DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 75 LAURA INGIN PENGAKUAN


__ADS_3

Bella menangis di dalam doanya. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Semua ia serahkan pada yang kuasa. Setelah selesai berdoa Bella melihat suaminya yang sedang tidur pulas. Ia masih tetap menangis memikirkan sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan yaitu perpisahan untuk kedua kalinya di pernikahan keduanya.


Bella mengusap air matanya lalu ia bangkit lalu duduk di sofa dan merenung tanpa sadar ia pun tertidur di sofa tanpa Arya tahu.


Pagi harinya Arya bangun lebih awal dan tidak mendapati sang istri di sampingnya. Ia menoleh dan mencari keberadaan sang istri. Arya melihat Bella tidur di sofa dengan posisi duduk dan masih menggunakan mukena.


"Sayang, Bangun.“ Arya mengusap lembut pipi Bella. Bella tersentak lalu menutup wajahnya.


"Maaf, Mas. Aku ketiduran di sofa. Jam berapa?” tanya Bella.


“Baru jam setengah empat.”


"Mas butuh sesuatu?” tanya Bella sambil membuka mukenanya.


"Kamu masih mau melayaniku.“ Arya kembali mengusap lembut pipi Bella. Bella tersenyum tipis.


"Aku masih istrimu. Tentu saja aku akan melayanimu, apapun itu.”


Arya mulai mengecup kening Bella lalu mengambil mukenanya dan meletakkannya di sofa. Arya membopong Bella ke tempat tidur. Bella melayani Arya seperti biasa. walau hatinya gundah dengan pertemuannya nanti dengan Laura dan keluarga suaminya. Sudah pasti ia yakin tidak ada yang membelanya bahkan ia yakin mama mertuanya akan mendukung Laura, Ibu dari cucunya.


"Mas pelan, sakit.” lirih Bella mencengkeram erat bantal. Arya tidak menghiraukan suara lirih Bella. ia terus terbawa hasratnya menggebu. Semakin mendengar rintihan Bella yang kesakitan ia semakin menyukainya.


Bella hanya pasrah mengikuti permainan sang suami hingga selesai. Bella terdiam dan tersenyum tipis saat Arya bangkit dari atasnya. Nafas Arya terengah-engah mendakan ia puas setelah beberapa hari Bella tidak melayaninya.


"Mas, Aku mandi dulu ya. Sudah Adzan subuh.”

__ADS_1


"Iya, Terima kasih ya.”


"Bella tersenyum lalu ia bangkit kemudian meraih piyamanya. Ia mengenakan piyama lalu menuju kamar mandi.


Disisi lain kabar tentang Bella dan Laura sudah terdengar di telinga Alex. Alex mendapatkan berita tersebut dari Narti, Alex memang lebih sering menanyakan Reyhan pada Narti, karena ia tidak ingin membuat Arya cemburu jika ia setiap hari bertanya tentang Reyhan pada Bella.


“Bella, aku yakin kamu pasti kuat. Karena kamu wanita dan Ibu hebat. Jika kamu tidak sanggup beritahu Abang. Abang akan menjemputmu. Abang akan menebus semua kesalahan Abang di masa lalu, Abang akan berusaha membahagiakan kamu walau Abang tau kondisi Abang tidak sebaik seperti dulu,” batin Alex saat ia selesai shalat subuh.


Alex memandangi fotonya bersama Bella saat awal-awal menikah. Alex begitu merindukan Senyum Bella yang begitu ceria dan sikapnya yang manja padanya. Bisakah ia mendapatkan kesempatan kedua untuk membahagiakan Ibu dari sang anak.


“Kamu ngapain Lex?” tanya Nenek tiba-tiba masuk kedalam kamar cucunya.


"Nenek. Tidak ada Nek. Baru selesai shalat subuh.”


"Oh iya, Bagaimana kabar Bella kemarin?” tanya Nenek sambil mengunci ban kursi rodanya.


"Kamu kenapa tidak menikah lagi! Ara juga butuh sosok Ibu di kesehariannya.” Nenek mengusap lembut rambut cucunya itu.


“Bagi Ara, Mamanya adalah Bella. Dia tidak masalah ketemu Bella satu bulan sekali. Bagi Alex, Tidak ada yang lebih baik selain Bella untuk menjadi Ibu dari anak-anak Alex, Nek. Mungkin jika Anna masih ada Anna lah yang terbaik untuk Ara. Intinya seorang Ibu pasti akan memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Untuk apa Alex menikah jika hati Alex tidak siap untuk menjalin hubungan dengan wanita lain. Tidak Nek! Alex tidak ingin menyakiti perasaan banyak wanita. Cukup Anna, Iren dan Bella yang merasa tersakiti dengan sikap Alex."


“Bilang saja kamu masih mengharapkan Bella, tidak usah banyak alasan.”


"Nenek, Nenek memang tahu isi hati Alex. Doakan saja ya, Nak. Semoga Tuhan masih memberikan kesempatan itu.”


"Ngimpi, Dapurmu!”

__ADS_1


Nenek dan Alex tertawa, akan tetapi dalam hati sang Nenek juga mengaminkan keinginan Alex.


Bella menjalani aktivitas seperti biasanya. Mengajar begitu juga Alex. Arya yang memilih untuk tidak ke kantor karena ingin menjemput Laura dan anaknya untuk di bawa ke rumah utama sesuai perintah Abi untuk mengambil jalan tengah atau solusi terbaik untuk semuanya walau nanti pasti ada yang tersakiti.


"Kenapa mendadak memberitahuku, Arya! Aku ada jam praktek di rumah sakit. Aku baru saja di terima di rumah sakit sebagai dokter di sana!” ucap Laura saat Arya menjemputnya.


Laura sudah siap berangkat, jas dokternya juga sudah ia kenakan. Laura terpaksa absen di hari pertamanya bekerja.


"Aku tahu. tapi masalah ini biar cepat selesai!”


"Masalah? Masalah ini kamu yang ciptakan. Seharusnya kamu pikir sebelum menikahi wanita malang itu. Aku sudah tahu kisah istri sahmu itu. Kamu jatuh cinta sama dia karena kepolosan dan kebaikannya, kan? Sampai kamu mengorbankan cinta kita. Arya ... kita dulu saling mencintai. Iya! Aku dari dulu memang matre. Tapi menurutku itu tidak salah. aku istrimu dan sampai saat ini aku juga masih istrimu, walau aku tahu kamu sudah mentalakku. Tapi baru talak satu. Aku masih punya hak untuk menuntut banyak darimu. Aku bisa saja melaporkanmu ke polisi atas pelantaran kedua anakmu selama dari kandungan dan saat ini sudah dua tahun.” Laura duduk di sofa.


"Aku hanya berucap sekali, kenapa kamu jawab panjang lebar!” balas Arya merasa tersudutkan.


"Itu kenyataan, tuan Arya yang terhormat. Aku hanya ingin menyampaikan betapa sakitnya aku menghadapi kota London sendirian dalam keadaan hamil. Aku pulang ke Indonesia juga butuh perjuangan untuk mendapatkan visa ke dua anakmu. Memang aku datang kemari untuk menuntut hakku dan hak anakku.”


"Ok, kamu mau berapa!”


Seketika Laura menampar Arya.“ Dengar ya Arya! Tidak semua masalah bisa di selesaikan dengan uangmu ataupun uang keluargamu, yang kekayaannya tidak akan pernah habis sampai anak kita memiliki cucu.” Laura begitu geram dengan sikap Arya.


"Aku memang istri sirihmu tapi aku istri pertamamu. Siapa yang mengizinkan kamu menikah lagi, Hah!”


"Lalu apa maumu!” teriak Arya.


"Aku tidak mau kamu ceraikan dan aku mau pernikahan kita di sahkan agar anak kita mendapatkan status yang sah. Itu sebagai ganti rugi kamu sudah menelantarkan kami. Untuk istrimu itu aku tidak peduli kamu mau apakan. Aku masih memegang surat perjanjian pernikahan sirih kita. Aku bisa ajukan sidang isbat kapanpun aku mau. Biar semua orang tahu kalau cucu tertua Sanjaya tidak sebaik seperti karirnya. Ingat Arya! Aku bukan Bella yang lemah. Yang bisa kamu bodohi dengan rayuan mautmu. Aku hanya bersikap tegas dan realistis. Paham! Paham dong. Kamu tau aku bagaimana, kan!”

__ADS_1


Arya terdiam. Semua yang dikatakan Laura itu benar, Mungkin selama ini ia memang lebih brengsek dari Alex.


__ADS_2