
Akhirnya kondisi Bella menunjukan kemajuan walau masih belum sadarkan diri. Namun ia belum bisa di kunjungi banyak orang bahkan keluarganya sendiri dan hanya Arya yang setia menunggunya
Namun saat Arya pergi ke kantin, Alex datang seperti biasa. Ia menyelinap sebagai petugas kesehatan dan kali ini dengan bantuan orang dalam. Ia membayar salah satu suster untuk membantunya masuk ke ruangan Bella. Setal masuk Suster tersebut mengawasi keadaan sekitar.
Alex menghampiri brankar Bella, melihat Bella masih memejamkan mata dan masih banyak alat yang terpasang di tubuhnya. Alex menggenggam tangan Bella sambil mengusap rambutnya.
“Ibel, Abang datang lagi. Bagaimana keadaan kamu. Cepat sadar ya, cepat pulih. Abang akan terus menjengukmu sampai kamu pulih.” Alex sedikit meremas jemari tangan Bella dan mendapat respon dari Bella. Bella membalas genggaman Alex seolah memintanya tetap disisinya. Air mata Bella kembali menetes.
Alex sedikit terkejut saat Bella meresponnya, ia senang Bella menunjukan perkembangannya. Alex mengusap air matanya.
“Jangan menangis, Abang datang kemari tidak untuk mengambil Reyhan. Reyhan anak kita akan tetap bersamamu. Abang tahu kamu tidak bisa hidup tanpa Reyhan.”
Perlahan Bella membuka matanya. Melihat ke arah Alex. Hanya air mata yang terus mengalir genggaman tangannya semakin erat. Ingin rasanya Bella mengucapkan sesuatu tapi lidahnya terasa kelu. Alex tersenyum saat melihat Bella membuka mata.
“Abang pulang dulu ya! Cepat pulih!” Alex mengusap air mata Bella lalu berbalik arah mengusap air matanya. Tangannya masih menggenggam erat tangan Bella. Saat melangkah tangan Bella menahan tangannya. Alex berhenti sejenak dan meoleh.
"Besok Abang kemari lagi!” Alex kemudian melepaskan tangannya dari tangan Bella, lalu menghampiri suster yang menjaga di pintu.
"Sus terima kasih. Oh iya. Nona Bella sudah membuka matanya. Tolong panggilkan dokter.” Alex memberikan amplop pada Suster tersebut.
"Baik tuan.”
"Esok saya akan kemari lagi. Tolong bantu saya lagi.” ucap Alex lagi sebelum melangkah keluar. Suster hanya mengangguk kemudian Alex pun keluar ruangan.
Setelah Alex pergi Suster tersebut menghampiri Bella dan melihat Bella memang membuka matanya dan menangis. Suster segera menekan tombol dan menyampaikan jika Bella sudah siuman.
"Sus, apa yang terjadi!” ujar dokter yamg menangani Bella saat tiba di kamar perawatan Bella.
"Pasien siuman, dok!”
Dokter mulai memeriksa Kondisi Bella dengan teliti. Dokter heran dengan semuanya. Bella terlalu cepat untuk pulih.
__ADS_1
"Sebelumnya apa yang membuat Nyonya Bella membuka matanya?” tanya Dokter.
"Em ... sebenarnya....” Suster itu ragu untuk menyampaikannya dan melihat Bella menutup matanya lagi.nNamun ia mendengar percakapan dokter dan Suter.
"Suster tolong jelaskan!” paksa dokter.
"Itu, dok. Ada seseorang yang yang di sebut Abang oleh Nyonya Bella. Sudah beberapa hari ini sering menjenguknya. Itu yang membuat Nyonya Bella memberi respon.”
Arya yang baru datang terdiam mematung mendengar Kalimat sister tersebut. Ia tidak menyangka Alex yang membuat Bella lekas pulih.
"A-bang,“ lirih Bella. Arya Mendekat dan melihat Bella.
"Dokter bagaimana?” Arya terus melihat Bella.
"A-bang, ja-ngan ... per-gi!” lirih Bella dan langsung tidak sadarkan diri.
"Sayang!” Arya meraih tangan Bella. Dan dokter serta Suster memeriksa kembali Bella.
“Dokter, apa yang terjadi, Kenapa istri saya tidak sadarkan diri lagi!” Arya begitu cemas.
"Sabar tuan. Nyonya belum sepenuhnya sadar. Tapi ini hal yang bagus untuk Nyonya Bella. Perkembangan begitu pesat. Saya harap Anda bisa lebih sering menghadirkan orang-orang yang ia cintai. Agar mereka memberikan dukungan. Maaf, jika boleh tau siapa yang dimaksud Abang oleh Nyonya, tuan.”
"Saudaranya.” Arya terpaksa berbohong. Mana mungkin ia berterus terang Jika yang di maksud 'Abang’ oleh Bella adalah mantan suami dari sang istri.
"Baiklah kalau begitu kami permisi. Jika ada sesuatu panggil kami." Dokter dan suster pun keluar ruangan.
Arya menatap Bella lalu duduk di kursi sambil menggenggam jemarinya. Arya tidak bisa berkata apapun dan memikirkan apapun. Dalam pikirannya saat ini Bella ternyata memang tidak bisa menghilangkan rasa itu terhadap Alex. ia tahu bagi wanita memang sulit untuk melupakan cinta pertamanya.
Arya mencoba memaklumi. Ia yakin suatu saat Bella akan benar-benar melupakan Alex. Ia juga tahu selama ini Bella berusaha mati-matian untuk mencintainya.
“Sayang! Ini Mas Arya! Cepat pulih ya. Aku akan selalu menunggumu. Besok Reyhan akan aku bawa kemari agar bisa melihatmu.
__ADS_1
Disisi lain Alex sudah sampai ke hotel. Ia duduk termenung di kursi di balkon kamar hotelnya. Pikirannya masih memikirkan Bella. Ia duduk bersandar tanpa sadar air matanya meleleh.
"Bella, ribuan kata maaf yang sudah Abang ucapkan padamu, mungkin tidak akan pernah bisa menebus kesalahan Abang padamu. Abang baru sadar, hidup tanpamu rasanya hambar. Awalnya rasaku ini hanya sebuah rasa kasihan tetapi, seiring waktu rasa itu berubah menjadi cinta. Abang sadar di usia Abang yang hampir 40 tahun tidak pantas lagi mengungkapkan kata cinta dan sejenisnya. Tapi percayalah hanya Kamu yang memberikan arti rasa itu,” Lirih Alex.
"Permisi tuan.” suara Ronald tiba-tiba mengagetkan Alex.
"Hm! Ada apa!”
"Ada Nona Mona!”
"Aku tidak ingin di ganggu dan sudah berulang kali aku katakan padamu. Jika ada wanita manapun yang mencari atau mendekatiku. Usir! Aku tidak ingin lagi ada wanita lain di hidupku! Paham!” Ujar Alex dengan lantang.
“Sampai kapan kamu menolakku Mas. Apa kamu tidak ingin Ara mempunyai Ibu. Aku ini bukan orang lain, Aku sepupu Ana yang ingin mendampingi Ara agar tumbuh di dampingi sosok Ibu!” Sambung Mona yang sudah berusaha mendekati Alex semenjak tahun lalu setelah kematian Anna, Kakak sepupunya.
“Ara sudah cukup memilikiku. Aku bisa membesarkan Ara sendiri dan mendidiknya sendiri.” Alex bangkit dari duduknya lalu berdiri di pinggir pembatas balkon.
“Mas, sampai kapan kamu menolakku?” Mona mendekati Alex.
"Apa kamu masih berharap pada mantan Istrimu, Bella. Dia sudah milik orang lain, Mas!”
"Lalu kenapa! Apa aku tidak boleh mencintai dia dalam diamku. Lalu untuk apa kamu ikut campur dengan urusan hati dan pribadiku. Kamu siapa dalam hal ini. Kamu hanya orang lain.” Alex benar tidak menyukai Mona yang terlihat mengatur hidupnya.
“Aku berbuat seperti ini, karena aku perduli denganmu, Mas! Aku perduli dengan Ara!”
"Cukup Mona! Pergi kamu dari sini! Dan ingat satu hal. Jangan pernah urusi masalah pribadiku dan keluargaku. Paham! Ronald!”
"I-ya tuan!”
"Kau tau tugasmu, Kan?”
“Baik, tuan. Nona mari!” Ronal mencoba memegang lengan Mona.
__ADS_1
“Jangan sentuh aku. Aku tahu pintu keluar!” Mona pun langsung pergi dari hadapan Alex dan Ronald.