
Bella akhirnya lolos memenuhi standar pencarian guru di sekolah Mahendra internasional school. Kini ia datang untuk seleksi terakhir disekolah. Acara di selenggarakan di lapangan tertutup di sekolah Mahendra.
Bella begitu antusias walau ia harus membawa sang bayi. Penyeleksi di awasi langsung oleh pemilik sekolah yaitu Ardan Mahendra serta sang anak yang kini menjadi kepala yayasan sekolahnya, Devan Mahendra. Serta beberapa dewan guru yang terlibat.
Bella duduk di antara peserta lainnya sambil memangku sang anak. Mereka semua sedang mengisi lembar tes sebelum masuk ke babak selanjutnya. Bella sedikit kesusahan sebab sang anak mulai sedikit rewel, mungkin karena banyaknya orang di sekitar dan lingkungan baru.
Ardan pemilik sekolah yang melihat Bella pun memberi isyarat pada sang anak, Devan untuk membantu Bella.
Devan berjalan menghampiri Bella. Bella begitu gugup, takut saat ada yang melangkah menuju arahnya. Apa sang anak begitu mengganggu, pikirnya.
“Maaf, Bu. Apa Anda membutuhkan bantuan? ” tanya Devan pelan. Bella mendongak sekilas tersenyum tipis dan membenarkan posisi Rayhan.
“Tidak, Pak. Maaf anak saya sedikit rewel.”
Devan tersenyum lalu mengambil Reyhan dari pangkuan Bella. Devan sekilas melihat nama Bella di kertas tesnya serta usianya.
“Biar anak Anda sama saya. Anda kerjakan tesnya dengan tenang.”
“Tapi, Pak!” jawabnya ragu'.
“Tidak apa-apa.” Devan tersenyum lalu membawa Reyhan bergabung dengan sang Papa.
Bella terus melihat Reyhan, ia khawatir Reyhan menangis. Tapi justru sebaliknya Reyhan tertawa di dalam gendongan Devan. Terlebih saat Devan mengajaknya bercanda.
Bella lega lalu ia melanjutkan mengisi tesnya dan sesekali melihat ke arah sang anak. Ardan tahu Bella khawatir, ia pun berjalan menghampirinya dan berdiri di sampo,ing Bella.
Ardan berdiri sambil melipat tangannya dan seolah tidak melihat Bella. Ardan berdiri tepat di samping meja Bella.
“Tidak perlu khawatir, anak kamu aman.” Ardan melihat Bella sekilas begitu juga dengan Bella, Bella mengangguk sopan lalu melanjutkan menyelesaikan tesnya.
Waktu terus berjalan hingga tes berakhir dan berlanjut di tes berikutnya. Bella mengikuti dengan tenang karena sang anak terlelap di gendong Devan.
__ADS_1
Akhirnya tes selesai dan pengumuman siapa saja yang di terima akan langsung di umumkan. Karena pihak sekolah tidak mau menunda, mengingat banyak peserta yang dari luar daerah, supaya tidak bolak balik. Sebelum pengumuman di mulai pihak sekolah memberikan izin istirahat untuk semua peserta. Kebetulan tes tersebut di adakan hari Minggu agar tidak menggangu jam pelajaran sekolah.
Saat istirahat Bella menghampiri Devan yang berdiri di dekat pintu masuk untuk mengambil anaknya.
“Permisi, Pak. Maaf.” Bella dengan sopan meminta Reyhan dari gendongan Devan.
“Oh, iya. Anak kamu lucu dan menggemaskan.”
“Iya, pak. terima kasih.”
“Memangnya tidak ada yang menjaga anak kamu? Sampai kamu bawa. Ayahnya tidak ikut.”
Bella hanya tersenyum canggung dan menggeleng sambil membenarkan gendongannya.
“Ayahnya kerja? Kenapa tidak di titipkan saudara, biar kamu juga tenang?” tanya Devan lagi. Devan penasaran kenapa Bella membawa anaknya yang masih kecil.
“Eum ... saya ... saya singel parent. Saya tidak mempunyai siapapun di sini. Suami saya bersama istrinya.”
“Ah ... eum ... Maaf sudah membuat Anda tidak nyamam.”
Awalnya Bella kesusahan mencari keberadaan kantin karena sekolahnya begitu besar dan rekan peserta lain sudah lebih dulu istirahat. Akhirnya ia hanya bisa melihat petunjuk papan nama.
Bella Memesan nasi dan soto saja. Karena ia membawa air minum sendiri dan uangnya pun pas-pasan jadi ia hanya memesan makanan sesuai isi dompetnya.
“Tidur dulu ya, Nak. Ibu makan dulu. giliran kamu nyusu.” Bella kemudian memakan dengan lahapnya. Ia begitu lapar karena biasanya ia tidak pernah telat makan dan saat ini sudah telat dua jam.
Dari kejauhan Devan melihat Bella, Ia tidak habis pikir kenapa wanita muda itu begitu gigih datang dari luar kota Jakarta. Ardan sang papa melihat Devan memperhatikan Bella pun menghampirinya.
“Kau kenal dia?”
"Gak, Pa! Cuma salut saja perjuangan sampai rela jauh-jauh dari Bogor bawa anak hanya untuk mengikuti tes di sini.”
__ADS_1
Ardan tersenyum tipis lalu memasukkan kedua tangannya ke saku celananya dan melihat Bella.
“Dia itu mantan istri ketiga Alex Felix Gunawan. Semua orang tahu kisahnya. Tapi disini Papa tidak mau mengurusi masalah pribadi. Jika dia berkompeten dan sesuai dengan Sekolah kita. Papa akan rekrut dia sebagai guru SD atau Playground di sini. Apa lagi sepertinya dia tidak mempunyai pengasuh untuk bayinya. Jadi cocok, kan kalau nanti lolos, Papa akan tempatkan dia di Playground sekolah balita, biar dia selalu bersama anaknya.”
"Kenapa Papa mempunyai pikiran seperti itu?”
"Karena anak itu butuh ibunya dan kamu tahu dia itu tidak mempunyai siapa-siapa.”
"Oh ... Devan mengerti Pa,” balas Devan, Ardan menepuk pundak Devan.
“Ya sudah, istri kamu dan Mama kamu sudah datang bawa makan siang.” Keduanya bergegas ke ruangannya karena, Neha, sang Mama dan istrinya, Bella juga datang. Kebetulan nama istri Devan juga Bella.
Bella selesai makan di kantin. ia pun menuju toilet untuk mengganti popo anaknya, Sebab Reyhan sedikit rewel. Setelah selesai Bella mengajak anaknya keluar dan membawanya ke taman anak TK agar sang anak tidak rewel. Bella duduk di ayunan sambil menimang dan menyusui Reyhan. Bella memilih taman karena tidak begitu banyak orang melihat.
Bella bernyanyi tertawa bersama sang Anak yang sedang menyusu. Ia begitu bahagia saat melihat anaknya tersenyum lebar.
“Doakan Ibu ya, Nak. semoga Ibu di terima di sekolah elit ini. Nanti kita pindah ke Jakarta. Kita ngkos di belakang sekolah ini. Biar gak jauh Ibu berangkat ke sekolahnya dan semoga dengan ini Ibu bisa belikan kamu baju, mainan. Biar kamu gak pakai baju bekas orang lain ya. Apa pun Ibu akan lakukan biar kamu kecukupan. Ya, Nak!” Bella mencium gemas pipi sang Anak.
Bella tersenyum begitu juga sang anak. Bella mengusap-usap rambut Reyhan. Tak lama ada suara terdengar memberitahukan jika pengumuman akan di mulai dan semua peserta di haruskan berkumpul kembali di lapangan tertutup. Bella bergegas menggendong bayinya dan membawa barang bawaan.
Bella terus berjalan menuju lapangan yang di maksud. Dengan rasa gugup, penasaran. apakah ia diterima atau tidak. Bella duduk di kursinya agak di belakang dan masih menggendong Reyhan.
“Untuk semua peserta yang jumlahnya ada 30 orang. apa sudah berkumpul semua?” seru salah satu dewan guru yang terlibat.
"Sudah, Pak!” balas mereka serentak.
“Baiklah untuk mempersingkat waktu. karena ini juga sudah mau menjelang sore. Jadi langsung saja ya. Hanya Ada 7 yang akan terpilih. Jadi yang tidak terpilih mohon maaf dan terima kasih sudah berusaha memberikan yang terbaik. Tapi di Mahendra internasional school memamg benar-benar sedang mencari guru atau seseorang yang berkompeten di bidangnya. Yang belum terpilih mohon jangan berkecil hati.”
Bella bertambah gugup dan was-was tapi semua ia serahkan kepada Tuhan. jika terpilih ia menganggap rejeki sang anak. Bella terus berdoa dalam hati semoga ia diterima.
“Yang saya panggil namanya, mohon maju ke depan ya.”
__ADS_1
“Bapak Regi, Ibu Marwa, Ibu Ayu, Ibu Dona, Bapak Hendrawan, Bapak Simon, yang terakhir Ibu Isabella dari Bogor.“
Bella bersungkur sujud syukur,bia begitu terharu seperti yang lainnya. Tidak menyangka ia akan lolos. Bella bangit lalu maju ke depan.