
Hari libur pun tiba. Ini pertama kali Bella libur bekerja setelah menjadi guru di Mahendra internasional school. Kali ini ia jalan-jalan ke sebuah Mall yang tidak jauh dari kosannya. Ini kali kedua ia datang ke Mall tersebut. Pertama ia bersama Alex dan Mbok Imah.
Bella berjalan sendirian bersama buah hatinya sambil bercanda. Bella hanya membeli popok untuk Reyhan. Saat melewati toko mainan dan peralatan bayi, Ia hanya tersenyum kecut. Berandai bisa membelikan baju-baju, mainan dan stroller. Bella hanya bisa melihatnya dari dinding kaca dan berdoa dalam hati suatu saat akan membelikan sang anak.
Hanya jalan santai di dalam Mall sudah membuat Bella dan sang anak Bahagia. melihat lampu dan kelap-kelip lampu yang menyala membuat Reyhan begitu antusias.
“Sudah ya, Nak kita pulang. Nanti kalau ibu sudah gajian. Kita beli salah satu mainan disini ya. Ye...!” seru Bella mengangkat satu tangan anaknya.
Tak di sangka saat hendak melangkah pergi dari depan gerai mainan tersebut. Bella tidak sengaja bertemu Alex dan Anna yang sedang berbelanja dan membawa Anaknya. Cepat-cepat Bella menutup wajah sang anak menggunakan ujung kain gendongnya.
“Bella! Astaga. Bella! kamu kemana saja? Mas Bella, Mas.” Anna memegang kedua pundak Bella.
“Maaf Mbak. Permisi!” Bella buru-buru menepis tangan Anna dan menghindari tatapan Alex.
Jatungnya berdegup kencang saat melihat wajah Alex. Perasaan cintnya bergejolak kembali. Air matanya pun hampir jatuh, Namun sebisa mungkin ia tahan.
"Ibel tunggu! Kamu tinggal dimana. Kamu masih bersama Wahyu, kan. Kalian sudah menikah?” tanya Anna membaut Bella semakin sakit hati.
“Maaf, Mbak. Bukan urusan Mbak. permisi.”
“Anna, sudah! kita tidak ada lagi urusan dengannya!” seru Alex menahan tangan Anna.
Bella yang mendengar ucapan Alex yang sudah tidak peduli lagi pada dirinya pun. menangis sambil berjalan pelan menuju eskalator.
“Abang memang tidak pernah mencintaiku. Kata manis yang dulu sering Abang ucapkan hanya untuk membuat aku jatuh cinta, dan itu berhasil sampai sekarang aku tidak bisa melupakan cinta itu. Tapi kenapa Abang tidak pernah mencari kebenaran tentang anak ini. Anaknya sendiri.” Bella berhenti di dekat eskalator. Air matanya semakin deras. Tidak peduli banyak orang melihatnya.
“Ayah ... Janji itu tidak di tepati, yah! Tidak ada yang menjagaku,” batin Bella terus menangis.
Alex dan Anna hanya melihat dari kejauhan lalu masuk ke gerai mainan dan peralatan bayi.
Saat air mata Bella semakin deras, tiba-tiba ada seseorang pria yang merangkulnya dan membawanya kedalam pelukannya. Bella semakin menangis menyembunyikan wajahnya di dada pria tersebut. Pria itu terlihat santai sambil berbicara dengan lawan bicaranya lewat ponsel. Ia mengajak Bella turun dari eskalator.
Pria itu membawa Bella ke restoran yang ada di Mall tersebut dan duduk di paling pojok. Pria itu mengambil Reyhan dan membiarkan Bella menangis meluapkan emosi rasa sakit di hatinya. Pria itu menggendong Reyhan dan menimangnya.
Pria itu memanggil pelayan restoran untuk memesankan, minuman serta makanan untuk Bella.
"Ya, tuan?” tanya pelayan.
__ADS_1
“Siapkan jus alpukat dua, sop iga dua porsi plus nasi. Bawa kemari!” ujar pria tersebut sambil melihat Bella masih menangis.
“Baik, tuan.” Pelayan tersebut menuju ke belakang untuk mengambil pesanannya.
“Kamu kenapa? Tiba-tiba nangis di Mall. Bawa-bawa anak. Kamu menangis karena Bapaknya anak ini gak mengakui anaknya?”
Bella mendongak, ia terkejut kenapa laki-laki ini tau masalahnya.
"Siapa kamu? Kembalikan anakku!” ujar Bella langsung meraih Reyhan dan menggendongnya.
“Kamu lupa? Sama orang ganteng kok lupa! Sudah duduk dulu. Kamu lapar, kan! Makan dulu.”
“Tuan Arya?” gumam Bella
“Hm ... sudah duduk!” Bella hanya patuh. ingin keluar pun percuma ia tidak bisa keluar karena duduk di pojok dan Arya duduk di sebelahnya sedangkan di depannya adalah meja.
"Susui anak kamu dulu!”
Arya melihat senyum Reyhan yang sedari tadi melihatnya. Sepertinya Reyhan memang butuh dekapan seorang Ayah. Dari bayi hanya sekali ia di gendong dan di peluk Alex.
"Sayang ... minum dulu ya.” Bella menutupi dadanya dengan kain gendongnya lalu menyusui bayinya.
“Oh iya, kita belum kenalan resmi, kenalin Arya Wijaya.” ujar Arya sambil mengulurkan tangannya. Dengan ragu Bella membalas uluran tangannya.
“Issabella. Maaf saya harus panggil apa?”
“Terserah kamu. Mas, Abang, aa, akang, cak, Nama juga boleh? kita cuma beda 10 tahun.”
Bella tersenyum tipis dan berfikir usia Arya 32 tahun. Bella sebenarnya risih tiba-tiba ada pria yang berlagak akrab dengannya. Apalagi tau permasalahannya.
“Maaf tuan. Anda tahu permasalahan saya darimana?” tanya Bella.
“Semua orang juga tahu dirimu siapa. Tapi aku lebih tahu siapa dirimu, usiamu, statusmu, berasal darimans, anak siapa dan sekarang tinggal dimana?” jelas Arya santai membuat Bella ketakutan.
“Maksud Anda?”
“Bagiku mencari informasi seseorang itu mudah gak butuh dua hari aku sudah tahu semuanya, termasuk permasalahan kamu sebenarnya. Aku tahu kamu tidak salah dan salah juga, sih. salah kamu, kamu pergi dari suami kamu tapi kalau aku jadi kamu, aku akan melakukan hal yang sama.”
__ADS_1
"Stop tuan!” Bella bangkit dari duduk dan ingin keluar. Namun di tahan Arya.
“Duduk dulu. Makan dulu baru pulang!” Arya memegang pundak Bella dan mendudukkannya. Bella begitu kesal ingin sekali menampar pipi orang di depannya itu. orang yang sudah lancang mencaritahu asal usulnya.
“Makanan sudah datang.”
“Tapi saya tidak pesan apapun!”
“Iya tahu, tapi aku pesan buat Reyhan.”
“Hah!?”
“Silahkan tuan, Nyonya," ucap pelayan restoran meletakkan pesanannya di meja. Setalah itu kembali melayani yang lain.
“Hah,Hah! Sudah makan. Reyhan makannya pakai perantara kamu biar jadi air susu,” ujar Arya menujuk bagian dada Bella. Bella reflek menepak tangan Arya.
“Jaga batasan Anda tuan!” Lagi-lagi Bella berdiri sontak Reyhan membuka tutup kain yang menutupi dada Ibunya. Buru-buru Bella mengancingkan kemejanya.
Terdengar tawa Reyhan melihat Arya, seolah mengajaknya bermain.
“Sudah kenyang? Ayo ikut Om,” Arya mengulurkan tangannya dan Reyhan pun langsung menghambur.
“Sudah kamu makan. Ini aku pesankan. kalau kamu gak mau makan, kamu yang bayar. Tapi kalau kamu makan nanti pulang aku bawakan buat makan malam.”
Bella terus melihat Arya tidak suka. Arya terlalu memaksa tapi ia tidak mempunyai pilihan lain. Ia takut di suryuh membayar, Uang dari mana? sedangkan ia belum gajian.
“Edan kue Yo! Di enteni malah penak mangan Karo cewek! Lah iki anake sopo tah?” seru seorang wanita tiba-tiba menggunakan bahasa Jawa, ternyata itu adalah Adik Arya, Tasya.
“Anak Nemu! Ngopo ngene! Sak karepku lah!”
“Di enteni Babeh kae loh! Maaf Yo Mbak, ini urusan adik kakak!” jelas Tasya pada Bella. Karena Bella terus melihat mereka bergantian.
“Halah rek- rek. Kon ngopo? Lah awakku ngelih, Yo mangan disik!”
“Awas loh, Babeh rene!” Tasya kemudian melenggang masuk ke bgaian staff karena restoran tersebut milik sang Ayah.
Arya pun melihat kedatangan sang Papa berjalan menghampirinya.
__ADS_1