DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 66 AKU HANYA BEBAN


__ADS_3

Beberapa Bulan berlalu.


Bella menjadi pendiam, hanya saat di depan sang anak, suami dan saat mengajar ia ceria dan berusaha ceria karena tuntutan profesional. Bella menjadi pendiam karena banyak sesama guru yang membicarakan dirinya yang tidak bisa lagi memberikan keturunan cucu kebanggaan keluarga Sanjaya, bahkan ada mengatakan lebih baik di cerikan saja wanita yang tidak bisa memberikan keturunan. Namun Bella pura-pura tidak mengetahui jika rekan kerjanya membicarakan dirinya seperti itu.


Yang membuat hatinya bertambah sakit saat para cucu menantu membicarakan dirinya. Membicarakan kurang lebih sama dengan rekan kerjanya. Saat itulah Bella berubah semakin pendiam saat berkumpul dengan keluarga suaminya. Ia hanya bisa diam-diam menangis.


Seperti saat ini ia tidak sengaja mendengar percakapan Wilona, istri dari adik sang suami dengan istri Bima, anak pertama dari Putra.


"Ngapain sih si Arya masih bertahan sama si mantan janda kampungan itu. Gak salah pungut apa si Arya. Istri orang kampung, pendidikannya juga di bawah kita, eh ... sekarang gak bisa kasih keturunan si Arya. Hai.... itu harta si Arya mau di wariskan kemana? Sama anak dia. Ih ... enak amat hidup anaknya!" ujar Istri Bima pada Wilona di salah satu sudut rumah Bram.


“Enaklah. Belum lagi dapat tunjangan tiap bulan dari Papa kandungnya. Walau gak banyak sih cuma 30 juta sebulan. Tapi kan gak di pakai sama anaknya. Semua masih di tanggung sama Kak Arya!” timpal Willona yang notabene adalah iparnya, istri dari Tara, adik dari Arya.


“Enak banget hidupnya. Kalau aku jadi dia, Will. Udah minta pisah aja deh. Malu dong gak bisa kasih anak. Arya kan ganteng, kaya. sayang banget bisa jatuh cinta sama janda kampung. Padahal mantannya di London cantik, kaya juga, dokter lagi.”


"Gak tau itu, Kak Arya. Entah apa yang di lihat dari Bella. Mukanya juga pas-pasan,” balas istri Bima dan keduanya tertawa.


Bella menangis tanpa suara. ia pun langsung naik ke lantai atas sambil menyeka air matanya. Takut ada yang melihat dirinya menangis.


"Sayang, sini gabung!” panggil Arya saat melihat Bella naik ke tangga.


“Nanti, Mas. Ini mau lihat Reyhan dulu, takut kebangun gak ada orang.”


“Oh, ya sudah.”


Bella sedikit lari naik ke atas karena sudah tidak tahan menahan sesak di dadanya. Sesampainya di kamar ia menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Ia terduduk di balik pintu sambil meringkuk.


"Ayah, kenapa jalan hidup Bella sesakit ini yah. Kemana lagi Bella mengadu Yah ... Bella udah gak sanggup, Yah. Bella ikut Ayah aja!” Hati Bella benar-benar sakit mengingat ucapan kedua istri iparnya itu. Rupanya mereka hanya perduli di depannya saja di belakangnya ucapannya begitu sakit.

__ADS_1


Bella lalu melihat sang anak yang masih tertidur di atas tempat tidur. Bella bangkit dan menghampiri sang Anak. Ia usap lembut pipi dan rambutnya dan masih menangis.


“Hanya kamu yang benar-benar sayang sama, Ibu. Nak! Hanya kamu!” Bella berbaring di samping Reyhan.


Sedangkan di bawah Tasya begitu murka setelah mendengar ucapan Willona dan Istri Bima. Rupanya Tasya juga mendengar ucapan mereka berdua.


Tasya menarik kedua iparnya itu di depan semua keluarganya. Hatinya juga ikut sakit membayangkan menjadi Bella.


“Lepas, Sya! Apa-apaan sih kamu!” Seru istri Bima. Tasya dengan sekuat tenaga menampar keduanya.


“Tasya!!” teriak Arya dan Bima serta Tara


"Apa-apaan kamu. Kenapa kamu menampar kedua kakak Iparmu!” tabya Bima tidak terima istrinya di tampar.


“Tanya saja sama istri tercinta kalian ini! Apa yang saja ia bicarakan tentang Bella di belakang tadi, sampai Bella menangis dan aku pun ikut menangis mendengarnya. Kalian berdua perempuan,kan? kenapa tidak ada rasa simpati sedikit pun, hah! Kalian justru membicarakan kekurangannya karena sudah tidak bisa memberikan Kak Arya anak. Seolah untuk menyuruhnya pergi dari kehidupan kak Arya. Kalian punya hati tidak! Dengar ya! Anak itu hanya titipan, dan kamu juga lagi hamil kan? Bisa saja bayi kamu itu di ambil lagi sama yang kuasa!”


"Willona!! Jaga ucapanmu!” teriak Arya yang tidak terima dengan mengatakan Tasya Perawan tua.


"Jaga ucapanmu!” geram Arya merangkul Tasya yang sudah meneteskan air mata.


"Iya, aku memang perawan tua. Kenapa? Masalah? Walau aku sampai sekarang belum menikah, setidaknya aku tidak menjadi beban keluargaku. Aku bisa menghidupi diriku, Walau aku tahu aku hanyalah karyawan biasa di perusahaan Papaku sendiri. Lalu, apa beras di rumahmu berkurang! Apa pernah aku meminta ini itu darimu, wahai wanita yang mengaku dirinya berpendidikan tinggi dari Bella. Begitu wanita berpendidikan, Menghina sesama wanita. Bella tidak pernah menjelek-jelekkan kalian atau orang lain dan kalain? kalian berdua Menjijikan.” Tasya kemudian naik ke atas di susul Arya.


"Bima, Tara! Didik ucapan istri kalian supaya lebih baik saat berucap!” Ujar Bram tiba-tiba. Kemudian ia bangkit dan mendorong kursi roda sang istri masuk ke kamar. Bram tahu Bagaimana Bella, Pasti hatinya begitu sakit.


“Ayo pulang! kalian bikin malu di depan Opa dan Oma!” seru Tara menarik Wilona.


"Jangan di tarik Tara!” terik Utari saat melihat Tara menarik Willona yang sedang hamil.

__ADS_1


"Bela saja terus, Ma!” balas Tara yang tidak ingin di campuri masalah rumah tangganya.


"Sudah! Cukup! Tara kalian pulang. Papa pusing liat kalian semuanya.” Abi pun kemudian menuju teras samping rumah sedangkan Tara dan Bima pulang dengan istri masing-masing.


Sementara itu Tasya di kamarnya menangis sedangkan Arya menyusul sang istri yang juga masih menangis di samping putranya.


“Sayang....," ucap lemut Arya sambil mengusap lengan Bella.


"Mas,” balas Bella sambil mengusap air matanya lalu tersenyum. Bella bangkit dan duduk menghadap Arya.


"Maaf, Kelilipan.” Bella berusaha menyembunyikan semuanya. Arya memandangi Bella yang berusia menghapus air matanya.


"Katakan, apa yang di ucapkan Willona dan Melisa tentangmu di bawah tadi?” tanya Arya.


"Hah? Gak ada! Cuma bilang, katanya mereka pengen ketemu Reyhan. Tapi aku bilang, Reyhannya masih tidur.”


Arya memandangi detail wajah Bella. Wajah lugu dan penuh menyimpan kesedihan dan kesakitan. Arya tersenyum mempunyai istri yang tidak pernah menjelekan keburukan orang lain dan selalu santun dalam berucap.


“Oh ,iya Mas! Besok aku mau ke makam anak kita, boleh?”


"Boleh sayang! Besok Mas antar ya." Arya kemudian memeluk Bella.


"Maafkan, Mas ya. Belum bisa jadi Suami yang baik.”


"Apaan sih, Mas! Justru aku yang minta maaf sama, Mas. Aku udah gak bisa kasih anak. Mungkin aku dan Reyhan hanya beban untuk Mas Arya. Aku yang minta maaf. Aku tidak sempurna. Aku hanya wanita kampung.”


“Bella!” Arya semakin berat memeluk istrinya. Arya tidak sanggup lagi harus mengatakan apa.

__ADS_1


__ADS_2