DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 50 SENJATAKU


__ADS_3

Alex terpaku dan hanya bisa melihat mobil Arya melaju menjauh dari pandanganya. Alex berjalan menuju mobilnya lalu pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah ia pun menuju ruang kerja dan mencari dokumen surat perceraiannya dengan Bella.


Alex mengobrak Abrik seisi lemari dan laci bahkan berkas penting pun ia abaikan dan bersereak di lantai.


“Kemana surat perceraian itu?” gumamnya dengan nada marah. Tiba-tiba ia teringat Anna pernah memegang map yang ia cari.


"Anna!” teriaknya dengan nada begitu nyaring.


Anna terkejut mendengar teriakan suaminya yang menggema di semua sudut ruangan rumah. Para asisten pun terkejut dan terbangun.


Anna bangkit dari tidurnya dan menghampiri sang suami yang ada di lantai bawah ruang kerjanya. Anna berdiri di ambang pintu dan melihat semua berkas berserakan di lantai


"Ada apa sih, Mas! Kenapa semua berantakan. inikan berkas-berkas penting.” Ana melihat suaminya berdiri lalu menghampirinya.


“Dimana surat cerai Bella?”


"Kenapa Mas tanya sama aku? Aku juga tidak tau!”


"Jangan coba-coba bohong padaku Anna! Aku tahu terakhir kamu yang menyimpanya!” Nada Alex sudah tidak bersahabat.


"Susah aku berikan pada Bella!” Anna menatap tajam Alex.


"Kau!!"Alex sudah mengangkat tangannya ke udara hendak menampar Anna. Namun ia masih ingat jika Anna perempuan.


"Ahhh!!!” Alex akhirnya meninju tembok


“Kau tau kan itu senjataku agar Bella tidak bisa menikah resmi lagi dengan lelaki lain! Dan aku bisa melihat anakku!! Aku ingin kembali lagi padanya dan menembus kesalahanku padanya! Kau tau itu!! Aku baru menyadari aku juga mencintainya.” Sekali lagi Alex meninju tembok lalu pergi begitu saja dari hadapan Anna. Alex pergi dari rumah dan tidak tau entah kemana.


Anna terdiam dan meneteskan air matanya, melihat pertama kalinya sang suami hendak menamparnya. ia begitu syok.


“Kau bilang mencintainya. Baiklah, silahkan berjuang jika kau mampu melawan keluarga Sanjaya, jika kau mampu mengambil hati Bella silahkan kau kembali! Kesabaranku sudah habis!” gumam Anna mengusap air matanya.


Disis lain di waktu yang sama, saat sampai di apartemen, Bella mengajak Reyhan ke kamar, Bella duduk di atas tempat tidur sambil terus mendekap anaknya. Pikirannya terus memikirkan sang anak yang takut di ambil Alex.


Arya berjalan mendekati Bella dan duduk di depannya. Arya ingin mengambil Reyhan untuk di tidurkan, namun Bella terus mendekapnya.

__ADS_1


"Jangan ambil anakku. Pergi! pergi!” seru Bella mendekap sang anak tanpa melihat wajah Arya.


"Sayang...! Ini Mas Arya!”


"Jangan ambil anakku!” Bella benar-benar ketakutan ia berdiri dan menghindari Arya


“Bella, ini Mas Arya!”


“Pergi! jangan ambil anakku!” Bella berlari keluar kamar menuju ruang depan.


Arya berlari mengejar Bella yang berusaha membuka pintu depan, namun tak kunjung terbuka karena Bella panik bercampur ketakutan, pikirkanya hanya di penuhi Alex yang seolah akan mengambil anaknya.


“Kak! Mbak Bella kenapa?" tanya Tasya.


"Gak tau, Sya? Dari tadi di mobil udah diam kayak orang ketakutan!”


Tasya berjalan mendekati Bella lalu memegang pundaknya. “Mbak ... ini aku Tasya!”


"Tasya! Tolong buka pintunya, Aku mau pergi! Aku takut Abang ambil Reyhan dariku!” balas Bella ketakutan.


Bella perlahan menoleh ke belakang dan melihat Arya. Bella seketika menangis lalu berjalan menghampiri Arya. Arya pyn dengan sigap memeluknya.


“Mas, bawa aku pergi dari sini. Aku benar-benar takut Abang akan mengambil Reyhan.”


"Tidak ada yang berani mengambil anak kita. Hm..., besok kita pulang ke Surabaya ya! Di sana kamu dan Reyhan akan Aman.”


Tasya mengusap pundak Bella, ia juga tahu bagaimana menjadi Bella yang sulit menghilangkan rasa luka yang begitu membekas. Tasya mengambil Reyhan dari gendongan Bella.


"Semua akan baik-baik saja!” ucap Tasya lalu tersenyum, kemudian membawa Reyhan ke kamar untuk di tidurkan. Arya memeluk kembali Bella agar ia tenang.


“Besok akan lebih baik! Hm....” Arya membawa Bella ke kamar menyusul Reyhan.


Tasya melihat Arya masuk bersama Bella pun langsung keluar kamar dan menutup pintunya. Arya membantu Bella berbaring di samping Reyhan kemudian ia pun ikut berbaring di samping Bella, Arya menyelimuti Bella dan Reyhan.


Arya memeluk Bella dari belakang dan tangan satunya mengusap lembut kepala Reyhan.


"Istirahat, besok kita pulang ke Surabaya,”lirih Arya sambil sesekali mengecup pucuk rambut Bella.Perlahan keduanya memejamkan mata tidur hingga pagi menjelang.

__ADS_1


Keesokan harinya mereka bangun sedikit siang. Tasya pun sudah berangkat bekerja. Bella terbangun saat Reyhan merengek membuka bajunya untuk menyusui. Bella membuka mata dan langsung menyusui sambil tiduran tanpa sadar Arya masihh tidur memeluknya. Arya bangun saat Reyhan menepuk-nepuk pergelangan tangannya.


“Papa!" seru Reyhan disela menyusunya. Arya tersenyum lalu melihat Reyhan sekilas.


"Anak Papa sudah bangun?” Arya bangkit lalu tersenyum. Arya kemudian memilih untuk keluar kamar, karena ia tidak enak jika harus melihat Bella menyusui Reyhan.


Arya membuka pintu balkon ruang depan dan melihat cuaca begitu cerah. lalu lalang kendaraan di jalan yang terlihat dari lantai apartemennya.


Arya memikirkan Bella, bagaimana bisa ia setakut itu dengan suaminya. Apa lukanya begitu dalam. Ia tidak tahu seberapa dalam hati seorang wanita Jika terluka, seperti halnya sang adik. Arya hanya memahami dan mencoba mengerti apa yang di rasakan keduanya.


“Wanita memang sulit di mengerti, bahkan Adikku sendiri yang sudah kenal saat masih ingusan pun aku kadang tidak tau apa yang sebenarnya ia pikirkan.” Arya mengusap kasar wajahnya lalu masuk kembali menuju ruang makan.


Arya duduk di kursi meja makan sambil minum air putih, lalu ia membuka penutup makanan, rupanya sang adik sudah memasak nasi goreng.


“Tasya, Tasya. semoga kamu selalu bahagia dan secepatnya di pertemuankan orang yang tepat.” Arya bangkit dari duduknya lalu mencuci tangan lalu menyiapkan sarapan untuk Bella dan membawanya ke kamar.


Arya tersenyum melihat Bella yang sedang menggantikan baju, rupanya Reyhan sudah di mandikan.


"Pagi, sayang!” sapa Arya lalu meletakkan sepiring nasi goreng di meja dan segelas jus apel segar.


“Pagi, Mas!”


"Kamu sarapan dulu ya! Biar Aku yang lanjutin ngurus Reyhan.” Arya mengambil celana Reyhan dari tangan Bella.


"Terima kasih Mas!” Bella kemudian duduk di sofa lalu sarapan nasi goreng.


"Nasinya, agak asin. Mas yang masak? Rasanya beda!” tanya Bella setelah merasakan kunyahan pertama nasi gorengnya.


"Tasya yang masak!“ Keduanya tertawa karena tahu Mitos jika seorang gadis masak dan rasanya keasinan adalah tanda ingin segera menikah. Namun tetap Bella memakannya, karena ia menghargai calon adik iparnya.


"Kalau gak suka, nanti biar mas Masakin lagi!”


“Gak usah Mas! Aku udah laper! Di sedot Reyhan,” jawab Bella nyeleneh tanpa sadar


“Di sedot aku mau!”


"Apa sih, Mas!” Seketika Bella sadar dengan ucapannya, dan wajahnya berubah bersemu malu. Sedangkan Arya hanya tertawa di iringi Reyhan yang ikut tertawa melihat Arya tertawa.

__ADS_1


__ADS_2