DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 65 BUTUH PENERUS


__ADS_3

Bella sudah di perbolehkan pulang. Ia begitu senang bisa melihat sang Anak. Ia memeluk Reyhan dengan erat. Arya tersenyum melihat Ibu dan anak itu melepas rindu setrlah 10 hari di rumah sakit.


"Maafkan Ibu sayang, sudah ninggalin kamu beberapa hari.” Bella kembali memeluk Reyhan.


"Dedek!” ujar Reyha menujuk perut Bella. Bella tertawa kecil sambil mengusap Air matanya yang sedikit menetes.


“Dedek, sudah pergi sayang. Nanti ya ... dedek pasti ada lagi.”


Arya menghela nafas panjang sambil melihat Abi dan Utari yang sedari tadi menunggu mereka pulang dari rumah sakit. Tatapan Abi membuat Arya gelisah karena tahu maksud sang Papa, mengapa Bella belum diberi tahu jika Rahimnya sudah di angkat.


"Sayang ... Reyhan ikut Mbak Narti dulu ya. Mama biar istirahat dulu.” Arya mengusap rambut Reyhan.


“Iya, Pa!“ Reyhan akhirnya ikut Narti ke taman samping rumah.


"Bagaimana keadaanmu?” tanya Abi.


"Sudah membaik, Pa. tinggal pemulihan, Maaf ya Pa, Ma. Sudah merepotkan Mama dan Papa.”


“Tidak apa-apa, Reyhan sudah seperti cucu kami.”


“Sayang, Kamu istirahat ya. Ma, Pa. Bella biar istirahat dulu ya.”


“Iya, istirahat ya.”


Bella mengangguk lalu Arya membantu Bella menuju kamarnya.


"Pa! Kenapa Abi belum memberitahu Bella kalau Bella tidak bisa lagi mempunyai anak!” ucap Utari saat Bella sudah masuk kamar.


“Sudahlah, Ma. Mungkin Arya menunggu waktu yang tepat.”


“Jadi kita gak punya cucu dari Arya dong, Pa,” lirih Utari sambil duduk di sofa dan menekuk wajahnya. Abi duduk di sebelah Utari dan tersenyum.


"Ma, anak itu titipan, ini juga ujian untuk keluararga kita, terlebih untuk Arya.” Abi mencoba memberi pengertian pada Istrinya.


"Tapi kan, Pa ... Arya butuh penerus. Siapa nanti yang kelola bisnis keluarga kita setelah kita gak ada, Arya sudah tua.”


"Ma ... sudah! Ok. Itu urusan Arya dan Bella.”


"Papa, ngeselin kalau di ajak diskusi." Utari berdiri lalu berjalan menuju kamarnya yang di rumah Arya.

__ADS_1


“Arep nang di tah?” seru Abi melihat sang istri.


"Gawe anak!” Jawab Utari nyeleneh.


"Lah aku neng kene rek!”


"Yo, Ayo!”


Abi lantas menyusul Utari yang masih tampak kesal sedangkan Semua asisten rumah tangga Arya tertawa melihat tingkah dua orang tua yang selalu membuat gelak tawa.


Di kamar Bella berbaring di temani Arya. Bella tidur miring menghadap ke arah Arya.


"Mas, maafkan aku ya. Aku gak bisa jaga anak kita.” Bella meraih tangan Arya.


“Kan, ini semua musibah sayang, bukan salah kamu.” balas Arya mengusap pipi Bella.


Arya memandangi wajah istrinya, rasanya ia tidak sanggup untuk menyampaikan jika rahim sang istri sudah tidak ada. Tapi bagaimanapun Arya harus menyampaikan hal tersebut. Tapi bagaimana bahasa yang tepat untuk menyampaikan hal itu.


“Sebenarnya ada hal yang harus Aku sampaikan padamu, sayang. Tapi...,”


“Tapi apa, Mas?” tanya Bella penasaran. Arya duduk di ikuti Bella. Arya masih berfikir apa ini waktu yang tepat, tetapi mengingat kondisi Bella belum sepenuhnya pulih, Arya tidak tega. Tapi Arya juga takut jika Bella mengetahui dari orang lain.


"Em ... tapi janji kamu tidak bersedih atau merasa menjadi beban.”


"Iya, apa? Mas Arya sayang....”


“Rahimmu sudah di angkat!”


Bella terdiam melihat wajah serius Arya. Ia pun tak percaya dengan apa yang di sampaikan sang suami.


“Maksud, Mas?”


"Kamu tidak bisa hamil lagi, sayang. Maaf Mas harus mengambil tindakan itu karena menyangkut nyawamu!”


Bella terdiam menahan sesak di dadanya. Ia benar-benar tidak percaya dengan apa yang di ucapkan suaminya. Sejenak ia memegang perutnya lalu menjerit dan menangis sejadi-jadinya sampai seisi rumah terkejut. Arya membiarkan Bella menangis agar meluap semua isi dan rasa kecewa dihatinya. ia hanya bisa merangkul agar Bella merasa sedikit tenang. Utari dan Abi bergegas menuju kamar mereka.


"Arya! Apa yang terjadi? Bella kenapa?” tanya Utari di balik pintu sambil mengetuk pintu beberapa kali.


"Arya!” Abi pun langsung membuka pintunya lalu bergegas masuk.

__ADS_1


"Astaga! Apa yang terjadi?” Utari melihat Bella sudah tidak sadarkan diri di pelukan Arya. Arya langsung membaringkan Bella.


"Kenapa, Arya!” tanya Abi.


"Aku memberitahu Bella kalau rahimnya di angkat.”


“Astaga, seharusnya jangan sekarang, Arya!” geram Abi.


Utari membantu Arya untuk menyadarkan Bella, Arya mengusap telapak tangannya dan Utari menggunakan minyak gosok yang dihirupnya dihidung Bella.


Tak lama Bella sadar dan membuka matanya. ia kembali menangis sambil menahan rasa sakit bekas operasi bagian dada dan perutnya.


“Sudah sayang, Ikhlaskan ya. Semua sudah terjadi,” ucap Utari sambil mengusap air mata Bella.


"Mama tidak tau rasanya bagaimana. Sakit sebagai seorang istri yang tidak lagi bisa memberikan keturunan suaminya. Rasanya sakit, Ma.” Bella terus menangis. Abi dan Utari tidak bisa berbuat apapun, lalu mereka berdua memutuskan untuk keluar dari kamar Arya. Arya kembali berbaring memeluk sang istri dan membiarkan Bella menangis.


Disisi lain Alex yang saat ini berada di Jepang dan beberapa hari lagi pekerjaannya selesai. Ia duduk di lantai sambil minum, minuman hangat. Memikirkan putra dan putrinya di Indonesia. Mengingat tingkah polah lucu kedua anaknya yang usianya tidak begitu jauh. Ia tersenyum tipis. Tak lama ia juga teringat Bella dan menghela nafas panjang.


"Bella, Jika kita masih bersama. Abang pasti ajak kamu jalan-jalan ke sini. Abang belum pernah mengajak kamu jalan-jalan ke luar negeri saat masih bersama Abang. Semoga sekarang kamu baik-baik saja, walau Abang tau tidak akan pernah baik-baik saja saat rahimmu di angkat. Abang hanya bisa berharap, keluarga Sanjaya bisa menerimamu setelah ini, walau kamu tidak bisa memberikan penerus untuk Arya,” batin Alex tersenyum tipis.


"Permisi, tuan!” Ronald tiba-tiba datang dengan membawa beberapa berkas pekerjaan.


"Ya, ada Apa?“


“Ini hasil presentasi kemarin. Pihak sini menyetujui kerja sama kita,” ujar Ronald.


“Bagus, terima kasih ya. Kamu sudah banyak membantu,” balas Alex menepuk pundak Ronald. Tetapi Ronald heran kenapa ekspresi wajah Alex biasa saja.


"Tuan, tapi kenapa reaksi tuan biasa saja.”


“Lalu harus seperti apa, Ronald.” Alex tertawa kecil.


“Apa harus loncat-loncat!” balas Alex lagi.


“Bukan seperti itu tuan. Minimal bahagia, semringah begitu, tuan.”


Alex tersenyum tipis lalu bangkit dari duduknya dan menuju jendela. Ia menatap ke arah luar dan melihat hiruk pikuk kota Tokyo di malam hari.


“Aku juga tidak tahu bagaimana caranya mengekpresikan seperti yang kamu maksud, Ronald. Jika masih ada seseorang yang saat ini masih merasakan sakit menghadapi kenyataan, apalagi awal mula rasa skit dan penderitaan itu adalah dari diriku!”

__ADS_1


Ronald terdiam, ia tahu maksud tuannya. Tapi ia tidak bisa memberikan saran jika sudah membicarakan mantan istri bosnya tersebut. Masalahnya saja masih begitu runyam, bagaimana cara ia memberikan solusi.


__ADS_2