DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 76 KEPUTUSAN 1


__ADS_3

Bella melangkah dengan ragu memasuki rumah utama mertuanya. Tampak Laura sudah tiba lebih dulu, sebab ia melihat Zidan sedang bermain di halaman rumah bersama Baby sister serta pengawal mertuanya.


Sebisa mungkin Bella menahan sesak di dadanya, ia berusaha tegak dan tegar dengan kemungkinan yang terjadi. Bella tidak membawa Reyhan karena ia sengaja agar Reyhan istirahat di rumah saja bersama Narti.


Bella datang sendiri dengan di antar sopir sebab ia pulang dari sekolah langsung ke rumah mertuanya.


"Lama banget kamu datang. Semua sudah nunggu kamu!” ucap Wilona sedikit ketus sambil menggendong bayinya di teras rumah.


"Maaf, Mbak tadi agak macet!”


Wilona masuk di ikuti Bella. Bella tersenyum tipis saat melihat Mama mertuanya yang sekarang tidak begitu menyukai dirinya. Utari membuang pandangannya saat Bella tersenyum. Akan tetapi Bella tetap menyalaminya lebih dulu setelah itu menyalami Abi.


"Maaf, Pa. Saya terlambat, tadi macet di jalan.”


"Tidak apa-apa." Abi tersenyum.


"Mas Arya mana, Pa?“ tanya Bella karena tidak melihat Arya diruang keluarga.


"Em ... ada!“


"Lagi main sama anaknya, zea. Sama istrinya, Laura!” saut Wilona ketus.


"Willo!” pekik Abi.


"Tidak apa-apa, Pa. Biarkan Mas Arya sama anaknya.”


“Ya sudah kamu makan dulu ya. Kami sudah makan tadi.“ Abi menepuk pundak Bella. Abi tahu hati Bella tidak sedang baik-baik saja.


"Ya, makan dulu sana. Biar kuat hadapi kenyataan. Masih ada lauk sisa itu di meja. Kalau gak suka, masak mie instan, itu ada banyak!” Ucap Utari lalu bangkit menyusul Arya di taman belakang.


Abi hanya bisa menggelengkan kepalanya lalu menyuruh Bella langsung ke ruang makan.


Bella membuka tutup makanannya. Memang benar hanya ada sisa lauk bekas keluarga suaminya makan. Bella menghela nafas panjang lalu mencuci tangannya ke wastafel, setelah itu baru ia duduk untuk makan.

__ADS_1


"Non, Mari Mbok ambilkan lauk yang baru,” ucap asisten rumah tangga Utari.


"Tidak usah, Mbok! Ini kan masih ada. sayang kan kalau di buang!” potong Willona tiba-tiba.


"Tapi, Non. ini sudah dingin.”


"Alah, Mbok. Dia kan orang kampung. Udah biasa makanan dingin.”


"Tidak apa-apa, Mbok. Ini saja sudah cukup.” Bella tersenyum melihat si mbok.


"Non Willo kok tega banget sih. Sama-sama menantu!” batin si Mbok geram melihat sikap Wilona.


"Maaf ya, Non.“


"Tidak apa-apa, Mbok. Ini masih enak kok.” Bella mulai mengambil makanannya.. Walau ia sudah makan di kantin sekolah, akan tetapi ia menghargai mertuanya.


Bella makan dengan menahan air matanya, walau begitu tetap saja menetes. Bella tidak habis pikir Mama mertuanya dan iparnya Wilona sikapnya berubah padanya. Apa karena ia tidak lagi bisa memberikan anak pada Arya. Entahlah, ia juga bingung kesalahan apa yang ia perbuat sehingga Utari dan Wilona berubah sikap lebih ketus padanya.


"Sayang ... Datang kok gak cari aku, Suamimu!” seru Arya tiba-tiba datang sambil menggendong Zea lalu mencium pipi Bella.


"Kamu ... Kamu nangis!” Arya melihat mata Bella yang memerah dan terlihat air mata di sudut matanya


"Gak! Tadi ini kebanyakan makan sambel. Enak sambelnya. Masakan Mama buat ketagihan.” Bella mengambil sambal lagi lalu ia makan.


"Papa, minum,” ucap Zea pada Arya.


" Anak Papa mau minum Ini.”


"Kamu apa-apaan,sih! Ini kan bekas orang lain malah di kasih sama anaknya. Zea itu bawa minum sendiri!” Ucap Laura tiba-tiba sambil merebut gelas dari tangan Arya yang memang itu minuman bekas Bella.


"Gak apa-apa Laura ... ini kan bekas Bundanya.”


"Bunda? Siapa yang Bunda. Kamu nyuruh anak kita manggil dia Bunda. Ibunya itu cuma aku.” Laura mengambil Zea dari gendongan Arya dan sekilas milirik Bella yang masih makan lalu berlalu meninggalkan Arya dan Bella.

__ADS_1


"Maaf sayang! Laura memang seperti itu.” Arya duduk di sebelah Bella.


"Tidak apa-apa, Mas. Mbak Laura benar kok. Seharusnya Mas juga harus tahu. Tidak boleh memberikan anak bekas orang lain. Kalau aku jadi Mbak Laura pasti akan melakukan hal yang sama.” Bella masih makan dan pura-pura makan dengan lahap.


Arya meraih tangan Bella satunya lalu menggenggamnya. "Makan yang banyak ya.”


Bella hanya tersenyum tipis lalu melanjutkan makannya. Selesai makan Bella membereskan piringnya dan Arya masih menunggunya.


“Mas sudah selesai?”


Arya tersenyum lalu meraih tangan Bella dan mengajaknya di ruang keluarga. Laura, Utari dan Abi sudah menunggu mereka. Arya duduk duduk di samping Bella.


Bella begitu gugup dan tidak tahu harus berkata apa jika nanti Arya mengambil keputusan.


“Baiklah, semua sudah berkumpul. Sebenarnya Papa dan Mamamu tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi untuk hal ini Papa dan Mama menyerahkan keputusan ini pada suami kalian. Ini semua terjadi karena Arya. Papa harap Arya bisa memutuskan dengan baik. Terbaik dalam arti untuk kedepannya dan anak-anak. Walau Papa tahu salah satu di antara kalian ada yang sakit hati.” ujar Abi memulai pembicaraan.


"Bella apa keinginanmu dengan semua ini?” tanya Abi. Bella tersenyum tipis melihat Abi lalu melihat Utari yang tatapannya mengintimidasi dirinya lalu melihat Laura yang tampak santai.


Bella tahu arti tatapan mertuanya itu, bahawa menyuruhnya untuk mengalah saja.


"Saya hanya ingin yang terbaik saja, Pa. Semua berjalan baik. Hubungan Mas Arya dan anak-anaknya berjalan semestinya. Karena saya tahu pentingnya peran Ayah untuk anak-anak. Jika Mas Arya ingin melanjutkan dan mengesahkan pernikahannya dengan Mbak Laura, saya tidak masalah. Saya ikhlas di madu.”


"Dimadu? harusnya Laura yang bilang seperti itu. Kamu itu yang madunya. secara teknis Laura itu istri pertama!” sambung Utari.


"Mama! Mama bisa diam tidak! Biar mereka selesaikan sendiri masalah mereka. Kita hanya menasehati.” Abi Merih lengan Utari dan melihatnya tajam.


"Loh? Mama kan hanya menyampaikan kebenaran, Pa. Lagian jadi istri cuma jadi beban buat apa? Tidak bisa memberikan cucu pada kita. Cuma bisa muasin Anak kita saja di ranjang. Laura juga bisa, Pa. Jangankan Laura wanita panggilan juga banyak kalau cuma kepuasan ranjang!”


Hati Bella begitu sakit mendengar ucapan mertuanya yang menganggap dirinya hanya beban anaknya. Tidak terasa air mata Bella menetes , tetapi ia langsung mengusapnya.


"Ma! Mama sadar tidak dengan apa yang Mama ucapankan. Mama menyamakan menantu kita dengan wanita panggilan. Mama keterlaluan! Lebih baik Mama tidak usah ikut campur. Masuk ke kamar!” Abi begitu marah dengan ucapan istrinya.


"Pa!”

__ADS_1


"Masuk kekamar!” Abi menujuk kamarnya. Dengan kesal Utari beranjak dari duduknya menuju kamar. Sebelum berjalan ia menatap tajam Bella. Semua ini gara-gara Bella suaminya berani membentaknya.


__ADS_2