DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 93 FOKUS KELUARGA SENDIRI


__ADS_3

Bella berkunjung ke rumah Wina untuk menjenguknya. Bella datang bersama Alex dan kedua anaknya serta sang baby sitter. Sebenarnya Bella ragu untuk datang ke rumah Bram. Akan tetapi ia juga tidak tega dengan kondisi Oma Wina yang selalu bertanya tentangnya. Sebab baik Bram dan Wina tidak mengetahui jika Bella dan Arya sudah berpisah. Dan Anak dan menantu serta cucunya juga tidak ada yang memberitahu pada Oma Wina masalah Arya dan Bella karena alasan kesehatan Wina.


Bella masuk ke dalam rumah Bram dengan sedikit ragu dan di sambut Arjuna yang kebetulan sedang berada di Surabaya untuk menjenguk sang Anak bungsu yang memang tinggal bersama sang suami di Surabaya.


"Selamat datang Bella, Alex,” ujar Arjuna saat di depan pintu.


"Terima kasih, Om.” Mereka pun bersalaman satu sama lain.


“Ya sudah, langsung ke kamar Mama, Mama sudah menunggu. Reyhan, Ara ke taman sama Opa dulu ya." Arjuna mengajak anak-anak Bella ke taman belakang. sedangkan Bella dan Alex menuju kamar Wina.


"Permisi...!” salam Bella melihat banyak orang di kamar Wina.


Utari, Arya, Bianca, Reza serta Diah istri Arjuna melihat ke arah pintu. Utari pun langsung memutar bola matanya tanda tidak suka melihat Bella dan Alex.


“Bella, kemari, Nak!” lirih Wina tersenyum bahagia melihat kedatangan Bella. Bella tersenyum lalu menghampiri Wina.


"Oma,” Bella menyalami Wina lalu menyalami Bram.


"Apa kabar, Oma. Maaf Bella baru sempat datang kemari.”


"Iya, tidak apa-apa. Kata Arya kamu sibuk kuliah dan kemarin baru Wisuda ya.”


"Eum ... iya Oma. Oma lekas sembuh ya.”


"Iya, Kamu mau tinggal disisi temani Oma dan Opa, Tinggal disini sama Arya dan anak kamu.”


Bella tersenyum lalu melihat sang suami kemudian melihat Arya yang hanya bisa duduk diam tidak bisa berbuat apapun. Tidak ada yang berani mengatakan yang sebenarnya pada Wina dan Bram.


“Maaf, Oma. Bukannya Bella tidak mau. Tapi ... sekolah Anak-anak dari sini sedikit jauh. Lagi pula ada Mbak Tasya sama papa dan mama.”


Bella sudah tidak bisa menahan air matanya yang. mengalir di pipi. Ia buru-buru mengusap air matanya. Ingin sekali ia mengatakan hal yang sebenarnya jika dirinya dan Arya sudah tidak lagi bersama.


Wina mengedarkan pandangannya dan melihat Alex yang duduk disofa di samping Arya.


"Itu siapa?” tanya Wina yang luoa dengan Alex.


"Itu Alex, Ma. Ayah kandung Reyhan,” saut Bram yang sedari tadi duduk di sampingnya.


"Oh, iya. Maaf sudah tua, sudah pikun.” Wina tertawa kecil.

__ADS_1


Utari yang tidak menyukai pemandangan tersebut pun memutuskan keluar di ikuti Arya.


"Mama kenapa setiap melihat Bella mukanya masam kayak jeruk nipis, kecut?” tanya Arya saat sampai di ruang tengah.


"Malas saja Mama lihat mantan istri kamu itu. Sok manis."


"Memang dia manis. Kalau tidak, mungkin Oma sesayang itu sama dia.”


“Halah!”


"Ada apa ini, berdebat terus, hm!”Abi tiba-tiba datang dan duduk di samping Utari. Abi mencium pipi sang istri. Utari hanya diam dan memperhatikan Abi. Utari melihat rambut panjang di kemeja putih Abi san tanda merah di leher.


Utari mengambil helai rambut tersebut dan memperhatikannya.“Ini rambut siapa panjang, warna hitam? Terus ini tanda merah apa?” tanya Utari penuh selidik.


Abi sedikit tegang dan berusaha bersikap santai.“ Tadi mampir ke Panti dan main sama anak-anak di sana. Mungkin itu rambut salah satu anak panti nempel di kemejaku.”


"Lalu ini merah bekas apa?”


"Itu...,"


"Jangan bilang Papa punya wanita lain selain Mama?”


”Aku bukan Utari yang polos lagi, Pa! Papa benar-benar.” Utari berusaha memukul-mukul Abi, Namun Abi mencekal tangannya.


"Mama tidak percaya lagi dengan Papa?”


“Gak!”


"Ok!” Abi berdiri lalu melangkah pergi.


"Papa mau kemana?” tanya Utari sambil memegangi tangan Abi.


"Papa mau ke kamar mandi, mau ikut?”


Utari begitu kesal lalu menghempaskan tangan Abi.“ Nyebelin!” Grutu Utari sedangkan Abi hanya tertawa kecil kemudian melangkah menuju kamarnya.


Arya yang melihat kedua orang tuanya hampir terkena serangan jantung, tetapi ia salut dengan sang Papa yang selalu bisa membuat alasan. Permainan Abi memang sangat rapi dan bisa meyakinkan sang istri.


Tak lama Arya menyusul Abi ke kamarnya. Arya melihat sang Papa sedang mengganti baju. “Papa stop, menjalin hubungan dengan Kalina. Kasihan Mama.”

__ADS_1


“Sudah, tidak usah ikut campur. Memangnya Papa ini kumpul kebo, papa dan Kalina sudah lama menikah dan kamu tau itu. Dan kamu juga punya adik, kan. Kamu saja yang tidak pandai seperti Papa. Sekarang kamu kehilangan semuanya. Ingat ya, hanya kamu keluarga yang tahu hal ini.”


"Lalu bagaimana dengan Mama? Kalau Mama tahu bagaimana. Mama sudah tua, Pa.”


“Papa tahu. Tapi ada satu hal yang sudah tidak bisa Mama kamu penuhi. You now lah, tidak perlu Papa jelaskan. Makanya sebisa mungkin papa adil. Papa juga laki-laki normal dan masih membutuhkan itu. Aku sarankan jika kamu nanti menikah lagi carilah yang lebih muda. Kalau mau seumuran tidak apa-apa. Mau uang lebih tua terserah kamu. Intinya papa hanya mengingatkan, kalau kita berbeda walau kamu anak Papa.”


"Astaga Papa! Bukan itu maksudku. menikah bukan hanya tentang ranjang tapi juga menjaga hati.”


"Kau tahu apa tentang menjaga hati. Kau sudah hebat? Arya ... kita berdua memang laki-laki. Tapi kita punya cara dan prinsip berbeda. Papa sudah ajarkan kamu banyak hal. Tapi tergantung kamu, bisa atau tidak. Yang jelas kamu tidak akan pernah bisa menjadi Papa.”


“Terserah Papa.”


"Nah, gitu dong! Cukup diam. Ok!”


Arya kemudian keluar dari kamar Abi, ia sudah tidak mau lagi ikut campur urusan rumah tangga orang tuanya.


“Tapi apa kabar anak Papa sama Kalina ya. Sekarang mungkin sudah sepuluh tahun,” batin Arya sambil berjalan ke ruang tengah.


Terlihat di ruang tengah masih ada sang Mama yang sedang berbicara dengan Arjuna dan Diah. Kemudian ia melihat Bella dan Alex baru keluar dari kamar Wina. Arya melihat senyum Bella yang seolah tanpa beban dan begitu mesra dengan Alex.


Bella berhenti di ruang keluarga hendak berpamitan.“ Maaf Om, Tante, em ... Nyonya Utari. Kami permisi. Ini terakhir kunjungan saya. Karena saya sudah berterus terang dengan Oma dan Opa tentang hubungan saya dan Mas Arya," ucap Bella.


"Bagus, jadi kita sudah tidak mempunyai hubungan. Saya harap kita tidak pernah bertemu lagi!” saut Utari sinis.


"Kakak, apa-apaan sih!” sambung Arjuna tidak terima.


"Kami juga tidak ingin lagi mempunyai hubungan dengan Anda Nyonya. Kami hanya menghormati Nonya Wina dan tuan Bram. Permisi.”


Alex merangkul Bella keluar dari rumah Bram lalu mengajak anak-anak mereka pulang.


“Kita sudah tidak ada hubungan apapun dengan mereka sayang. Jangan pernah lagi datang kemari, apapun itu. Abang sakit hati kamu selalu di rendahkan salah satu keluarga mereka,” Ucap Alex saat di perjalanan pulang. Bella hanya mengangguk dan tersenyum. Kini saatnya Bella fokus dengan keluarganya sendiri dan hidup bahagia.


***




__ADS_1


__ADS_2