
Dihari pemakaman Laura, Bella hanya bisa melihat proses pemakaman dari jauh. Ia tidak berani mendekat, sebab tidak ingin terjadi kegaduhan apa bila Utari melihatnya.
"Mas Arya, maafkan aku. Aku tidak bisa menemuimu dan hadir di pemakaman Mbak Laura. Aku hanya bisa mendoakan Mbak Laura semoga di ampuni segala dosanya. Semoga engkau tabah menghadapi semuanya.” Bella mengusap air matanya lalu ia pergi dari tempat persembunyiannya.
Bella tidak langsung pulang ia singgah ke makam sang anak yang tidak jauh dari makam Laura, ia singgah hanya sebentar lalu ia pergi. Sebelum melangkah jauh tiba-tiba tangannya di tarik seseorang dan orang tersebut menampar Bella.
"Mama,” desis Bella melihat orang yang menamparnya. Siapa lagi kalau bukan Utari.
“Untuk apa kamu datang kesini? Kamu mengawasi kami dari kejauhan dan tertawa. Ini semua gara-gara kamu!” Sekali lagi Utari menampar pipi Bella.
"Astaga Mama! Salah saya apa. Saya datang kemari memang ingin melihat pemakaman Mbak Laura dan turut bela sungkawa. Tapi saya urungkan niat saya, karena saya tahu pasti Mama tidak suka jika melihat saya. Akhirnya saya memutuskan untuk kemakam anak Saya, cucu Mama.”
"Jangan panggil aku Mama ya. Aku bukan mertua kamu lagi! Kenapa kamu datang kemari,
Kamu ingin menggoda Arya lagi, Iya!” Utara hendak menarik kerudung Bella, namun di cegah Arya
"Mama, cukup!” teriak Arya yang datang bersama Abi. Mereka datang karena melihat keributan dari kejauhan dan rupanya sang Mama biang keributan.
"Mama, apa-apaan sih. Ini tempat pemakaman.”
"Mama tahu. Tapi Mama ingin memberi pelajaran pada janda gatel sepertinya. Pasti dia berharap kamu kembali padanya. Mama tidak sudi mempunyai menantu yang tidak bisa memberikan anak padamu.”
"Cukup, Ma!” teriak Abi mengangkat tangannya hendak menampar Utari, Namun ia masih bisa menahan tangannya.
"Pulang!”
"Papa, Papa mau menampar aku hanya karena dia? Papa suka sama dia. Apa janda ini yang papa, Maksud kemarin?”
"Pulang!” teriak Abi lalu menarik lengan Utari.
Bella menangis, ia tidak menyangka niat baiknya ingin melayat justru membuat keributan. Mungkin lebih baik ia tidak hadir dan menjauh dari keluarga mantan suaminya. Sekilas Bella melihat Arya, lalu menunduk sambil memegang pipinya karena pipinya mungkin saat ini memerah akibat tamparan Utari.
"Maaf, Mas. Aku ... aku pulang. Maaf sudah membuat keributan.” Bella beranjak pergi, Namun tangannya ditahan Arya.
Arya melihat pipi Bella yang memerah akibat tampar sang Mama. Arya hendak mengusap pipi dari orang yang masih sangat ia cintai, Namun Bella cepat-cepat menepisnya.
"Maaf, Mas. Kita sudah tidak mempunyai hubungan apapun. Maaf aku harus segera pulang, anakku sudah menunggu.” Bella mencoba melepaskan tangan Arya yang memegang pergelangan tangannya, Namun ia tidak bisa karena Arya begitu kuat memegangnya.
__ADS_1
"Mas, tolong lepas. Sakit.” Bella masih berusaha melepasnya sambil melihat Arya yang meneteskan air mata.
"Mas, sakit. Tolong lepaskan. Sakit Mas!”
"Aku tidak akan melepaskanmu lagi,” ucap Arya tanpa sadar dan masih meneteskan air matanya begitu juga Bella yang kesakitan menahan cengkraman tangan Arya.
'Bukk' Seseorang memberikan pukulan pada Arya. Cengkraman tangan Arya terlepas, lalu Bella melihat orang yang memukul Arya yang rupanya sang suami, Alex.
"Abang!” Bella menghambur kepelukan Alex.
"BRENGSEK KAU ARYA! keluargamu sudah menyakiti hati dan fisik istriku, sekarang kau ingin menambahnya!” seru Alex begitu emosi sambil merangkul Bella yang ketakutan.
"Jangan harap Bella kembali padamu! Aku sudah memberikanmu kesempatan tapi kau menyia-nyiakannya.”
“Maaf tuan. Maafkan Arya. Arya masih terpukul dengan semunya,” ucap suami Tasya membantu Arya yang tersungkur di dekat pusara sang Anak.
“Aku ingatkan sekali lagi padamu. Jangan ganggu Bella, walau aku tahu kalian pernah menjadi suami istri tapi saat ini dan selamanya, Bella istriku.” Alex pergi sambil merangkul Bella keluar dari pemakaman.
"Arya, Ayo kita pulang, pemakaman sudah selesai.” Suami Tasya berusaha mengajak Arya bangkit, Namun Arya sepertinya enggan untuk beranjak.
"Kalau kakak mau pulang, pulang saja. Aku masih ingin disini, di pusara anakku.”
"Pergi Kak! Pergi, Aku tidak apa-apa semuanya pergi dari hidupku. aku sudah kehilangan semuanya.” Tangis Arya pecah meluapkan segala isi hatinya.
“Tuan, sebaiknya tuan pulang saja. Nona Tasya sudah menunggu tuan, biar tuan Arya kami yang menjaganya,” ujar sopir Arya yang sedari tadi menunggu Arya.
"Baiklah. Tolong jaga dia, kalau terjadi sesuatu hubungi keluarga.”
“Baik tuan.”
Suami Tasya membiarkan Arya meluapkan emosinya, mungkin dengan cara itu bisa meredam kekecewaan di hatinya.
Sementara itu di perjalanan Alex di dalam mobil memeluk Bella yang masih menangis. Bella menangis karena sakit hati dengan ucapan mantan Mertuanya yang mengatakan bahwa dirinya janda gatel padahal ia tidak melakukan apapun.
"Sudah Sayang. ini terakhir kita berhubungan dengan keluarga mereka. Cukup, Abang tidak lagi mengizinkan kamu berhubungan dengan keluarga mereka.”
“Iya, Bang. Maaf, tadi Ibel cuma ingin mengucapkan Belasungkawa, tapi Mama Utari tiba-tiba menamparku, aku tidak bermaksud mencari keributan," adu Bella seperti anak kecil.
__ADS_1
"Iya, Abang tahu. Sekarang ada Abang.”
Bella mengusap air matanya lalu melihat suaminya."Kenapa Abang juga tiba-tiba pulang, kan baru tiga minggu.”
”Abang rindu sama kamu.” Alex mengangkat kedua alisnya membuat Bella tersenyum malu. Ia tahu apa yang di maksud sang suami.
"Abang genit.”
Alex tertawa lalu mencium pipi Bella. Tidak peduli sopir taksi tersenyum melihatnya.
“Pak, ke hotel ya!” ujar Alex meminta agar sopir mengantarkannya ke hotel.
"Di rumah saja, Bang.”
"Hanya dua jam sayang, Abang sudah tidak tahan,” bisik Alex membuat Bella tertawa geli.
"Ya sudah, janji dua jam ya. Nanti pulang ke rumah.”
"Iya sayang...!” Alex mencubit lembut pipi Bella.
Di sisi lain di kediaman keluarga Arya, Abi dan Utari bertengkar hebat di kamar. Utari masih tidak terima jika Abi membela Bella.
"Papa jahat! Papa tega hanya karena wanita itu Papa berani membentakku di tempat umum, Papa sengaja membuat Mama malu!”
"Ckk! Itu di kuburan Ma. Bukan tempat umum yang dengar juga paling hantu poci dan kawan-kawannya.” Abi sudah malas berdebat dan jawab sekenanya.
"Papa! Memangnya aku Mbak Kun!”
"Saudaranya mungkin. Habisnya Mama marah-marah terus. Padahal Mbak Kun aja tertawa terus.”
"Papa nyebelin!” Utari melempar bantal pada Abi.
"Ah, lebih baik Papa ke rumah Arya. Dengar Mama pusing.”
Abi keluar dari kamar dan memang ingin ke rumah Arya untuk mengikuti acara tahlilan menantunya.
"Sya, Kamu ikut ke rumah kakakmu?” tanya Abi pada Tasya.
__ADS_1
”Nanti deh, Pa. Nunggu suami Tasya pulang. Papa ke sana saja dulu. Nanti Tasya menyusul.”