lembut masuk kedalam pelukannya. Ia tahu apa yang saat ini dirasakan Bella yaitu kesepian. Sepi tidak mempunyai lagi orang tua, saudara bahkan teman dan memang hanya dirinya yang di miliki Bella saat ini.
“Nanti punya anak yang banyak ya Bang. Jangan satu. Bella gak mau anak Bella seperti ibunya, gak punya saudara.”
“Kebanyakan, tiga aja.” Alex terkekeh mendengar suara manja sang istri.
“Iya, tiga aja.”
***
Pagi harinya Alex bangun lebih dulu kemudian ia langsung melihat email masuk dan memeriksa beberapa berkas pekerjaannya. Ia ingin memastikan pekerjaannya selesai sebelum mengajak Bella jalan-jalan karena tiga hari kedepan ia tidak bekerja.
Bella mulai membuka matanya dan meraba tempat tidur dan tidak mendapati sang suami, sontak ia bangkit dari tidurnya.
“Abang!” panggilnya dengan suara seraknya.
"Abang disini,” balas Alex yang masih fokus di depan leptop. Bella menoleh ke arah sofa dan melihat suaminya sedang sibuk.
“Kirain Abang kemana?” Bella bangkit lalu menyusul suaminya.
__ADS_1
“Sana shalat dulu.”
“Cium dulu.” Bella menyodorkan pipinya kemudian Alex dengan lembut mengecupnya.
“Abang sudah shalat.”
“Sudah....” Alex mengusap lembut rambut Bella.
“Ya sudah Bella mau shalat dulu.”
“Oh ya. Selesai shalat, Mandi ya. Kita jalan-jalan ke puncak. Abang libur tiga hari.”
“Beneran?” Bella begitu antusias karena selama menikah Alex belum mengajaknya jalan-jalan.
“Iya sayang....”
Bella kemudian bergegas ke kamar mandi dan memutuskan mandi lebih dulu, baru ia shalat. Setelah itu ia bersiap dan menyiapkan bajunya.
“Abang bawa baju yang mana saja?” tanya Bella saat meletakkan bajunya kedalam koper.
“Tidak usah. Abang masih ada baju di mobil. siapkan saja baju kamu. Tidak usah banyak-banyak, nanti kita beli juga di sana. Bawa yang perlu saja.”
“Baiklah.”
“Ya sudah, Abang mandi. Kalau ada yang hubungi Abang, jangan diangkat. Abang gak mau diganggu. Karena Abang mau berduaan saja sama kamu.” Goda Alex di akhir kalimatnya membuat Bella tersipu malu.
“Abang pagi-pagi sudah gombal. Oh iya ... kalau Mbak Anna yang telepon bagaimana?”
“Mbak Anna gak bakal telepon, Abang sudah pesan sama dia, jangan diganggu. Abang cuma mau berduaan sama kamu.”
Bella hanya mengangguk. Padahal yang sebenarnya adalah itu semua hanya alasan Alex agar saat Iren menghubunginya Bella tidak mengangkatnya. Jika itu terjadi pasti Iren akan mengetahui jika dirinya mempunyai wanita lain.
Alex tersenyum melihat Bella yang begitu polos dan penurut. Tetapi ia juga ada rasa bersalah sudah membohongi Bella dan Iren. Tapi mau bagaimana lagi, ia juga menginginkan seorang anak sebagai penerus darahnya. Anak yang mungkin tidak bisa di berikan oleh kedua istrinya dan harapan satu-satunya adalah Bella.
Alex bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi. Bella menyiapkan baju santai sang suami dengan begitu bahagia.
__ADS_1
“Adik, cepet hadir di rahim Ibu ya, nak. Biar Papa terus sama kita, Maaf mbak Anna. mungkin nanti aku sedikit egois. Karena aku mau saat hamil nanti Abang terus mendampingiku. Bukannya Mbak juga pengen anak, kan,” batin Bella sambil mengusap perutnya, membayangkan dirinya sudah mengandung anak Alex.