DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 72 HIDUP ITU PILIHAN


__ADS_3

“Mama!” teriak Ara yang melihat Bella datang bersama Reyhan sambil melambaikan tangan ke arah Bella.


"Papa!” seru Reyhan yang juga memanggil Alex.


Alex dan Bella tersenyum saling menghampiri satu sama lain bersama anak mereka. Narti juga tersenyum melihat kekompakan dua manusia yang sudah berpisah, hanya demi sang buah hati.


"Kak leyhan!” sapa Ara dengan suara cadelnya lalu anak kecil itu saling berpelukan.


"Ibel,” sapa Alex mengulurkan tangannya. Bella juga menyambut hangat uluran tangan Alex.


“Abang, Bagaimana kabarnya?”


“Baik, Kamu?” tanya Alex. Bella hanya tersenyum tipis.


“Yah, beginilah.”


Alex tersenyum lalu melihat sang anak kemudian menggendongnya. “ Halo jagoan Papa. Maaf ya, ulang tahun kemarin Papa gak bisa datang. Adek Ara lagi kurang sehat dan Papa juga banyak kerjaan,” ucap Alex.


"Iya, Pa. Tidak apa-apa. Reyhan sudah menerima kado kiriman dari Papa. Terima kasih ya.”


"Anak pintar! Tos dulu dong!”


“Permisi tuan Tikarnya sudah di siapkan” ucap Narti yang sudah menyiapkan tempat untuk semuanya di bantu bodyguardnya.


"Iya, terima kasih ya."


"Mama, gendong!” Ara menarik tangan Bella.


"Sini sayang!” Bella menggendong Ara.


"Ara sudah makan?” tanya Bella.


"Sudah, Ma. Sama Papa.”


"Tapi Mama bawa puding kesukaan Ara, Mau?”


"Mau!”

__ADS_1


Bella tersenyum lalu mencium pipi Ara. “ Ya sudah, kita duduk dulu ya. Ayo Bang!” ajak Bella kemudian mereka semua duduk di tikar yang sudah di siapkan.


"Wah ... Mama Bawa apa saja Sayang , Banyak sekali!” ujar Alex pada Reyhan.


"Bawa buat adej sama Papa,” Jawab Reyhan turun dari gendongan Alex lalu duduk di samping Ara yang sudah duduk lebih dulu bersama Narti.


Alex melihat Bella dan tersenyum. Bella tidak pernah melupakan makanan kesukaannya, juga kesukaan Ara.


Mereka duduk berhadapan dengan pikirannya masing-masing. Reyhan begitu asyiknya memakan puding bersama Ara, sang adik .


"Bang, ini jus jeruk kesukaan Abang! Ini puding pandan juga kesukaan Abang dan Reyhan.” Bella memberikan jusnya yang ia taruh di gelas khusus serta puding di tempat khusus.


“Kamu tidak pernah lupa makanan kesukaan Abang.”


"Bagaimana aku lupa kalau anak Abang juga sama saja seperti Papanya.”


Alex hanya tersenyum lalu memakan pudingnya sambil melihat putra dan putrinya. Sesekali melihat Bella yang terlihat sedikit kurus. Ia juga tahu jika Arya kemarin hendak menikah dengan wanita pilihan mertuanya, Semua bisa ia tahu informasi dari Narti, baby sitter putranya. Apa bila itu terjadi, ia akan mengambil Bella kembali.


"Abang, kenapa sudah hampir tiga tahun belum menikah lagi?” tanya Bella.


"Abang menunggu seseorang, entah sampai kapan Abang menunggunya.”


"Seseorang yang sudah membuat Abang sadar,” balas Alex lalu tersenyum, Bella juga hanya tersenyum, tetapi ia juga penasaran siapa orang yang sudah membuat mantan suaminya itu sadar. Padahal yang di maksud Alex adalah dirinya.


“Yakin Abang tahan?”


Alex btertawa kecil lalu melihat Bella sekilas yang sedari tadi memperhatikannya. “Tahan apa?” tanya Alex pura-pura tidak tahu apa yang di maksud Bella.


“Abang selalu pura-pura gak tau.”


“Abang, semenjak Mbak Anna meninggal, Abang lebih sering puasa dan menyibukkan diri.”


Bella menghela nafas dan membuang pandangannya melihat Ara dan Reyhan. Batinnya juga masih penasaran siapa yang di tunggu Alex, kenapa sampai bisa membuat Alex menunggu.


"Oh Iya, Ada sesuatu yang akan Abang berikan pada Reyhan dan juga untukmu!” ujar Alex tiba-tiba lalu meletakkan cup pudingnya. Bella melihat Alex sedang mengambil sesuatu di tas ranselnya.


"Ini!” ujar Alex menyodorkan map berisikan surat tanah dan bangunan.

__ADS_1


“Ini apa Bang?” tanya Bella sambil melihat isi mapnya.


“Ini, kan surat rumah dan tanah yang aku jual.” Bella melihat Alex.


"Iya, Abang yang membelinya. Sawah


, Rumah dan bangunan rumah. Rumahnya sudah Abang renovasi, tapi tidak merubah setiap sudut yang sudah menjadi kenanganmu bersama Ayah. Maaf , Abang hanya bisa memberikan itu pada Anak kita. Perusahaan Abang sedang goyah. Keluarga Anna menuntut banyak hal karena memang saham terbesar perusahaan Abang adalah keluarga Anna. Rumah, aset atas nama Anna juga semua sudah di ambil omnya Anna. Jika Abang masih ingin menjadi pemimpin perusahaan Abang harus menikahi Mona. Perusahaan juga saat ini sudah di akusisi oleh om nirwan. Saham Abang di kembalikan.”


“Lalu Abang dan Ara bagaimana? Bukankah Ada hak Ara? Kenapa Abang tidak menuntut? Lalu Abang tinggal di mana?”


Bella begitu prihatin dengan kondisi Alex saat ini. Pasti mantan suaminya itu sangat kecewa dengan Om dari Anna.


Alex menghela nafas panjang sebelum menjawab pertanyaan Bella.“ Abang dan Ara baik-baik saja. Memang benar, ada hak Ara disana. Tetapi Abang tidak mau ribut hanya karena harta dunia. Abang tinggal di rumah kita dulu. bersama, nenek. Karena rumah Nenek juga di jual untuk membangun usaha Abang yang baru.”


"Ibel ikut prihatin ya, Bang. Ibel tidak tahu Abang sedang terpuruk.“ Tidak terasa air mata Bella menetes.


"Tidak apa-apa, Abang dan Ara serta nenek masih baik-baik saja. Kamu juga tidak perlu khawatir, Abang akan terus mengusahakan untuk Reyhan dan Ara. Abang juga mau lihat bagaimana Om Nirwan tanpa Abang di perusahaan.”


"Bang, Jika di rasa berat di kurangi juga tidak apa-apa. Reyhan masih ada aku. Pasti Abang lebih membutuhkan untuk saat ini. Nanti jika sudah stabil, Abang bisa memberikan untuk Reyhan seperti biasa.”


Alex memegang lengan Bella lalu tersenyum." Tidak apa-apa. Abang masih sanggup.”


"Bang....”


"Doakan saja, Semua urusan Abang lancar. Demi anak-anak.” Alex reflek mengusap air mata Bella lalu tersenyum.


"Sudah tidak apa-apa. Sekarang yang terpenting Ibu dari anak Abang sehat. selalu bahagia dengan suaminya. Dan harus tetap sabar menjalani semua cobaan. Sudah Abang mau main dulu sama anak-anak.” Alex bangkit dari duduknya berlari kecil ikut bermain bersama kedua anaknya.


Narti yang sedari tadi memperhatikan Bella tersenyum tipis lalu menghampiri sang Nyonya sambil memberikannya air minum.


"Nyonya, minum dulu.”


"Iya, terima kasih.”


“Memang cinta pertama itu sulit di lupakan, Nyonya. Saya lihat Nyonya masih perhatian dengan tuan Alex begitu sebaliknya. Sakit memang jika dua manusia masih saling mencintai tapi harus berpisah dengan keadaan. Apalagi posisi Nyonya juga serba salah. Salah jika bertahan dengan tuan Arya, pasti Nyonya Utari akan mencari celah untuk menghadirkan seseorang lagi agar Putranya itu memiliki keturunan. Yang kedua, Nyonya juga tidak bisa meninggalkan tuan Arya karena tuan Arya sangat mencintai Nyonya. Dan Hati Nyonya pasti sakit, bertahan sakit, melepaskan juga sakit.”


"Lalu aku harus bagaimana, Narti? Tetap bertahan, tapi aku harus menghadapi mertuaku. Atau melepaskan tapi aku tidak tega dengan Mas Arya?”

__ADS_1


Narti tersenyum lalu melihat Alex dan Ara serta Reyhan. “ Hidup itu pilihan Nyonya, ikuti kata hati untuk memilihnya.”


__ADS_2