
Bella akhirnya memutuskan mencari rumah kontrakan kecil sederhana. Ia tidak mungkin memutus untuk pulang ke kampung halamannya. Sudah pasti Alex akan mencarinya. Ia bersyukur memiliki sejumlah uang untuk menyewa rumah kecil. Memang uang tersebut dari Alex. Mungkin di rekeningnya sudah membengkak. Tapi untuk saat ini ia tidak ingin melakukan transaksi menarik uang. Karena takut terlacak oleh suaminya.
“Kita tinggal disini dulu ya, Nak. maafkan Ibu harus pergi dari papa kamu. Hati Ibu sakit di bohongi, Nak. kamu yang kuat ya. Mulai sekarang kita harus berhemat. Ibu pasti mencari pekerjaan untuk bertahan hidup di jakarta.” Bella menangis di rumah kontrakannya, rumahnya yang hanya memiliki satu kamar.
“Kuatkan aku ya Tuhan. Jika aku di nikahi hanya untuk melahirkan anak saja. Lebih baik hidup sebatang kara di desa. Walau aku tahu di sana aku tidak memiliki siapapun.” Bella terus menangis hingga ia ketiduran di kasur tipis yang di sediakan pemilik rumah.
Bella tertidur sampai jam 10 malam. Saat ia bangun perutnya merasa lapar dan haus. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dan mencari warung di sekitar rumahnya. Beruntung ada banyak orang berjualan yang tidak jauh dari rumahnya. Ia membeli nasi goreng dan dua botol air mineral tak lupa ia juga cemilan untuk malam hari. Setelah mendapatkan apa semuanya ia kembali ke rumah kontrakan kecilnya.
Bella makan sambil air matanya terus meleleh memikirkan nasib bayi yang ada dalam kandungannya. Ia merasa bersalah sudah membeli makanan sembarangan akan tetapi ia tidak mempunyai pilihan.
Selesai makan ia mulai memikirkan bagaimana kelanjutan hidupnya di Jakarta dengan uang pas-pasan.
Dalam tangisnya ia membuat daftar pengeluaran dan daftar esok ia harus melakukan apa. Ia juga tidak sadar jika ponselnya tertinggi di rumah.
“Bella kau pasti bisa, Bantu Ibu ya,Nak. Kuat sayang. Ibumu bukan wanita bodoh yang menyerah begitu saja. Ibu yakin Papamu tidak akan menemukan kita.” Bella bertekad mandiri dan ingin membesarkan anaknya sendiri.
Bella bukanlah wanita bodoh hanya saja ia terlalu naif berhadapan dengan seorang Alex. Mungkin karena ia juga tidak begitu berpengalaman dalam percintaan dan ia hanya orang kampung yang sederhana, yang menganggap semua orang itu baik.
Keesokan paginya, Bella terbangun dan sadar dengan semua kejadian kemarin dan rupanya bukan mimpi. Sekilas ia menangis, Namun cepat-cepat ia hapus air matanya karena ada seseorang yang mengetuk pintu.
“Siapa?” tanya Bella.
“Saya pemilik rumah!” seru pemilik rumah.
Bella bergegas keluar dari kamar kecilnya dan membuka pintunya.
“Ibu, Maaf lama buka pintunya.”
__ADS_1
“Iya tidak apa-apa, Oh iya ini ada pak RT mau daftar warga pendatang?”
“Oh iya, Bu Silahkan masuk.”
“Tidak usah, di luar saja. Eh tunggu kamu hamil ya. Suami kamu mana, perasaan sendiri an kamu datang kemarin sore? keluarga kamu mana?”
“Oh, em ... itu suami saya ke luar negeri, ibu, ayah dan mertua saya sudah tidak ada!”
“ Ya Allah, sabar ya. Suami kamu je luar negri? Jadi tenaga kerja Indonesia? terus kenapa kamu malah ngontrak?”
“Iya, Bu. Maaf. Kontrakan saya yang lama mau di tempati pemiliknya dan suami saya kerja di luar sudah semenjak saya hamil dua bulan.” Bella terpaksa berbohong.
“Coba lihat kartu identitas sama buku nikah kamu?” ujar ketua rt
“Sebentar, Pak. Saya ambilkan.” Bella menuju kamarnya untuk mengambil kartu identitas dan buku nikahnya. Ia juga sempat was-was takut salah satu di antara mereka membuka buku nikahnya.
“Ini, Pak!”
Bapak tersebut hanya mengambil kartu identitas nya saja lalu mendata nama Bella. Sedangkan buku nikahnya hanya di lihat sekilas.
“Baik, untuk peraturan di lingkungan disini nanti biar Ibunya yang menjelaskan ya. kebetulan Ibunya istri saya!” jelas Bapak tersebut
“Oh, Iya pak. terima kasih.”
Bapak tersebut pun pulang lebih dulu sedangkan Istrinya menjelaskan peraturan lingkungannya. Mulai dari iuaran sanpah dan keamanan.
“Itu saja sih. Oh iya. kamu kan sendirian terus lagi hamil. Kalau ada apa-apa bilang ke Ibu saja ya. Nanti ibu bantu. Oh iya kamu sudah sarapan belum?”
__ADS_1
“Sebelumnya terima kasih, Bu. Em ... saya belum sarapan, nanti saya beli sarapan dulu di luar, Bu.”
“Oh, ya sudah jangan telat makan, kalau bisa masak sendiri beli terus gak sehat buat kandungan kamu. Kalau belum punya peralatan masaknya. Nanti ibu temani beli di toko depan. Gak jauh kok. Atau nanti anak Ibu yang temani kamu. Anak Ibu cewek masih SMP. Nanti kalau pulang sekolah biar ibu suruh datang kemari.”
“Oh iya, Bu. Terima kasih banyak. Ibu baik sekali. Oh iya Bu. Maaf, Disini bidan yang dekat sekitar sini ada tidak Bu?” tanya Bella.
“Ada, di ujung gang sini lurus mentok itu. ada tulisannya di depan rumahnya.”
"Iya, Bu. Terima kasih banyak.”
"Sama-sama, Yang sabar ya.” Bu pemilik rumah tersebut mengusap rambut Bella seperti anaknya sendiri.
Pemilik rumah tersebut pun pamit pulang. Setelah itu Bella mencuci wajahnya dan keluar mencari makanan, serta membeli kebutuhan pribadinya.
Bella pulang dari warung dengan membawa barang belanjaan. Tidak lupa ia menutup wajahnya dengan masker agar tidak banyak orang yang mengetahui dirinya.
Sesampainya di kontrakannya, ia sarapan lebih dulu. Sarapan pagi yang ia beli di warung. Nasi putih dan telur balado serta tumis kangkung. Ia masih meneteskan air mata karena terngiang ucapan Irene di televisi yang mengatakan dirinya menjadi penyebab perceraiannya.
“Ayah, aku harus berbuat apa. Aku sudah menjadi penyebab rumah tangga orang hancur. Ayah...! Pengen di peluk yah. Ayah ...!”
Tangis pilu itu hanya dirinya yang mendengar. Isak tangis hanya telinganya yang tahu. Bella bingung harus berbuat apa. Hatinya begitu sakit mengingat kebohongan Alex. Apalagi ia sudah terlanjur jatuh hati dengan suaminya.
Orang yang menjadi harapan tempat ia bersandar, berkeluh kesah, tempat bermanja, tempat perlindungan, nyatanya malah membuat dirinya kecewa dan sakit hati. Harapan tersebut pupus dan meninggalkan luka dihatinya.
Kini ia tidak tahu harus bersandar dengan siapa, mengadu dengan siapa. hidupnya benar-benar sebatang kara. Hanya anak di dalam kandungannya yang menjadi harapannya satu-satunya.
“Nak ... kuat ya, sayang. Maaf Ibu menangis. Pasti kamu ikut nangis ya. Ibu janji hari ini terakhir Ibu nangis, setelah itu kita berjuang ya Nak. Besok bantu ibu cari kerjaan ya Nak. Semoga besok ada lowongan pekerjaan apapu itu. Semoga Ibu dapat pekerjaan sesuai bidang Ibu, mengajar. Biar kamu nantinya banyak teman.” Bella terus mengusap perutnya yang sedikit kram.
__ADS_1
“Kita pasti bisa, Harus bisa. Semangat ya, Nak. Bantu Ibu.”