
“Terima kasih ya, Bang. Sudah belikan aku perhiasan.” Bella tersenyum lebar saat mengenakan kalung berlian langsung di tokonya.
"Sama-sama, sayang. Apa yang kamu mau, pasti Abang belikan.” Alex mencium pipi Bella tidak peduli pegawai toko dan orang sekitarnya melihatnya.
"Em ... imbalannya nanti malam ya.” Bella tersenyum malu.
"Harus dong. Wajib!” keduanya tertawa sambil berpelukan.
Alex senang melihat istrinya begitu bahagia dan manja dengannya. Alex memenuhi janjinya untuk menebus semua kesalahannya yang dulu dengan cara memanjakan sang istri.
“Bang, Tapi aku pakainya kalau ada Abang saja ya. Kalau tidak ada Abang, Ibel takut mengundang banyak mata."
"Iya sayang. Lepas saja, Abang tahu maksud kamu.”
"Ya sudah, Kita pulang ya,” ucap Alex lalu melihat Anak-anaknya yang sedang berlarian di sekitar toko perhiasan.
"Sayang, Ayo pulang!” ajak Bella pada kedua Anaknya.
Alex menggendong Ara dan Bella menuntun Reyhan sedangkan Yuli mengikuti langkah suami istri yang sedang kasmaran. Mereka berdua berjalan santai saling menggenggam jemari satu sama lain. Tiba-tiba tidak sengaja mereka berpas-pasan dengan Abi bersama wanita yang mungkin seusia Bianca. Mereka berhenti dan saling pandang. Bella bertanya dalam hati siapa wanita cantik tersebut.
"Papa,” gumam Bella lalu sekilas tersenyum sopan.
"Opa!” panggil Reyhan menghampiri Abi.
"Halo jagoan!” Abi menggendong Reyhan lalu melihat Alex yang tersenyum dan keduanya saling berjabat tangan.
"Apa kabar, Om?"
"Baik, Syukurlah kalian bersama lagi. Ada yang menjaga Bella.” Abi sekilas mengusap lembut rambut Bella.
"Papa sama siapa?” tanya Bella penuh selidik.
"Oh, ini sekertaris Papa di kantor.”
__ADS_1
"Oh...!”
Sekertaris Abi tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya dan disambut Bella dan Alex.
“Saya Kalina! Sekertaris pribadi, tuan Abi.”
"Bella, Papa dan atas nama keluarga. Minta maaf ya atas kejadian di pemakaman tempo lalu.”
"Iya, Pa. Tidak apa-apa. Semoga kedepannya semua menjadi lebih baik lagi. Maaf, Pa. Kalau begitu kami permisi. Reyhan Ayo kita pulang.”
"Mau sama opa!”
"Opa lagi kerja sayang. Main sama papa di rumah saja ya.”
Dengan malas Reyhan mengangguk lalu Abi menurunkan Reyhan dari gendongannya. Reyhan menyalami Abi kemudian mereka berlalu dari hadapan Abi. Sekilas Bella menoleh kebelakang melihat Abi yang berjalan tidak biasa bersama sekertarisnya. Sebab Abi kedapatan merangkul pinggang sang sekertaris.
Alex melihat sang Istri yang sedang memperhatikan Abi dan sekertarisnya pun tersenyum.“ Keluarga mereka memang terkenal baik, ramah, sopan dan suka membantu. Tapi mereka juga manusia biasa yang banyak kekurangan dan mempunyai sisi buruk. Kalau kamu bertanya mereka mempunyai hubungan khusus atau tidak. Abang jawab, iya. Mereka mempunyai hubungan khusus di luar pekerjaan.”
Bella Melongo mendengar ucapan sang suami, Mana mungkin mantan mertuanya yang terkenal setia itu bermain Api di belakang istrinya. Arya tertawa kecil lalu berjalan kembali sambil menuntun Reyhan karena Ara di sudah di gendong baby sisternya.
"Ya ... tidak apa-apa kalau kamu tidak percaya. Bukan urusan kita juga, kan. Sangat jarang Pria setia dengan satu wanita jika sang pria mempunyai segalanya, di tambah istrinya cerewetnya melebihi batas, laki-laki juga akan bosan. Laki-laki itu butuh kenyamanan dan perlu kamu tahu Keluarga yang terlihat harmonis sampai puluhan tahun belum tentu didalamnya juga harmonis.”
“Abang nanti kayak gitu?”
Alex tertawa kecil lalu merangkul Bella." Abang sudah melakukan kesalahan, tidak mungkin Abang. mengulangi kesalahan itu lagi. Abang tidak mau menyesal kedua kalinya. Lagian istri Abang masih muda dan cantik,” puji AlexBella hanya tersenyum malu mendengar pujian Suaminya.
Mereka semua masuk kedalam mobil dan menuju rumah. Di perjalanan Bella masih berpikir tentang mantan Mertuanya tersebut, ia masih tidak percaya dengan apa yang di sang suami.
"Tapi Abang tahu darimana Papa Abi ada hubungan dengan sekertarisnya?” tanya Bella penasaran.
Alex tertawa melihat sang istri sekilas lalu fokus kembali menyetir. “ Bisnis dan pekerjaan kami sama sayang walau perusahaan Abang kecil, dan tidak sebesar perusahaan mereka, tapi Abang tahu seluk beluk sisi gelap petinggi di perusahaan om Abi, jangankan Om Abi, Om Putra, Arjuna juga sama saja, yang setia itu hanya Banyu dan Bayu dan Bianca dan para menantu keluarga Sanjaya. Sudah tidak usah di pikirkan. Bukan urusan kita.”
"Tapi kok Mama utari gak tahu, aku pikir keluarga Mas Arya sempurna tapi ada juga yang. Ah ... tahu ah gelap. Aku beruntung bisa keluar dari keluarga mereka.” Bella menggelengkan kepalanya tidak mau lagi teringat ucapan Utari. Alex tertawa kecil melihat istrinya.
__ADS_1
Disisi lain Arya masih di rumah dan belum kembali bekerja. Hari-hari ia lewati bersama kedua anaknya. Mereka bermain bersama di rumah tidur bersama bahkan Arya turun tangan sendiri untuk mengurus kedua anaknya. Baby sister hanya membantu sekedarnya.
Arya menjadi tertutup dengan siapapun termasuk keluarganya sendiri. Ia tidak menghiraukan lagi dengan apa yang di ucapkan sang Mama. Karena Mamanya sendiri, semua jadi hancur, bahkan ia hanya bersuara jika ditanya dan menjawab sekedarnya.
"Arya, Kamu sudah seminggu tidak berbicara sama Mama. Tolong jangan seperti ini.Mama tahu kamu sangat bersedih kehilangan Laura tapi....” Utari berdiri diambang pintu
“Aku tidak bersedih kehilangan Laura, Aku hanya bersedih melihat anakku kehilangan Mamanya. Aku bersedih karena aku kehilangan Bella, bukan Laura!”
“Ckk! Janda itu lagi yang kamu bahas. Masih banyak wanita seperti Bella di luar sana.”
“Iya, Masih banyak. Yang lebih baik seperti Mama juga banyak.”
Utari mengerutkan dahinya.“ Maksudmu?”
"Lupakan.” Hampir saja Arya kelepasan membicarakan Papanya sendiri yang sudah lama ada hubungan khusus dengan sekertarisnya. Arya langsung menutup pintu kamarnya m membiarkan sang Mama menggerutu di balik pintu.
Utari duduk di sofa menunggu sang suami. Baru saja mengambil ponsel di meja, Abi tiba-tiba mencium pipi Utari dari belakang.
"Kenapa merenggut?”
"Darimana saja sih, Pa. Jam berapa baru pulang?”
"Astaga! Mama ... Suami pulang itu Yo mbok di sambut senyum buatkan teh atau es teh.”
"Sama aja teh!”
"Iya teteh!” balas Abi tertawa kecil lalu duduk di samping istrinya
"Papa bahagia banget, habis ngapain. Ini bekasnya udah mandi. Mandi di mana.”
"Gusti pangeran bojoku Soyo tuwek, cerewete pol,” balas Abi sedikit kesal lalu ia bangkit dari duduknya.
”Arep ngedi?” tanya Utari melihat sang suami bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Mau ke rumah Mbah dukun, Biar bisa ganti istri yang gak cerewet.” balas Abi lalu menuju kamarnya.
"Ih ... si Papa. Sembarangan kalau ngomong. Kayak Otongnya masih tegak berdiri. Udah tua, udah lemes. Siapa yang mau jadi istri kakek-kakek kayak kamu!” teriak Utari, Abi hanya merespon dengan cara mengangkat satu bokong.