
“Bella, apa maksud kamu mengatakan kamu jatuh cinta padaku. Dan apa maksud kamu berbicara seperti itu.”
“Maafkan saya, dok. Saya hanya berharap Abang tidak mempercayai itu. Saya akui saya yang salah. Tapi ini sudah keputusan saya. Maafkan saya, dok.”
“Bella ... kau tahu, kau sudah menghancurkan persahabatanku dengan Alex.”
“Maaf, dok. Kalau dokter kecewa dan juga ingin pergi. Tidak apa-apa. Saya hanya bisa berterima kasih pada dokter. Untuk saat ini saya belum bisa membalas kebaikan dokter. Semoga Tuhan yang membalas kebaikan dokter dengan berlipat- lipat kebaikan dan kebahagiaan.”
"Saya tidak tahu jalan pikiranmu, Bella!” Wahyu kemudian pergi meninggalkan Bella dan bayinya sendiri. Wahyu memutuskan meninggalkan kota Bogor dan berharap Alex berubah pikiran dan tidak lagi si luputi emosi.
Bella hanya bisa menangis sambil mendekap bayinya. Semua orang sudah pergi darinya. Kini ia benar-benar tidak mempunyai siapapun selain Bayinya.
“Maafkan Ibu ya, Nak. Nanti kita pulang kampung saja ya, Nak. Hidup berdua di sana, tapi apa kata tetangga. Pasti tetangga sudah tahu semua tentang hidupku.”
“Maaf, Nyonya. Nyonya makan dulu ya. Mari bayinya saya gendong dulu," ujar suster tiba-tiba datang membawa makanan dan minuman.
“Terima kasih, sus.” Bella tersenyum tipis sambil menerima piring dari tangan suster, lalu membiarkan suster mengambil bayinya untuk di letakkan di boks bayi.
“Nyonya, apa Nyonya tidak mempunyai kerabat lagi untuk menjaga Nyonya di sini?” tanya suster.
“Tidak, sus. Saya tidak mempunyai siapapun. Saya hanya mempunyai bayi saya. Ayah dan ibu saya sudah meninggal. Saya pendatang disini, Sus.”
“Sabar Nyonya.”
__ADS_1
Bella mengangguk pelan dan melanjutkan makannya. Ia juga sebenarnya sangat lapar. haus dan lelah, terutama hatinya.
Setelah 3 hari di rumah sakit, Akhirnya Bella pulang ke apartemen milik Wahyu. Dan selama 3 hari itu Baik Alex maupun Wahyu serta keluarga Alex pun tidak ada yang menjenguk lagi.
Saat masuk ke apartemen. Bella kemudian ke kamar. Ia meletakkan bayinya di atas tempat tidur.
“Nanti kita cari tempat tinggal lain ya, Nak. Sepertinya dokter Wahyu sudah tidak mengizinkan kita tinggal di sini lagi. Memang kita harus pergi, Nak.”
Bella menghela nafas panjang. Dua hari terakhir ini ia berusaha menghubungi Wahyu, Namun Wahyu tidak pernah mengangkat panggilan darinya. Bella membuka laci dan mendapati secarik kertas di dalamnya. Ia pun membaca pesan tersebut yang ternyata dari Wahyu.
Bella ... maafkan saya. saya tidak bisa lagi menjagamu. Kau masih istri seseorang. Saya tidak ingin memperkeruh suasana. Kau boleh tinggal di apartemen selama kau mau.”
Bella melipat kertas itu lagi dan meletakkannya di meja nakas. Ia tersenyum tipis mengingat jalan hidupnya sendiri.
Bella tersenyum pada bayinya yang masih tertidur lelap di atas tempat tidur. Tak lama ia pun tertidur di samping anaknya.
Setelah satu jam tidur, Bella terbangun karena mendengar bayinya menangis. Bella lalu mengambil bayinya dan memberikannya asi.
“Haus ya, Nak. Minum sayang,” ujarnya sambil melihat bayinya menyusu, tangan Bella pun membuka kain bedong bayinya untuk melihat popoknya perlu di ganti atau tidak.
Merasa bayinya sudah kenyang dan kembali tidur. Bella membuka popok dan menggantinya. Ia sedikit kesusahan saat ingin membedong bayinya, karena ia masih canggung mengurus anaknya sendiri. Akhirnya ia tidak membedong anaknya hanya menyelimuti saja. setelah itu ia ke kamar mandi untuk menganti baju dan membawa cuciannya ketempat mencuci. Ia mencuci baju kotornya dari rumah sakit.
Selesai mencuci Bella melihat lemari pendingin, rupanya banyak stok sayur dan buah. Mungkin Wahyu yang membelikannya sebelum kembali ke Jakarta. Ia pun memakan buah apel sambil memasak seadanya.
__ADS_1
Di tengah memasak ia menangis, merasakan kesepian dan sendirian. Tidak ada lagi yang peduli lagi dengannya di tambah sekarang semua orang tahu dirinya siapa, yaitu wanita penyebab Iren bercerai dan semua berita di sosial media sudah tersebar. Mungkin salah satua tenaga medis atau orang yang saat di rumah sakit sudah merekam dirinya dan Alex saat bertengkar di rumah sakit.
“Ayah, Kenapa dulu ayah menyerahkan Ibel sama Abang. Nyatanya Ibel tetap sendiri. Rasanya berat Ibel harus melaluinya sendiri, Yah. Tidak, aku harus kuat. Ada anak yang harus aku rawat dan membesarkannya.” Bella menghapus air matanya tetapi tetap air mata itu terus mengalir tanpa bisa berhenti.
Ia tidak ada lagi tempat bersandar dan berkeluh lagi. Harus dengan siapa ia bersandar. Bersandar dengan Tuhannya itu sudah pasti. Namun ia ingin di peluk seseorang untuk menguatkan hati dan perasaannya.
Disisi lain Alex duduk santai dan merenung dengan apa yang sudah terjadi tiga hari yang lalu di tambah berita tentang dirinya dan Bella semakin panas dan melibatkan Wahyu, sahabatnya.
“Mas, Jadi Mas beneran menceraikan Bella di depan banyak orang?” tanya Anna pada Alex yang duduk di sofa kamarnya.
“Hm! balas Alex darar tanpa ada rasa penyesalan.
“Mas....”
“Bagiku seorang istri yang sudah pergi dari ruamh dengan laki-laki lain, Dia bukan lagi istri yang baik. Apalagi pergi dalam waktu lama.”
“Iya, Mas ... tapi bisa saja apa yang di ucapkan Bella itu tidak benar. Anak itu pasti anak kamu.”
“ANAK ITU BUKAN ANAKKU!!” suara lantang Alex menggema di kamarnya. Anna terdiam dan tidak berani lagi menjawab saat sang suami sedang marah.
“Dan kamu jang pernah mencoba menemui Bella atau menyuruh orang untuk mengawasi dan menemuinya. Aku rasa uang yang selama ini aku kirim sudah cukup untuk bekal hidupnya. Apalagi sekarang ada Wahyu si brengsek itu bersamanya dan kamu juga jangan menemui Wahyu untuk menanyakan hal ini. Semua sudah jelas di depan mataku dan logikaku.”
Anna diam tidak berani lagi mengutarakan pendapatnya, dan inilah yang Alex suka dari Anna. Ia tidak pernah membantah bdan selalu menurut apa kata sang suami. Bagi Anna memang pantang untuk membantah dan ia juga tidak ingin Harga diri sang suami jatuh di depan orang banyak dan ia juga tidak mau menjadi suaminya malu.
__ADS_1