DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 70 TIDAK BISA MELAKUKANNYA


__ADS_3

Akhirnya dengan ragu Arya menuruti permintaan Bella, Arya sudah tidak ingin berdebat lagi dengan istrinya. Dan hari ini adalah hari pernikahannya.


“Mas gagah pakai jas ini. Dasinya di rapikan dulu!” Bella membenarkan dasinya. Arya terus memandangi wajah Bella lalu menegang kedua tangannya yang sedang merapikan dasinya. Arya melepas dasinya kemudian membuangnya.


“Kenapa di lepas, Mas?” Bella sedikit melirik ke arah keluar karena posisi mereka di dekat pintu kamar.


"Aku tidak mau menggunakan dasi. Yang aku mau hanya dirimu.” Arya melepas kerudung Bella lalu mencium bibirrnya.


"Mas, sebentar lagi acara di mulai!” Bella terengah-engah mendorong Arya.


"Itu acara mereka sayang!” Arya menutup pintu dan menguncinya dan masih mencium Bella. Arya mendorong Bella menuju tempat tidur.


Arya mencumbu setiap Senti tubuh Bella dan merobek paksa kebaya yang sudah ia kenakan. Bella hanya pasrah saat Arya menguasainya. Arya juga tidak peduli dengan teriakan sang Mama yang memanggilnya dan ia terus bercinta dengan Bella.


Suara rintihan Bella membuat Utari kesal, Abi secepatnya menarik sang istri agar tidak mengurusi rumah tangga sang anak.


"Lepas, Pa!”


“Ma, cukup! Biarkan mereka dulu. Bella sudah setuju dengan permintaan Mama. Menurutku apa yang di lakukan mereka saat ini sebenarnya Arya tidak ingin adanya pernikahan ini.”


“Tapi penghulu sudah menunggu, Pa. Kan nanti bisa sama istri barunya. Masih gadis lagi.”


“Cukup, Ma!” geram Abi menarik Utari dari depan kamar sang Anak.


“Maaf, pak penghulu, pengantin laki-laki sedang buang hajat dulu!” tutur Abi saat sampai di ruang tengah.


“Oh iya! tenang saja masih saya tunggu.”


Abi duduk di samping Bram. Dan Bram melihat expresi kesal Abi pada Utari.


“Apa yang terjadi dengan Arya?” tanya Bram.


“Tidak ada, Pa. Arya sedang berbicara dengan Bella sebentar.” Abi terus memegang tangan Utari agar tetap duduk di sampingnya.


Sementara itu Bella dan Arya baru saja selesai. Arya justru santai berbaring di tempat tidur sambil memeluk Bella.


“Mas sudah ya! Sudah di tunggu.”


Arya bangkit lalu menuju kamar mandi, sementara itu Bella mengambil kain untuk ia kenakan lalu ia mengambil kebaya ya sudah dirusak suaminya dan meletakkannya di sofa. Bella ngambil setelan kemeja yang baru untuk Arya lalu ia juga mengambil gaun tertutup berwarna putih untuk ia kenakan sendiri sebagai pengganti kebayanya.


Arya keluar dari kamar mandi lalu mengenakan setelan kemeja yang di siapkan Bella.


"Mas, keluar dulu ya! Sudah di tunggu!”

__ADS_1


“Aku akan menunggumu!”


Bella hanya menghela nafas panjang kemudian mandi. Bella mempercepat mandinya setelah itu ia keluar dan sudah menggunakan gaun tertutup putih dengan handuk yang masih ia balut di kepalanya. Ia tak sempat mengering rambut dan hanya mengeringkan dengan handuk. ia hanya menggunakan riasan tipis natural agar mempersingkat waktu tak lupa ia mengenakan kerudungnya yang juga berwarna putih.


"Sudah, Mas.” Bella menghampiri Arya lalu Arya bangkit dari duduknya.


“Arya! Sudah selesai belum?” teriak sang Mama.


Arya berjalan membuka pintunya sambil menggandeng tangan Bella.


"Lama bener, kalian ngapain? Ini kenapa kamu pakai gamis putih?”


“Cukup, Ma!” Arya langsung meninggalkan Utari sambil menggandeng Bella menuju ruang tengah.


“Maaf, pak! Sudah menunggu lama,” ujar Bella pada Penghulu.


“Tidak apa-apa. Mari silahkan duduk.”


Arya duduk di samping Renata dan Bella duduk bersama Tasya di sudut. Sebelum Arya menjabat tangan penghulu, Arya menoleh ke arah Bella. Ia tahu Bella sedang menahan sesak di dadanya. Arya bangkit dan menghampiri Bella. Ia berlutut dan menggenggam tangan Bella.


“Aku tidak bisa melakukannya, Sayang! Aku tidak bisa!” Arya menangis di pangkuan Bella begitu juga Bella.


“Sudah Cukup!! Sudah batalkan saja pernikahan ini!” seru Tasya yang tidak tahan melihat Bella dan sang Kakak seperti tertekan satu sama lain.


“Ma! Jangan memaksa kehendak Mama pada Kak Arya, hanya karena Mama ingin mempunyai cucu dari Kak Arya. Anak itu titipan, Ma! Jika itu terjadi pada Tasya, apa Mama rela melihat Tasya di madu? Dan jika itu terjadi pada Mama sendiri, apa Mama sanggup seperti Mbak Bella? Ma, tidak ada sejarahnya di keluarga kita yang berpoligami! Walau itu di perbolehkan di kepercayaan kita!” jelas Tasya yang juga meneteskan air mata.


“Dan kau!” Tasya menujuk Renata. ” Kau wanita berpendidikan, kan. Kenapa kau ingin mengambil secara terang-terangan apa yang ada pada Kakak iparku. Apa pendidikan tinggi tidak pengajarimu bagaimana menghargai milik orang lain? Seharusnya kau sebagai wanita juga merasakan apa yang dirasakan Kakak Iparku. Jika aku menjadi dirimu lebih baik aku menjadi perawan tua dari pada aku harus merusak kebahagiaan orang lain.”


“Cukup!” teriak Renata.


“Mamamu yang membujukku dengan segala iming-iming ini dan itu. Seharusnya kau tanyakan saja pada Mamamu yang sok bijak


ini. Ayo Ma! kita pergi dari sini. Aku juga tidak sudi jika mendapatkan penghinaan seperti ini. ”Renata pergi dari rumah Arya sambil menggandeng tangan sang Mama.


"Jeng tunggu, jeng!” seru Utari memanggil Sahabatnya Namun di cegah Abi.


"Cukup, Ma! Kami sudah cukup mengikuti permainan Mama. Jangan kamu rusak kebahagiaan anak kita sendiri!” ujar Abi dengan lantang. Utari pun menjadi kesal lalu berlari kecil ke kamarnya yang ada di rumah Arya.


Arya terus merangkul Bella dan mereka masih menangis. Tasya juga menangis di samping kekasihnya. Abi menghampiri Arya dan menepuk pundaknya.


“Papa bangga sama kamu, Nak! Jadilah laki-laki setia untuk satu wanita. apapun keadaannya.”


Arya bangkit dan memeluk Papanya. “Terima kasih, Pa.”

__ADS_1


"Semoga kalian bahagia selalu.” Abi melepaskan pelukannya lalu menghampiri Bella. Abi memeluk menantunya.


“Kamu wanita hebat.”


"Terima kasih, Pa!”


"Terus ini yang jadi nikah siapa?” tanya pak penghulu dengan bingung, karena sudah menunggu lama tetapi tidak ada yang di nikahkan.


"Ya sudah pak. Itu cucuku saja yang menikah. Mereka sudah tua. Tasya kamu saja yang menikah,” timpal Wina di iringi gelak tawa.


"Lah kok aku tah? Kok mendadak?”


“Sayang, kita nikah hari ini saja ya. Kita itu sama-sama berumur. Mau nunggu apa lagi?” ujar Kekasih Tasya sambil menyenggol lengan Tasya.


"Pa, piye iki?”


Abi tertawa kecil lalu menarik Tasya ke pelukannya. “ Gak apa-apa sayang. Ayo Papa nikahkan.”


Tasya tersenyum malu melihat kekasihnya yang juga sudah berumur. walau berumur masih terlihat tampan.


"Mau deh, Pa. Tasya sudah Yakin sama dia.”


“Baiklah, hai bro apa yang kamu bawa untuk mas kawinnya?” tanya Abi pada calon menantunya.


"Waduh! Gak bawa-bawa apa-apa om. cuma bawa cinta!“


Arya dan Bella dan semua tertawa mendengar jawaban kekasih Tasya. Rupanya ia pandai membuat orang tertawa.


"Sudah ini saja.” Arya mengambil kotak cincin yang seharusnya menjadi Mas kawin untuk Renata. Kemudian ia berikan pada kekasih Tasya.


"Berapa ini, aku harus menggantinya?” tanyanya.


"Pakai saja dulu, nanti saja ganti uangnya.”


“Eh ... gak mau. Bayar dulu Mas. Masak maharnya di cicil. Kayak rumah kontrakan . Aku kan cewek mahal. Bayar dulu!”


"Iya, Iya!” kekasih Tasya lantas mengeluarkan ponselnya kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening Tasya.


"Sudah, giliran kamu uangnya transfer ke Kakak kamu!”


"Tidak usah Tasya. Anggap itu hadiah dari kakak. hadiah yang lain nanti menyusul.”


“Terima kasih ya kak!” Tasya memeluk Arya.

__ADS_1


Akhirnya pernikahan tersebut menjadi hati pernikahan Tasya dan sang kekasih.


__ADS_2