
“Kamu itu di tungguin di lobby Mall malah kesini!” ucap Abi pada Arya.
Bella makan sedikit canggung walau ia tahu dari bahasa mereka, mereka sama-sama dari Surabaya.
“Makan dulu, Pa. Aku laper!” balas Arya. Abi sekilas melihat Bella, Bella pun tersenyum sopan.
“Tuan! Makan dulu tuan!”
“Iya, Kamu makan saja. Habiskan ya!” balas Abi lalu mengusap wajahnya lalu melihat Arya yang sedang memangku Reyhan sambil makan.
"Garcep kamu ya?” Abi menatap Arya penuh selidik.
“Ora! Biasa wae!”
Abi menghela nafas lalu berdiri menyusul Tasya ke dalam dan mereka berdua melanjutkan makannya.
Setelah selesai makan Arya bangkit menuju kasir untuk membayar tagihannya sambil menggendong Reyhan.
“Tuan, anak saya mau di bawa kemana?”, tanya Bella.
"Ke kasir buat jaminan!”
“Hah?”
“Mau bayar lah. Kamu kan belum selesai minum. Aku ajak dia dulu. Sudah tenang saja, ya!”
“Nyebelin banget sih jadi orang!” grutu Bella melihat Arya menuju kasir.
Arya membayar semua tagihan makanannya termasuk yang akan di bawakan untuk Bella. Setelah selesai dari kasir Arya kembali menghampiri Bella yang sudah bersiap untuk pergi.
“Ini anak kamu! pulangnya hati-hati. Jangan nangis lagi. Semangat ya!"
Bella hanya diam sambil mengambil anaknya dan menggendongnya. Bella mengambil tas dan popok Reyhan. Bella berjalan keluar lalu ia berbalik melihat Arya.
“Terima kasih, tuan! Maaf merepotkan.” Bella sedikit menunduk sopan lalu bergegas keluar.
“Eh ...! Tunggu!“ Arya mengambil pesanannya untuk Bella. Bella berbalik dan melihat Arya sedang membawa bikisan yang tadi sempat ia pesan untuk Bella.
“Ini untuk nanti malam. dipansi lagi nanti kalau mau makan.”
Bella sedikit ragu menerimanya, ia tersenyum canggung.
“Terima kasih!”
__ADS_1
“Sama-sama, bye-bye adik kecil,” ujar Arya mengusap rambut Reyhan. Bella tersenyum tipis lalu keluar dari Restoran.
Bella berjalan keluar Mall, hatinya sedikit terhibur mendapatkan lauk untuk nanti malam. Itu artinya ia sedikit berhemat dan uangnya bisa untuk membeli mainan Reyhan.
Saat keluar dari Mall rupanya, tidak sengaja lagi ia berpas-pasan dengan mobil Alex. Bella pun langsung menutup wajah anaknya dengan ujung kain, karena juga untuk melindungi dari terik matahari.
Walau begitu Bella berjalan santai di pinggir jalan dan terus berjalan, tidak peduli mobil Alex mengikutinya dari belakangnya.
Bella sejenak berhenti di tempat orang jualan mainan di pinggir jalan dan membelikan mainan mobil-mobilan untuk Reyhan, dengan harga 20 ribu. Reyhan begitu senang memegangnya.
"Terima kasih, ya, Pak.” Bella kemudian berjalan menutupi wajah sang anak kembali.
Disisi lain. Alex dan Anna memperhatikan Bella dari dalam mobil.
"Mas, lihat. Kasihan, Mas. Kalau memang benar tuduhan Mas pada Bella. Tidak mungkin semiris ini. Mana mungkin Wahyu membiarkan Bella penampilannya seperti itu. Lihat, Mas! Tubuhnya kurus, penampilannya lusuh. Mas gak lihat!” ujar Anna. Namun Alex tetap diam santai. Ia masih di liputi emosi jika mendengar nama Wahyu dan Bella
“Sudahlah, sudah bukan urusanku lagi. Mau di lusuh, mau dia kurus itu urusan Wahyu, Wahyu kan suaminya!” Alex kemudian menambah kecepatan mobilnya. dan Bella melihat itu.
Anna terdiam, dan masih tidak percaya. Anna hanya bisa melihat Bella dari balik kaca mobilnya.
Hati Bella kembali sakit saat Alex melajukan mobilnya dengan kencang tepat di sampingnya sampai Reyhan pun terkejut mendengar deru mobil sang Papa. Bella dengan sigap mendekap buah hatinya karena Reyhan seperti ingin menangis.
“Sssttt ... tidak apa-apa sayang. Ada Ibu.” Bella mengusap lembut rambut sang anak dan terus berjalan menuju kosannya.
Sesampainya di kosan. Bella menidurkan Reyhan di atas kasur lalu ia meletakkan popoknya di tempatnya kemudian menaruh sop iga yang di bawakan Arya ke dalam panci.
“Akhirnya kering,” Gumam Bella sambil mengangkat jemurannya.
“Hai, Mbak!“ sapa tetangga kosannya.
“Iya, Mbak!”
“Miris amat hidupnya sekarang. Dulu waktu jadi pelakor gak ngumpulin harta dari suami model cantik Irene. Gak pinter jadi pelakor, Eh di kasih beban anak, gak di akui anak!” Celetuk tetangga kosnya lalu mereka tertawa.
“Makanya Mbak, Jangan sok kecantikan! Masih muda jadi pelakor. syukur dah sekarang di cerai juga!” sambung teman lainnya.
Bella hanya diam tidak membalas ejekan mereka. Lalu ia masuk kedalam dan menutup pintunya.
“Dasar pelakor!” seru mereka lagi.
Bella menangis di balik pintu. Ia menangis sejadi-jadinya. Hatinya begitu sakit mendengar ucapan orang yang tidak tahu akar permasalahannya.
Bella menghampiri sang anak dan melatakkan jemurannya di atas tempat tidur. Ia mengambil anaknya dan memeluknya sambil menangis.
__ADS_1
“Tidak, Nak. Kamu bukan beban ibu. Kamu temen Ibu. Kamu anugrah terindah yang Tuhan berikan pada Ibu, Nak. Kalau kamu gak ada. Ibu tidak akan bisa sekuat ini melewati semuanya, Nak.” Bella menciumi pipi sang anak lalu memeluknya kembali.
“Terus bersama Ibu, ya. Nak. Cuma satu pinta ibu pada Tuhan. Yaitu kamu sehat, ibu sehat. panjang umur, Ibu bisa melihat kamu tumbuh dewasa. Ibu akan terus berjuang membesarkan kamu.”
Bella berbaring di tempat tidur sambil menyusui Reyhan, walau begitu air matanya terus mengalir mengingat perlakuan Alex saat di Mall dan perkataan tetangga kosannya. Ia hanya bisa diam, kemana ia akan mengadu rasa sakit itu. Kemana ia bersandar jika sandaran pundak dan bahu orang yang ia harapkan sudah mencampakkannya.
Bella hanya bisa memeluk hatinya sendiri. Menenangkan pikiran dan rasa sakit hatinya sendiri atas ucapan orang-orang yang tidak tahu permasalahannya.
Menyesal? Tidak! Bella tidak pernah menyesali semua yang sudah terjadi. Baginya yang terjadi selama ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya untuk mendewasakan diri sendiri dan membuat dirinya jayh lebih kuat menghadapi semua cobaan yang akan datang.
Merasa Reyhan sudah tertidur. Bella bangun untuk melipat baju-bajunya dan menyetrika seragam kerjanya. Setelah itu ia mengambil ponselnya dan melihat saldo terakhir miliki. Saldo tabungan yang dulu Alex pernah berikan padanya saat menjadi istri dan sebelum masa Iddahnya selesai.
“Apa cukup 500 juta untuk biaya pendidikanmu nanti, Nak. Bella jangan khawatir, Tuhan pasti menyiapkan rejeki untuk anakmu. Anakmu anak pintar. Yakin saja ke depannya Tuhan mempermudah semuanya.” Bella menghibur dirinya sendiri.
Tak lama terdengar pintu di ketuk. Bella kemudian menuju pintu untuk membukanya. Bella terkejut saat tahu siapa yang datang di kosannya.
“Ternyata kamu disini?” tanya orang tersebut.
“Iya, Maaf. Ada perlu apa ke kosan saya.” Bella melihat wanita dan pria tersebut sedikit ketakutan.
“Tidak ada. Hanya ingin melihat kondisi kamu dan anak kamu. Kamu pasti sudah tau saya, kan?” ujar wanita tersebut. Bella mengangguk ragu.
“Boleh, Masuk?” tanya wanita tersebut.
“Maaf, Anak saya sedang tidur. Jangan ganggu tidurnya. Dan untuk apa Mbak Iren datang kemari?”
“Tidam, aku hanya ingin tahu. Kamu mendapatkan apa saja setelah bercerai dari Mas Alex."
“Maaf, saya rasa itu bukan urusan Mbak Iren.”
“Itu menjadi urusanku. karena kita sama-sama mantannya!”
“Lalu?”
“Katakan dulu kau mendapatkan apa?”
“Maaf, Mbak. saya di nikahi Abang hanya beberapa bulan dan saya tidak menuntut apapun. Karena saya tidak gila harta. dan Saya masih bisa berdiri di kaki saya sendiri!”
“Yakin? Dengan anak yang tidak di akui, Alex!”
Bella benar-benar muak dengan semunya lalu ia menutup pintu begitu saja. Baginya pembicaraan seperti itu tidak penting.
Irene begitu kesal dan langsung pergi bersama Axel, Suami yang sekarang.
__ADS_1
“Padahal, Aku akan memberikan satu apartemen itu untuk anaknya!” ujar Iren pada Axell.
“Nada dan cara bicara kamu kurang tepat Irene. Besok di coba lagi. Kalau gak lewat pengacara saja.”