
Bella selesai mengajar, setelah itu ia berbincang dengan rekan guru lainnya di kelas sambil menilai hasil pelajaran murid-muridnya. Bella pun sambil menyusui bayinya saat menilai hasil pelajaran murid-muridnya.
“Bu Bella!” panggil salah satu rekannya yang bernama Anita.
“Ya, bu.”
“Bu Bella tidak ikut tes perekrutan guru di salah satu sekolah internasional di Jakarta. Di Mahendra international school. Disana semua guru di jamin loh, Bu. apa lagi metode ibu mengajar bagus, bahasa Inggris Ibu juga bagus. Di sana itu rata-rata sekolahnya anak-anak pengusaha, artis dan petinggi negeri ini.”
“Saya sebenarnya mau ikut sih, Bu. Tapi bagaimana dengan Reyhan. Dia masih kecil, baru 5 bulan usianya. belum bisa lepas dari asi.”
“Coba saja, Bu. Apa saya bantu. Sebenarnya kalau usia saya masih memenuhi syarat, saya sih maju Bu. Ini kesempatan loh, Bu. Siapa tahu di taksir salah satu donatur sekolah disana. Rata-rata kan pengusaha.”
"Ibu bisa saja. Status saya yang seperti ini mana ada yang suka Bu, saya memang janda tapi surat cerai tidak punya, karena mantan suami saya tidak memberikan surat itu. lagian saya tidak memikirkan hal seperti itu. Saya ingin fokus membesarkan anak saya.”
“Yah ... susah dong kalau nanti ibu ingin menikah lagi.“
“Untuk saat ini saya tidak memikirkan ingin menikah lagi, Bu. Saya ingin fokus membesarkan Reyhan. Sebisa saya!” Bella tersenyum tipis lalu melihat sang anak. Rasanya ingin sekali menangis melihat Bayinya yang tidak mendapatkan kasih sayang Papanya.
“Ya Sudah, pokonya Ibu harus ikut seleksi itu ya, biar saya daftarkan lewat leptop saya.”
“Terserah ibu saja. Saya tidak yakin bisa terpilih.”
“Di coba saja.”
Bella tersenyum tipis sambil melihat bayinya yang sudah terlelap di pangkuannya. Tak lama Bella dan yang lainnya bersiap untuk pulang.
Bella pulang selalu berjalan kaki karena tidak jauh dari rumahnya, hanya lima belas menit. Ia menggendong bayinya dan menggunakan payung untuk menghindari sengatan matahari. Sebelum sampai rumah ia berbelanja di warung untuk membeli sayur dan lauk serta buah seadanya.
__ADS_1
“Hei Adek Reyhan, Makin hari makin gemesin” seru penjual sayur gemas pada anak Bella.
“Iya, Bu. Terima kasih.” Bella kemudian membayar total belanja sayurannya.
“Terima kasih, Bu. Reyhan pulang dulu.” Bella kemudian keluar dari warung sayur dengan berbagai barang bawaannya.
Bella berjalan pelan menyusuri jalan menuju rumahnya sambil bercanda dengan sang buah hati yang sudah mulai mengerti jika di ajak berbicara. Tawa dan dan senyumnya membuat rasa rindu Bella pada mantan suami terobati. Rayhan tumbuh semakin hari semakin mirip dengan Alex. Bella pun memang tidak bisa melupakan mantan suami yang sudah memberikannya seorang anak.
Sesampainya di rumah Bella langsung masuk, karena cuaca begitu panas. Bella langsung menuju dapur.
“Akhirnya kita sampai di istana kita, Nak. Biar gak gerah kamu ganti baju dulu ya.” Bella meletakkan sayurnya di meja dapur lalu menuju kamar untuk mengganti semua bajunyavdan baju sang anak.
Bella kembali menyusui bayinya dan akhirnya mereka berdua tidur siang bersama. Bella dan sang bayi cukup lama tidur. Mungkin Bella juga lelah harus mengurus rumah dan bayinya sendirian, belum lagi urusan sekolah.
Bella bangun dan melihat bayinya yang masih tertidur pulas. Ia pun bergegas ke dapur untuk memasak. Ia memasak sayur bayam dan menggoreng ikan hanya itu lauk yang bisa ia masak dan gizi yang ia berikan untuk bayinya. Tidak ada susu tambahan untuk menyusui apa lagi vitamin seperti orang-orang kebanyakan, buah pun ia makan seadanya. Bella benar-benar menghemat uangnya sampai gajian tiba.
“Apa kabar, Mbok! Ibel rindu sama Mbok.” Bella tersenyum tipis sambil mengambil nasi dan sayur serta lauknya.
Saat hendak makan terdengar suara tangis Reyhan. Rupanya Reyhan sudah bangun. Bella bergegas menuju kamarnya.
“Sayang Ibu sudah bangun.” Bella langsung menggendong sang bayi dan mengajaknya makan di dapur. Bella duduk memangku bayinya sambil tangan kanannya makan.
Bella makan sambil menyusui bayinya, sebab jika tidak tangan Reyhan pasti ingin ikut mengambil makanan.
Belum selesai makan, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu rumahnya. Bella menyudahi makanya menggendong bayinya kemudian membuka pintu.
“Ibu. Maaf ada perlu apa ya?” tanya Bella pafa sang tamu yang kebetulan orang paling kaya di sekitar perumahan Bella.
__ADS_1
“Maaf, Nak Bella. Ini saya mau memberikan baju bekas anak saya yang dulu buat Reyhan. Tapi ini bajunya masih bagus-bagus, ada juga yang masih baru.”
Bella tersenyum lalu menerima dua paper bag dari tangan Ibu tersebut.
“Terima kasih, Bu. kebetulan baju anak saya sudah kekecilan.”
“Maaf ya, Nak bukan bermaksud menghina. tapi bajunya masih ada yang baru. Sayang kalau mau di buang, kan.”
“Iya, Bu tidak apa-apa. Terima kasih ya, Bu.”
Ibu tersebut pun langsung pamit dan langsung masuk ke dalam mobilnya. Kebetulan Ibu tersebut ingin pergi, jadi sekalian ia mampir ke rumah Bella untuk memberikan baju bekas anaknya Yang dulu.
“Wah ... Reyhan dapat baju, Nanti kita cucui ya, Nak.” Bella menidurkan bayinya di karpet dan ia melihat baju-baju tersebut danamf lebih banyak baju barunya.
Bella bahagia anaknya mendapatkan perhatian dari tetangga-tetangganya. Walau sebenarnya ia juga merasa bersalah belum bisa membelikan baju-baju baru setiap bulan untuk sang anak.
“Maafkan ibu ya, Nak. Tapi ibu janji nanti kalau gajian ibu belikan yang baru di pasar ya.” Tidak terasa air mata itu menetes melihat anaknya.
“Ayah. Dulu ayah tidak pernah membiarkan Bella menggunakan baju bekas orang lain. Tapi Bella..., Bella tidak bisa berbuat banyak yah. Tapi Bella akan terus berusaha memberikan yang terbaik untuk cucu Ayah.” Bella mengusap air matanya berusaha tegas menghadapi kenyataan yang tidak seindah mimpinya.
Bella kembali melanjutkan makan siangnya sambil memangku bayinya. Setelah selesai Bella bermain tangan Reyhan diruang depan. Kebetulan hari ini ia tidak ada bimbingan belajar. Jadi ia bisa bermain bersama sang anak.
Bella menyadari saat bermain bersama sang Anak tidak ada satu pun mainan di dekatnya. Ia justru memberikan botol bekas air minum yang sudah ia cuci dan di dalamnya ia isi kerikil agar berbunyi.
"Kamu gak punya mainan satupun ya, Nak. Bagaimana sore nanti kita jalan-jalan ke pasar malam. Nanti beli mobil-mobilan ya."
Bella meraih sang anak dan mengangkatnya di udara. Reyhan tertawa lebar membuat hati Bella begitu bahagia. Tawa sang anaklah yang bisa menjadi pelipur lara.
__ADS_1