
“Mas ini kopinya.” Bella meletakkan secangkir kopi di meja kerja Arya. Namun Arya hanya diam, ia diam karena kecewa dengan Bella yang menyuruhnya menikah lagi.
“Sudah malam, Mas. Tidurnya jangan larut malam dan tolong jangan marah lagi, ini sudah dua hari Mas mendiamkan aku. Maaf jika aku salah, aku hanya ingin mengabulkan keinginan seorang ibu untuk anaknya. Karena aku juga seorang ibu dari seorang anak laki-laki.”
’Brakkk' Arya menggebrak meja sampai kopi yang di sajikan Bella tumpah, Bella begitu terkejut dan ketakutan melihat Arya yang tiba-tiba emosi.
"Maksud kamu apa? Kamu menyuruh aku menikah lagi. Iya jujur aku juga ingin punya anak sendiri tapi apa harus menduakanmu!”
Bella menahan air matanya. Kali ini mungkin ia harus berani dan tegas untuk meyakinkan suaminya. Ia tidak ingin mertuanya murka jika tidak berhasil membujuk Arya.
"Lalu dengan cara apa supaya aku bisa memberikanmu anak, Mas. Tidak ada cara lain selain kamu menikah lagi!”
“Apa kamu tidak mencintaiku lagi? Hah!” teriak Arya.
"Justru aku mencintaimu, Mas! Makanya aku menyuruhmu untuk menikah dan memiliki anak lagi. Jangan siakan hidupmu hanya untuk setia padaku yang tidak sempurna ini. Tolong jangan membuatku merasa bersalah karena hal ini. Keluargamu juga menanti cucu kandung darimu.” Mohon Bella menakup kedua tangannya di akhir kalimatnya.
"Kenapa kamu berbuat seperti ini, Bella. Kenapa? Hatimu terbuat dari apa?” lirih Arya memeluk Bella.
"Karena aku mencintaimu, Mas. Aku juga ingin tahu bagaimana wajah anakmu nanti. Apa setampan Reyhan!” Bella tertawa kecil, Namun air matanya menetes. Arya menyatukan keningnya.
"Bella,” lirihnya. Arya pun langsung mencium bibir Bella dan pada akhirnya mereka bergumul di ruang kerja.
Rasa cinta yang dulu tidak ada untuk Arya perlahan muncul sedikit. Tetapi kini mereka harus melewati masa yang tidak mudah, terutama untuk Bella. Ia harus membujuk sang suami sesuai permintaan Mama mertuanya. Walau sejati hatinya bertolak belakang
“Jadi, Mas mau ya, Nikah lagi!” ucap Bella saat mereka selesai.
“Aku tidak bisa menjawab, sayang.”
“Mas ... tolong segera beri aku jawaban. Biar nanti pernikahannya aku sendiri yang menyiapkan di rumah ini. Renata juga tidak ingin ada pesta besar. Hanya Renata yang bisa bantu Mas.”
“Tapi aku tidak mau jauh darimu. Nanti aku harus membagi waktu.”
__ADS_1
"Ya sudah, tinggal satu atap, kan setiap hari Mas bisa liat aku.”
Arya tersenyum lalu memeluk Bella. Bella berharap Arya menolak keras permintaannya. Tetapi sepertinya Arya setuju untuk menikah lagi. Bella hanya berharap ia sanggup menjalani semuanya.
“Jadi kapan mau menikahi Rena?”
“Terserah kamu, kamu yang menginginkan, kan.” Arya kemudian keluar dari ruang kerja menuju kamarnya.
Bella duduk lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Mama mertuanya. Bahwa Arya setuju untuk menikah lagi. Setelah itu Bella ke kamar sang anak.
Bella melihat Reyhan yang tertidur lelap lalu mengusap kepalanya. “Ibu sebenarnya tidak sanggup. Tapi demi Papa Arya dan Oma Utari. Apa daya, Ibu tidak bisa berbuat apa-apa. Ibu sadar posisi Ibu dan kondisi Ibu. Jika suatu saat Ibu benar-benar tidak sanggup. Ibu harap kamu selalu menemani Ibu ya, Nak. Karena hanya kamu yang Ibu punya.”
Bella benar-benar dilema dengan hatinya sendiri, tetapi ia harus memenuhi permintaan Mama mertuanya. Pernikahan yang baru saja berjalan dua tahun setengah, kini ia harus rela di madu.
Keesokan Harinya. Utari dan Ratna datang ke rumah untuk membicarakan semuanya. Bella hanya menerima mereka datang dengan pura-pura bahagia. Bahkan senyum dan tawanya ia palsukan.
“Jadi bagaimana, sayang? Kapan hari kamu menyetujui pernikahannya?” tanya Utari.
"Loh! Secepat itu!”
"Bukannya itu yang Mama mau!” balas Bella sambil meremas bantal sofa.
"Ya sudah kalau begitu Mama akan mempersiapkan semuanya.”
“Tidak, Ma! Saya yang akan menyiapkan semuanya. Pernikahan disini, tanpa pesta dan di hadiri keluarga inti. Oma, opa, papa, Tasya Dan Maaf saya tidak mengundang Tara dan istrinya. Jangan memberitahu keluarga yang lain. Cukup itu saja. Itu syarat dari saya.”
"Tapi, sayang .... ini kan pernikahan pertama untuk Rena!”
"Maaf, Ma. Ini pernikahan suami Bella. Saya yang memberi Izin. Jadi saya mengatur!”
Utari terdiam dan melihat wajah Utari yang sedikit kesal. “ Baiklah. Terserah kamu, yang penting pernikahan ini terjadi.”
__ADS_1
“Ada syarat lagi yang harus di penuhi.”
“Astaga sayang. Syarat apa lagi?” tanya Utari yang jengah dengan banyaknya permintaan Bella.
“Renata harus periksa kesuburan lebih dulu sebelum pernikahan berlangsung. Nanti ada surat perjanjian dari Mas Arya yang harus di setujui. Mas Arya sedang meminta pengacara untuk membuat surat perjanjian itu, mau tidak mau, suka tidak suka, Renata harus menyetujuinya.”
Utari begitu jengah lalu ia berdiri.” Memangnya waktu kamu di nikahi Alex, apa banyak persyaratan dari istri pertamanya. Kamu jangan banyak tingkah, Bella!”
“Tidak ada! Tapi aku punya hak untuk itu. Aku istri pertama. Tanpa izinku, Mas Arya tidak akan menikah dengan Renata, sesuai keinginan Mama. Jika dulu aku menjadi Mbak Ana, aku tidak akan pernah mengizinkan Abang untuk menikah lagi, sebab Mbak Anna masih memiliki rahim. Tapi ini khususnya berbeda. Saya tahu, sekarang saya tidak mampu untuk memberikan anak, maka dari itu saya meminta Mas Arya menikah dengan wanita pilihan Mama.”
“Sayang! Tolong ikatkan dasi!” seru Arya keluar dari kamarnya dan berjalan menghampiri Bella.
Bella berdiri tersenyum melihat suaminya, Bella berdiri di depan suaminya dan mulai merapikan kerah bajunya lalu mengikat Dasinya.
“Arya, Bagaimana kalau Ratna yang mengikat dasimu. Hitung-hitung belajar mengurusmu nanti!” ujar Utari.
“Maaf, Ma. Mas Arya masih mempunyai istri di depan matanya. Ratna, kan baru calon. Ini tugas saya sebagai istrinya. Nanti kalau sudah sah, boleh membantu saya mengurus Mas Arya!” balas Bella sedikit ketus.
Utari menghela nafas Panjang sedangkan Ratna terus memandangi wajah tampan Arya sambil tersenyum menggoda ke arah Arya yang tidak sengaja melihatnya.
"Ya sudah. Kalau begitu aku berangkat ke kantor. Ingat, kamu jangan terlalu kecapean. gunakan cuti kamu untuk istirahat dan bermain dengan Reyhan!” ujar Arya pada Bella lalu Arya mencium pipi, kening dan terakhir bibir Bella beberapa kali.
"Sudah, Mas! Iya ... aku cuma bermain dengan Reyhan.” Bella menyalami Arya dan sekali lagi Arya mencium bibir Bella. Setelah itu, Arya menyalami Utari dan mencium pipinya.
"Rena, kamu juga Salim dengan Arya!” pinta Utari. Arya melihat Bella yang tampak senyum.
Saat Renata mengangkat tangan untuk menyalami Arya, Bella sigap memegang tangan Rena. “ Ada waktunya dan ini belum saatnya. Kalian belum menikah!” tegas Bella lalu tersenyum. Rena tampak kesal, Namun sikapnya biasa saja dan hanya tersenyum tipis, Tetapi dalam hatinya ia mempunyai rencana.
“Ya sudah! Mas berangkat, nanti terlambat.”
Arya tersenyum lalu keluar rumah. Sepanjang perjalanan ke kantor, Arya terus merenungi sikap sang istri yang begitu memohon padanya untuk menikahi Renata. Apa dia sanggup memenuhi permintaan sang istri?
__ADS_1