DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 64 CINTA DALAM DIAM.


__ADS_3

Hari ini adalah hari terakhir Alex di Surabaya. Dan hari terakhir untuk menemui Bella. Kali ini ia datang terang-terangan dan atas izin Arya. Arya keluar saat Alex dan Bella berbicara dan hanya di temani Tasya di dalam ruangan. Tasya menggunakan earphone saat Alex dan Bella berbicara,via menghargai privasi mereka. Karena tahu Alex dan Bella pasti ingin pembicaraan mereka tidak diketahui siapapun.


"Ibel, Hari ini terakhir Abang menjenguk kamu, kemarin Abang juga sudah menjenguk Reyhan. Maafkan Abang Beberapa bulan ini tidak bertanya kabar tentang Reyhan.”


"Iya, tidak apa-apa Bang! Lagian Abang kan di luar negeri. Dan juga pasti sibuk. Reyhan tidak apa-apa. Ada Mas Arya!”


Alex tersenyum tipis lalu meraih telunjuk jati Bella. Ia kaitkan telunjuknya dan ia usap punggung telunjuk Bella dengan ibu jarinya.


"Sebenarnya, Abang tidak ke luar negeri. Abang hanya menghindar darimu. Abang hanya ingin memberi waktu agar kamu lebih mencintai Arya.”


Bella membuang pandangannya menahan air matanya. Andai usaha yang dilakukan Alex berhasil terhadap dirinya. Mungkin ia sudah sangat mencintai Arya. Nyatanya hatinya tidak pernah bisa berbohong. Ia masih mencintai Alex. Sudah sekuat tenaga ia membuka hati untuk Arya tapi entah mengapa hanya ada Alex di hatinya.


"Iya, Bang. Aku sudah mulai jatuh hati sama Mas Arya. Wanita mana pasti jatuh hati padanya!” bohong Bella sekilas tersenyum. Walau Alex tahu ucapan Bella itu bohong tapi ia harus menghargainya.


Mereka memang masih ada rasa cinta yang saling terpaut, tetapi tidak lagi bisa bersama karena salah satu sudah milik orang lain. Mereka hanya bisa mencintai dalam diam.


“Ya sudah. Abang pulang ya. Semoga lekas membaik. Tapi Minggu depan Abang benar-benar ke luar Negeri. Ada sedikit pekerjaan di sana.”


"Iya, Hati-hati. Salam untuk Ara.”


“Pasti!” Alex sekilas menggenggam tangan Bella dan keduanya tersenyum tipis. Alex kemudian menghampiri Tasya.


"Permisi, Nona!”


"Oh, iya. Sudah mau pulang?” tanya Tasya sambil membuka earphone-nya lalu berdiri.


“Iya! Anak dan orang saya sudah menunggu di bandara!”


“Baiklah, terima kasih dan hati-hati di jalan.” Tasya menjabat tangan Alex dan sekilas tersenyum tipis. Kemudian Alex berjalan keluar.


Sebelum membuka gagang pintu Alex menoleh ke belakang untuk melihat Bella terakhir kalinya sebelum berangkat ke luar negeri. Mereka saling tersenyum. Senyum penuh arti dan hanya mereka yang tahu. Alex keluar dan menemui Arya lebih dulu.


"Arya, Aku pamit!” ucap Alex.

__ADS_1


“Oh, iya. terima kasih, sudah menyempatkan menjenguk istri saya.”


Alex hanya tersenyum lalu menjabat tangan Arya kemudian ia berlalu dati hadapan Arya. Arya hanya memandangi punggung Alex sampai Alex menghilang di balik lift kemudian ia masuk ke ruangan Bella.


Arya melihat Bella sedang menyeka air matanya dan tersenyum ke arahnya.


"Mas,” lirihnya. Arya mendekat kemudian mencium keningnya.


"Kenapa menangis?” tanya Arya.


"Eum ... tidak, cuma teringat anak kita yang tidak ada.” Bella justru bertambah menangis. Bagaimana pun ia sangat mengharapkan anaknitu lahir.


“Maafkan aku ya, Mas. Nanti setelah pulih semuanya. Aku siap hamil lagi.”


“Iya sayang! Tidak apa-apa. Yang paling penting kamu sehat dulu.” Arya mencium punggung tangan Bella dan mengusap lembut pipinya.


"Ya sudah sekarang makan ya.” Arya mengambil makanannya dimeja makas kemudian menyuapi Bella.


"Pamitan mau ke luar negeri. Terus titip Reyhan sama kamu.”


"Tidak ada yang lain?”


Bella melihat Arya sejenak lalu menggeleng. “ Tidak ada.”


“Ya sudah habiskan setelah ini minum obat dan istirahat ya.”


“Iya,” balas Bella pelan sambil mengunyah makanannya perlahan.


Arya menyuapi Bella sampai habis Kemudian membantunya minum obat. Setelah selesai minum obat. Arya dan Bella sedikit bercanda setelah itu Arya menyuruh Bella tidur.


Melihat Bella sudah tertidur lelap, Arya menghampiri sang adik yang sedang sibuk dengan ponselnya dan duduk di sofa. Arya memandangi Bella dari sofa dan tersenyum tipis. Arya menyandarkan punggungnya di Sandaran sofa dan mengusap kasar wajahnya membuat sang adik heran melihatnya.


“Kakak kenapa sih diam aja?” tanya Tasya pada Arya yang tampak diam dan lesu.

__ADS_1


"Gak apa-apa, Sya. Kakak cuma capek?”


“Kalau capek istirahat dulu. Biar aku yang jaga Mbak Bella. Pulang aja dulu, kak. Reyhan juga kangen sama babehnya.” Tasya membereskan kotak makanan sedangkan Arya melihat sang Adik sekilas.


"Untuk ke depannya, Aku mungkin tidak bisa punya anak Sya.”


"Nikah lagi!” Tasya tertawa kecil saat melihat raut wajah sang kakak menjadi kesal.


"Gak kak, maaf. Anak itu hanya titipan kak. Aku pribadi, Reyhan menurutku sudah cukup. Sayangi dia seperti anak sendiri.”


"Iya. Aku sayang sama Reyhan seperti anak sendiri, tapi ... Ah sudah lupakan. fokus dulu dengan kesehatan Bella.” Arya bangkit dari duduknya lalu menuju sofa panjang. Ia pun tidur di sana. sedangkan Tasya duduk di sofa menunggu kakak dan kakak iparnya yang juga tidur setelah minum obat.


Arya tidaklah tidur, ia merenung mengapa kebahagiaan yang baru saja ia rasakan hilang begitu saja. Apa seberat ini cobaan dalam pernikahan. Apa ini hukuman dosa di masa lalunya, hanya Arya yang tahu jawabannya. Sekilas ia teringat masa-masa di mana saat bersama mantan kekasih di London. Kekasih yang ia tinggalkan begitu saja hanya karena wanita yang ia pacari itu matre. Dan ia kembali ke Indonesia untuk mendekati Bella.


“Sya!” panggil Arya tiba-tiba.


"Hm! Katanya mau tidur. Apa?”


"Emang cewek itu semua matre ya?” tanya Arya yang membuat gelak tawa Tasya.


"Terus ... aku mau di samain? begitu? Ya ... kalau ngikuti jaman sih jujur, wanita itu semua matre. Karena hidup di jaman sekarang itu harus realistis! Semua memang butuh uang, Kan! Kalau cowok atau pria bilang kaum kami seperti itu, itu artinya cowoknya yang tidak sanggup. Tapi tidak semua Perempuan itu matre, Kak. Ada kalanya si wanita itu hanya mengetesnya. Pria yang bersamanya itu Pengertian atau tidak. kalau aku sih pilih jadi cewek Matre. Kerja capek!” Tasya tertawa melihat ekspresi wajah Arya yang bertambah kesal saat mendengar kalimat terakhir sang adik.


"Kerja ya emang capek Sya!“


“Tapi mencari nafkah itu, tugas laki-laki. Wanita atau istri hanya membantu sekedarnya. Kalau suaminya mampu mencukupi kebutuhan dan keinginan istri, ya ... istri di rumah aja, ngapain kerja. Tapi ingat Kak, kebutuh dan keinginan istri itu berbeda dan mempunyai sisi yang sama. Makanya Cewek itu susah di tebak!”


Tasya berdiri menghampiri Arya yang masih berbaring di sofa panjang. Tasya duduk di dekat kaki Arya.


"Kenapa tanya kayak gitu?” tanya Tasya ingin tahu kenapa Arya bertanya di luar topik yang di bahas dari awal.


"Gak! Tanya saja!”


“Ya udah sana tidur. Aku mau buat laporan keuangan bulan ini.” Tasya mulai mengeluarkan leptopnya.

__ADS_1


__ADS_2