DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 43 WAKTU YANG MENJAWAB


__ADS_3

“Ini kamu makan, biar saya yang suapin Reyhan,” ujar Arya mengambil Reyhan dari pangkuan Bella.


"Tapi, tuan. Maaf nanti ngeroptin!”


"Saya tidak merasa di repotkan! Sudah Makan. Kamu juga makan ya. Om suapin.”


Bella memandangi Arya yang mulai menyuapi anaknya. Ia masih tanda tanya dengan pria di sampingnya itu. Kenapa baru kenal sudah begitu baik? Apa ada maksud tertentu? pikirannya.


“Enak? Masakannya Om, enak ya. lahap makannya!” ujar Arya pada Reyhan. ia begitu gemas melihat betapa lucunya bocah yg ia pangku.


“Tuan, tuan bisa membuat makanan tambahan untuk bayi belajar dari mana.”


“Dari sepupu. Anak sepupu saya, kan banyak, kadang kalau lagi ngumpul, saya suka lihat adik-adik sepupu saya masak buat bayi-bayinya. seperti anaknya Amara, istri Johan, anaknya Damian, Cucunya Tante putri, sama Kalau lihat Tante Bianca membuat untuk cucunya.”


“Saya pikir, tuan memang suka membuat untuk anak tuan sendiri?”


“Saya belum menikah. Kalau saya sudah menikah, mana mungkin saya bersama kamu dan anak kamu. Mending saya sama istri saya, kan?”


Bella tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya. Arya tersenyum melihat Bella. Memang ada rasa tak biasa saat di samping Bella. Rasa yang berbeda, enatah kenapa itu muncul begitu saja.


“Kamu kenapa belum menikah lagi?” tanya Arya membaut Bella tersedak.


“Aduh! maaf. Minum dulu!” Arya memberikan Bella minum.


“Saya masih takut menjalin hubungan dengan pria lain. Saya takut pria itu mencampakkan saya lagi. Dan lagi kalau menikah pasti akan banyak kendala, karena saya tidak mempunyai surat cerai. Mantan suami saya tidak memberikan saya surat itu.”


“Memangnya kamu tidak datang ke pengadilan agama?”


“Bagaimana saya mau datang. Beliau tidak memberi kabar jika saya sudah di gugat cerai dan posisi saya juga baru saja melahirkan.” Bella sudah mulai berkaca-kaca mengingat perjuangannya sendiri pulang dari rumah sakit dan harus mengurus bayinya sendirian tanpa bantuan siapapun.


“Beliau hanya menyuruh orang untuk memberitahu saya, jika saya sudah bukan istrinya. Saat itu hati saya hancur. Saya di campakkan begitu saja. Terlebih dia menuduh saya selingkuh dengan dokter Wahyu. Karena saat saya lari dari rumah, dokter Wahyu yang menolong dan membantu saya bersembunyi dari Mantan suami saya. Dan lebih sakitnya lagi. Reyhan tidak di akui sebagai anaknya. Dia menuduh anak ini adalah anak dokter Wahyu. Saya akui saya salah sudah lari saat masih menjadi istrinya. Tapi saya juga ingin melihat seberapa peduli beliau pada saya!” Bella mulai menangis tanpa sadar meluapkan isi hatinya yang selama ini ia pendam.


“Kenapa suami kamu bisa mengatakan kalau Reyhan anak dokter Wahyu?”


"Saya tidak tahu. Mungkin suami saya dulu berpikir. karena saya dan suami progam hamil dan saya sering datang sendiri ke rumah sakit, konsultasi dengan dokter Wahyu dan terkadang saya di antar pulang sama beliau kalau sopir saya kadang berhalangan mengantarkan saya. Mungkin suami saya, berfikir saya tidur dengan dokter Wahyu.”


“Astaga! Dokter Wahyu, eum ... sepertinya namanya tidak asing. Apa beliau praktek di rumah sakit Mila hospital?”


“Iya.”


“Ok baiklah, aku tahu dia. Aku tahu perasaan kamu. Sabar ya!” Arya mengusap air mata Bella dan masih memangku Arya.


“Papa. Mamam!” Reyhan menarik tangan Arya meminta di suapi.

__ADS_1


“Oh, iya sayang. Mam.” Arya menyuapi Reyhan lagi.


Bella mengambil tisu dan mengusap sisa air matanya lalu tersenyum melihat Aryan begitu dekat dengan Reyhan padahal baru saja bertemu.


Bella selesai makan begitu juga Reyhan. Bella tersenyum melihat Reyhan tersenyum lebar ke arah Arya.


“Sayang, ikut Ibu ya. Biar gantian Om makan.” Bella mencoba mengambil Reyhan dari pangkuan Arya, namun Reyhan tidak mau.


"Tidak apa-apa. Saya bisa makan sambil jaga anak. Dan kami diam ya. Om makan dulu. Ok bro! Toss!” Arya mengajak Reyhan toa.


“Pinter!”


Arya mulai makan dan Bella hanya memandangi mereka. Sungguh pemandangan yang sangat ia impikan. Melihat anaknya dekat dengan Papanya. Tetapi itu hanya bayangannya saja.


Arya makan sambil bercanda dengan Reyhan. tiba-tiba Tasya datang menghampiri mereka.


"Mangan ora di ajak. Aku goleki neng Apartemen!” Celetuk Tasya yang langsung duduk di sebrang meja.


“Lah aku kan wes ngomong tah. Aku neng restoran!“ jawab Arya.


"Halo, Mbak! Hai adik kecil!” sapa Tasya pada Bella. Bella hanya tersenyum sopan bercampur malu dan canggung.


“Kapan kue ngomong.”


"Di teliki hapemu!”


"He, maaf. Gak buka hape!”


“Woh ... Dasar!”


"Hai adik kecil. Ikut Tante yuk!” Tasya mengulurkan tangannya dan Reyhan langsung mau ikut dengan Tasya.


"Bocah kok geleman di ajak wong liyo. Di culik gampang iki tah?”


"Jangan dong, Mbak! masak di culik, bisa gila saya!” saut Bella.


"Loh Mbaknya tahu bahasa kita?”


“Saya juga dari Surabaya, Mbak!”


"Oh alah ... pantes!! Cucu baginda raja Bram Sanjaya nguber-nguber!” gumam Tasya di akhir kalimatnya dan hanya dia yang mendengar ucapannya sendiri.


"Pantas apa, Mbak?” tanya Bella.

__ADS_1


"Itu pantes tau bahasa kita.” balas Tasya sambil melihat tatapan tajam sang kakak.


"Ya sudah, saya ajak anaknya main di sekitar sini ya! Tenang aman. Kalian berdua nikmati berduaan.”


“Tapi, Mbak!” Bella merasa khawatir Reyhan di ajak orang yang baru saja di kenal.


"Tidak apa-apa. Ada dua bodyguard yang jaga Tasya dan anak Kamu,” sambung Arya.


“Bodyguard?” tanya Bella heran.


“Iya, Karena di keluarga besar kami hanya dia yg belum menikah di usia 30 tahun. Opa dan Oma serta orang tuaku sangat menjaganya. Karena dia juga kadang ceroboh. Makanya ada dua bodyguard yang jagain. Biar ada mengingatkan dia.”


“Oh begitu. Tapi aman kan tuan, Anak saya.” Bella masih ragu dengan tasya. Arya meraih tangan Bella dan tersenyum.


“Saya jamin Aman.”


“Bella terus melihat anaknya dari kejauhan. Terlihat Tasya mengajaknya bermain di gerai-gerai lain dan bercanda dengan pemilik gerai lainnya.


Arya tersenyum dan terus menggenggam tangan Bella. Bella juga tidak sadar jika tangannya di genggam, karena matanya fokus melihat Reyhan


“Bella!” panggil Arya. Arya melepaskan tangannya.


"Iya, tuan?”


“ Jangan panggil saya tuan. Panggil saja, Mas. Saya kan bukan tuan kamu!”


“Tapi?”


“Bella...!”


“Baik, tuan, Eh. Eum .... Mas!” Bella tersenyum canggung.


“Bella, Aku tau kamu masih trauma dengan pernikahan. Tapi kamu masih membuka hati kan untuk siapa pun nanti yang mau dekat dengan kamu?”


“Aku tidak tahu, Mas. Dengan siapa aku harus membuka hati. Bagiku pengalaman kemarin begitu menyakitkan. Tapi aku juga tidak ingin berlarut-larut menangis dan bersedih. Biar waktu yang menjawab siapa nanti yang akan mengisi dan menyembuhkan luka di hatiku. Bagiku saat ini adalah Reyhan. Aku hidup karena Reyhan, sebab hanya dia yang aku miliki.”


“Kalau aku yg datang ke hatimu? Apa kamu membuka pintu hatimu?


“Maksud, Mas?”


“Aku suka sama kamu!” Arya meraih jemari tangan Bella lalu mencium punggung tangannya dengan mesra. Bella masih speechless dengan pernyataan Arya yang tiba-tiba.


“Buka hatimu untukku! Aku tahu kita baru dua kali bertemu tapi pertama kali aku melihatmu. aku jatuh hati tanpa tau statusmu. Bagiku status itu tidak penting. Berhubung kamu saat ini sendiri. Izinkan aku mencintaimu!”

__ADS_1


Bella masih terdiam, ia bingung harus menjawab apa. Ia sendiri juga tidak ada getaran cinta untuk Arya. apalagi baru mengenal Arya.


"Biarkan waktu yang menjawab, Mas!”


__ADS_2