
Sesampainya di Surabaya. Alex mencari hotel untuk dirinya dan Baby sitter sang anak. Dirinya memutuskan akan berada beberapa hari Di Surabaya sampai Bella ada perkembangan.
“Ronald kau sudah mendapat informasi di mana Bella di rawat!” tanya Alex.
"Sudah tuan! Bu Bella di rawat di rumah sakit keluarga suaminya. Mila hospital.
"Di ruangan apa?”
“Orang saya mengatakan, Bu Bella masih di ruang ICU. Baru saja selesai operasi tapi kondisinya masih kritis. Bayi dalam kandungannya juga meninggal dan kabar buruknya rahimnya juga di angkat karena benturan keras di bagian perut mengakibatkan rahim bu bella rusak. Terjadi pendarahan hebat.”
Alex menghela nafas mencoba menahan sesak di dadanya. Ia begitu sangat bersalah pada Bella. Semenjak menikah dan bercerai kehidupan Bella begitu memperhatikan. Apalagi mengetahui jika Bella masih mencintainya. Tetapi ia sadar tidak mungkin ia meminta Bella untuk kembali karena Bella sudah menikah lagi. Maka dari itu ia tidak pernah menemuinya lagi agar pelahan Bella mencintai Arya.
“Lalu bagaimana dengan putraku?” tanya Alex melihat Ronald sambil mengenakan jaketnya
"Informasi yang saya dapat. Putra Anda di rumah keluarga tuan Abi.”
"Baiklah. Artinya putraku Aman disana. Ayo ke rumah sakit.” ajak Alex pada Ronald.
Mereka berdua ke rumah sakit di jam istirahat malam. Alex menyelinap dan menyamar? menjadi tenaga kesehatan. Alex masuk ke ruangan ICU saat tidak ada banyak Suster dan dokter lainnya, hanya ada satu suster yang menjaga.
"Sus, biar saya yang gantikan. Suster istirahat saja." ujar Alex yang menyamar menjadi bruder atau perawat laki-laki, entah dariana Alex mendapatkan seragam tersebut yang terpenting ia bisa melihat kondisi Bella.
“Oh, makasih ya. aku lapar banget. tolong di pantau ya!” balas suster tersebut sambil memberikan catatan medis pada Alex. Alex hanya mengangguk sambil membenarkan maskernya dan suster itu pun keluar.
Alex memperhatikan wajah Bella yang sebagian penuh luka dan tubuhnya penuh dengan alat medis. Ia pun meneteskan air mata tidak tega melihat kondisi Ibu dari putranya. Perlahan ia menggenggam jemari Bella sambil mendekatkan wajahnya di telinganya.
"Ibel, ini Abang. Kamu harus pulih, Reyhan anak kita sangat membutuhkanmu. Abang masih mencintaimu walau Abang tau, kita tidak mungkin lagi bersama, Abang terlambat menyadari cintamu pada Abang, Abang menyesal, jika waktu bisa di putar kembali. Abang tidak akan pernah menyia-nyiakan cintamu. Dosa Abang terlalu banyak padamu. Abang minta maaf. Kamu harus kuat. Kuat demi anak kita.”
Alex mengusap air matanya lalu melepaskan genggaman tangannya.
“Abang pulang dulu ya! Besok Abang pasti datang lagi, Kamu harus kuat demi anak kita,” lirih Alex di telinga Bella. Alex kemudian mengusap air matanya kembali. Tak lama ada suster yang masuk.
__ADS_1
"Aku udah selesai istirahat. Kamu sana istirahat. Pasien ada perkembangan tidak?” ujar Suster tanpa melihat Alex sambil mengenakan seragam khususnya.
"Belum ada. Ya sudah aku keluar!” Alex pun langsung keluar tanpa ada yang curiga. Setelah melepas semua atribut kesehatannya. Ia pun langsung menuju parkiran menyusul Ronald.
“Tuan, Bagaimana kondisi Bu Bella?” tanya Ronald melihat tuannya begitu lesu dan begitu sedih.
"Masih belum ada perkembangan. Kita kembali ke hotel. Esok kau cari tau perkembangan Bella dan aku akan datang di jam istirahat seperti saat ini.”
“Baik tuan!” Mereka pun kembali ke hotel.
Disisi lain setelah Alex pergi, Suster yang menjaga mendapati Bella menggerakkan jemarinya dan air matanya mengalir. Suster yang mengetahui pun langsung memberi tahu dokter diruangannya dan tak lupa memberitahu keluarga terutama Arya.
"Dokter!" Panggil Suster sedikit tergesa-gesa.
“Ya, sus!”
“Pasien atas nama Bella, sudah mulai menggerakkan jemarinya dan juga air matanya mengalir dok!” ujar suster sambil sedikit mengatur nafasnya.
"Sus, siapa tadi yang mengawasinya.”
"Aries, Maksud saya bruder Aries!”
"Bukanya dia libur!” balas Dokter heran melihat raut wajah suster yang juga tampak bingung.
“Terus dia siapa dok!”
"Sudah, nanti saja. Kamu pantau terus perkembangannya. jika ada peningkatan nanti pindah ke ruang perawatan.”
"Baik dok!”
Dokter pun langsung keluar dan menemui Arya.
__ADS_1
"Dok, bagaimana istri saya!”
“Sudah ada perkembangan lebih baik tuan. Tapi kita harus menunggu lagi ada peningkatan atau tidak. Jika esok sudah ada peningkatan, kami akan segera memindahkan Istri Anda ke ruang perawatan.”
"Syukurlah dok! Saya boleh masuk dok!”
"Silahkan tuan.”
Arya pun masuk dan melihat Bella yang air matanya masih mengalir. Arya mengusapnya dengan lembut lalu mencium keningnya.
"Bagaimana nanti aku menyampaikan jika Rahimmu sudah diangkat. Maafkan aku sayang, aku terpaksa menyetuji pengangkatan Rahimmu. Semua demi keselamatanmu dan Reyhan masih membutuhkan dirimu,” batin Arya sambil mengusap kepalanya.
“Sayang ini Mas Arya, suamimu. cepat pulih ya. Nanti kita bulan madu, karena kita kan belum sempat bulan madu setelah menikah,” lirih Arya di telinga Bella.
Arya Sekali lagi mencium keningnya kemudian keluar dari ruangan ICU. Ia melihat Bella dari kaca pembatas ruangan.
“Kakak, Bagaimana kondisi Mbak Bella?” tanya Tasya yang baru saja datang bersama dokter Wahyu. Dokter yang dulu yang menangani Bella saat Bella mengandung Reyhan. Wahyu sengaja ke Surabaya hanya untuk menjenguk Bella dan memang ia juga sedang mendekati Tasya.
"Sudah ada sedikit perkembangan,“ jawab Arya lesu lalu ia duduk di kursi tunggu.
Tasya duduk di samping Arya di ikuti Wahyu duduk di sebelah Tasya. Tasya memeluk sang Kakak memberi kekuatan. Ia tahu rasanya melihat orang yang dicintai dalam keadaan kritis di tambah Arya juga kehilangan calon anaknya yang sudah berusia 5 bulan di kandungan Bella. Apa lagi sekarang harapan Arya sudah pupus untuk memiliki anak sendiri dari sang Istri.
"Sabar ya kak! Yang kuat! Mbak Bella pasti pulih. Ini cobaan rumah tangga kakak, Kakak pasti bisa lewati bersama Mbak Bella.” Tasya mengusap punggung Kakaknya.
“Iya, Sya. Tapi kakak bingung bagaimana menjelaskan padanya kalau rahimnya sudah tidak ada. Apa yang harus kakak katakan padanya!”
“Itu pikirkan nanti kak. Yang terpenting Mbak Bella sehat dulu. Kuatkan mentalnya dulu kalau anaknya dalam kandungannya sudah tidak ada. Untuk sementara rahasiakan lebih dulu, kak.” Tasya masih memeluk sang kakak.
"Iya kau benar! Terima kasih.”
Wahyu hanya bisa diam mendengar semuanya. Ia bertanya dalam hati apakah Alex sudah mengetahui kalau Bella sedang terkena musibah.
__ADS_1