DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 35 TUHAN BANTU AKU


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Bella sudah mulai kembali ke sekolah dan ia terpaksa membawa bayinya ke sekolah karena tidak ada yang menjaga sang bayi. Bella juga sudah tidak tinggal di apartemen Wahyu. Ia memilih tinggal di rumah barunya yang ia beli dengan uang pemberian Alex sewaktu masih menjadi istrinya . Hidup berdua bersama sang bayi. Walau rumahnya sangat kecil tetapi mereka terlihat bahagia.


Statusnya yang kini sah menjadi seorang janda mengharuskan ia bekerja keras. Selain mengajar ia juga mencoba berusaha kerja sampingan yaitu membuka bimbingan belajar di rumahnya. Hasilnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ia sangat bersyukur sang bayi tidak rewel seolah tahu kondisinya.


Hidup Bella begitu pas-pasan. Ia tidak ingin lagi mengambil uang sisa pemberian Alex. Bukannya tidak ingin menggunakannya lagi tetapi ia simpan uang tersebut untuk biaya sekolah anaknya kelak. Untuk keseharian ia mengadalkan gaji dari sekolah yang tidak seberapa dan bayaran bimbingan dari murid-murid di rumah.


Saat ini Bella sedang berbelanja di mini market dekat rumahnya. Ia membeli beberapa kebutuhan dapur dan kebutuhan bulanannya dan juga kebutuhan sang anak, seperti sabun, sampo, popok dan yang lainnya.


“Kita bayar dulu ya, Nak.” Bella menuju meja kasir.


Saat hendak meletakkan belanjaannya rupanya ada seseorang yang juga meletakkan keranjangnya di meja kasir. Bella dan orang tersebut saling melihat. Tetapi saat Bella tahu wajah tersebut ia langsung menunduk dan pria tersebut mengalihkan pandangannya, Namun tetap masih mencuri pandang bayi yang di gendong Bella. Pria tersebut adalah Alex sang mantan suami.


“Maaf, ya pak. Ibunya dulu,” ucap sang kasir pada Alex.


“ Hem,” balas Alex darar.


Bella terus menunduk dan terus berusaha menutupi wajah sang bayi menggunakan ujung gendongannya. Alex Melihat Bella dari atas sampai bawah. Di matanya Bella tidak terurus dan sedikit pucat dan kurus. Rambutnya yang dulu panjang kini sudah di pangkas pendek.


Bella membenarkan gendongannya dan terus berusaha menutup wajah sang bayi. Bayinya menangis, ia pun berusaha menenangkannya. Mungkin sang bayi merasakan keberadaan Papanya.


"Totalnya 250, Bu!”, ujar sang kasir memberitahu jumlah belanjaan Bella. Bella membuka dompetnya Namun di dompetnya hanya ada dua ratus ribu.


“Maaf, Mbak yang ini di cancel ya. uang saya kurang.” Bella mengembalikan popok bayi sambil mengayun-ayun bayinya di gendongannya.

__ADS_1


“Iya, Bu. tidak apa-apa.”


Bella tersenyum malu. dan langsung memberi kan uangnya pada kasir dan bergegas keluar dan menghindari tatapan Alex.


Dengan susah payah Bella membuka payung dan membawa belanjaannya dan masih berusaha mediamkan bayinya, ia berjalan menelusuri jalan menuju rumahnya. Alex yang baru saja keluar pun melihat Bella berjalan kemudian belok ke dalam gang.


“Masih enak hidup denganku, kan. Tidak pernah kekurangan. Apa Wahyu tidak memberikanmu uang?” batin Alex.


“Apa mereka sudah menikah?” batinnya lagi. Ia penasaran dengan hubungan Wahyu dan Bella. Ia pikir Mereka sudah menikah dan bahagia di atas rasa sakitnya.


Padahal yang sebenarnya adalah. Bella tidak lagi berhubungan dengan Wahyu semejak pertengkarannya di rumah sakit. Wahyu dan Bella tidak lagi saling komunikasi. Bella pontang-panting merawat bayinya sendiri dengan caranya sendiri. Minimnya pengalaman tentang bagaimana merawat bayi. tetapi nalurinya sebagai ibu tumbuh dengan sendirinya. Ia selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya.


Alex tanpa sadar mengikuti langkah Bella. Tidak lupa ia selalu menggunakan maskernya. Alex melihat Bella masuk ke rumah kecil tanpa pagar dan hanya rumahnya yang tidak memiliki pagar. Rumah Bella adalah perumahan kecil yang hanya memiliki satu kamar, ruang tamu, dapur dan kamar mandi.


“Mau kemana, Bu?” seru pemilik warung pada seorang ibu yang membawa kantong plastik berisikan beras.


"Oh, ini mau kerumahnya Bu guru bella Mamanya, Reyhan. Antar beras sumbangan dari kelurahan!” jawab ibu tersebut selaku istri kepala warga setempat.


Alex tercengang dan tidak percaya dengan apa yang Ibu tersebut katakan. Semiris itukah hidupnya setelah bercerai dengannya. Tapi ia tidak ambil pusing dengan hidup mantan istrinya itu. Baginya Bella tetap wanita murahan yangsu pergi bersama pria lain.


Alex juga baru tahu jika anak tersebut di berikan Nama Reyhan. Nama yang akan ia berikan dulu.


Dari kejauhan Alex melihat Bella menerima beras tersebut sambil menggendong bayinya. Alex melihat bayi tersebut begitu menggemaskan. Ingin sekali ia menghampiri tetapi ego dan logikanya masih menganggap anak tersebut bukan anaknya.


Bella sekilas melihat Alex dari teras rumahnya. Ia tahu jika itu Alex walau sedang menggunakan masker.

__ADS_1


“Abang!” Gumamnya lalu ia bergegas masuk setelah Ibu yang memberikannya sumbangan pergi. Bella langsung menutup dan mengunci pintunya.


“Buat apa, Abang mengikutiku.” Bella sekilas mengintip di jendela, namun Akex sudah tidak ada.


Bella bernafas lega, akhirnya Alex pergi. Tak lama ia kembali membaringkan Bayinya di tempat tidur. Karena Reyhan sudah tidur nyenyak. Bella pun segera membereskan belanjaan dan meletakkannya berasnya di tempat beras.


“Sykurlah, bisa hemat uang beras untuk Beberapa hari.”


Bella kembali menemani Bayinya sambil melipat bajunya yang sudah kering. Pikirannya pun melayang masih memikirkan rasa cintanya pada Alex. Perih, sakit hati. Namun ia juga tidak bisa melupakan rasa cinta itu. ditambah wajah sang anak begitu mirip dengan Alex.


“Tuhan bantu aku menghilangkan rasa cinta ini. Fokuskan hati dan pikiranku hanya untuk Reyhan, anakku. Bella kamu masih muda baru 23 tahun. pasti bisa berjuang membesarkan anakmu. Semangat Bella! Lupakan Cinta itu, cinta yang membuat luka. Tapi kenapa susah sekali ya Tuhan.” Air mata Bella semakin deras, ia ikut berbaring di samping anaknya dan mengusap lembut pipi sang anak. mata hidung dan bibir serta bentuk wajah begitu mirip dengan Alex.


“Bagaimana aku bisa melupakan Papamu, Nak. Bayangannya saja kamu bawa,“ gumam Bella mencium pipi Reyhan.


Disisi lain, setelah mengikuti Bella Alex kembali ke hotel tempat ia menginap. Karena sudah beberapa hari ini ia berada di Bogor untuk meninjau pembangunan proyeknya.


Alex lantas berkemas lalu kembali ke Jakarta. sesampainya di Jakarta, Alex tidak langsung ke rumah. Ia mencari tahu keberadaan Wahyu.


“Permisi Pak. Apa dokter Wahyu ada di rumah atau di kliniknya?” tanya Alex pada tukang kebun rumah Wahyu.


“Dokter Wahyu ada di Bogor, beliau sedang merenovasi apartemennya.”


“Oh, terima kasih Pak!” Alex kemudian masuk ke dalam mobil dan berfikir jika Wahyu merenovasi apartemennya itu untuk Bella dan mereka sementara tinggal di rumah gang sempit.


“Kenapa aku harus memikirkan hal itu,” batin Alex lalu melajukan mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2