DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 51ENCINTAIMU SELAMANYA.


__ADS_3

“Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Jika dalam hal mendampingi anak-anak di sini banyak kesalahan.” ujar Bella saat berpamitan pada Ardan karena ia di mutasi dan pindah ke Surabaya.


“Iya, sama-sama. Saya juga banyak terima kasih dan minta maaf mewakili guru-guru yang lain dan saya harap nanti di sana Ibu Bella bentah mengajar disana. Nanti Ibu temui saja Pak Ridwan selaku pengelola yayasan disana.”


“Baik, Pak.”


"Oh iya. jangan lupa jika kalian menikah nanti undangannya. Saya dan keluarga pasti datang.”


Bella tersenyum melihat Arya yang duduk di sampingnya dan sendang memangku Reyhan


“Itu sudah pasti, Kak. Pasti Keluarga di Jakarta akan kami undang semua,” sambung Arya.


"Kalau begitu kami pamit, siang ini kami langsung terbang ke Surabaya,” pamit Arya pada mantan suami sepupunya itu.


“Iya, hati-hati!” Mereka semua bersalaman lalu Bella dan Arya keluar dari ruangan Ardan.


Bella dan Arya pun langsung menuju bandara bersama sang adik, Tasya. Abi dan keluarganya pun sudah menunggu di bandara.


Sesampainya di bandara, Mereka pun langsung naik pesawat menuju Surabaya. Di perjalanan Bella sepertinya lega sudah menjauh dari kota Jakarta. Ia tidak takut lagi anaknya akan di ambil mantan suaminya.


Reyhan tertidur didalam pesawat di pangkuan Abi sedangkan Bella duduk bersandar di pundak Arya.


Hanya selang hampir dua jam diperjalanan akhirnya mereka tiba di bandara. Mereka di jemput sopir keluarga Sanjaya dan langsung menuju rumah Bram. Bram dan Wina menyambut kedatangan Abi dan anak serta calon menantu mereka.


“Selamat datang cucuku!” Seru Wina menyambut Abi. Wina merentangkan tangannya sambil masih duduk di kursi rodanya. tak lama Bram datang dengan berjalan dengan tongkat menghampiri Abi dan cucu-cucunya.


“Oma, Arya rindu oma.” Arya memeluk Wina sedikit lama.


"Mana calon istrimu?” tanya Wina. Arya melepaskan pelukannya lalu melihat Bella. Bella berjalan menghampiri Wina dan sedikit canggung dan malu. Bella berlutut mensejajarkan tingginya dengan kursi rodanya.


“Ini namanya Isabella?” Wina mengusap lembut rambut Bella.

__ADS_1


"Iya, Oma! Saya isabella.”


"Cantik. Aura kamu keibuan. lemah lembut. pantas cucu Oma sekali lihat kamu langsung jatuh hati. Arya ini seperti Opanya. Apa kata anak jaman sekarang. Garcep!” suara gelak tawa mengisi ruangan tamu yang begitu besar.


“Cucu opa, harus seperti Opa dong!”


"Iya! Tapi gilanya kayak papa waku muda?” saut Tasya memeluk Bram dari belakang.


"Kamu ini, kamu sama saja. kayak Mamamu!” ujar Bram beralih merangkul Tasya.


"Pa-pa!” seru Reyhan tiba-tiba. Reyhan berjalan selangkah dua langkah menghampiri Arya.


Abi sengaja membiarkan Reyhan berjalan, karena sedari tadi ia ingin turun. Rupanya ini pertama kali Reyhan bisa berjalan. Bella begitu terharu melihat perkembangan sang buah hati. Semenjak dekat dengan Arya pertumbuhan maju begitu pesat.


"Anak papa sudah bisa jalan. Ayo sayang kemari!” Arya mengulurkan kedua tangannya, dengan tertatih Reyhan berjalan menghampiri Arya.


Gelak tawa mewarnai semuanya. Wina juga terharu, sudah lama rumahnya tidak ada tangis dan tawa bayi. karena tidak semua anak dan cucunya tinggal bersamanya. Hanya Abi dan Utari serta Arya yang tinggal bersamanya. Tasya sendiri jika di Surabaya ia memilih tinggal di rumahnya sendiri begitu juga Tara.


"Harus dong! Sekalian menyambut kedatangan cucu menantu tertua di rumah ini. Ya, kan Oma, opa!” saut Tasya.


"Iya sayang!” sambung Wina sambil memegang tangan Bella.


Bella tersenyum, ia senang di sambut dengan begitu baik di keluarga Arya. Bella melihat anggota keluarga Arya satu persatu yang begitu senang dengan adanya Reyhan. tidak terasa ia meneteskan air mata, teringat ayah, ibu serta nenek dari Alex yang menyambut baik dirinya.


Ingatan Bella kembali pada Alex. Andai saja orang yang menimang putranya saat ia ini adalah papanya sendiri mungkin ia bahagia. Namun ia juga ingat bagaimana Alex mencampakkannya begitu saja, rasanya sakit luar biasa. Hatinya kecilnya memamg tidak pernah bisa untuk melupakan cinta dan bencinya pada Alex. Mungkin hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.


"Ya sudah, Arya ajak Bella ke kamar kamu. Kamar kamu sudah di siapkan Bibi. Nanti kamu bisa tidur di kamar lain sebelum menikah!” ujar Wina.


“Gak boleh tidur bareng, Oma!” balas Arya sambil tertawa.


"Heh!! Gak boleh!”

__ADS_1


“Di Jakarta ya Oma, Kak Arya itu udah satu kamar, tidur bareng!” celetuk Tasya memanasi .


“Kamu ya Arya! Bikin malu!” teriak Wina sambil memukul lengan Arya.


“Kan gak buka baju Oma, ngapain malu. lagian gak ngapa-ngapain! cuma meluk doang! Ya kan bro! Kan aku tidur juga temenin kamu!” balas Arya dan berbicara dengan Reyhan di akhir kalimatnya.


“Kamu. Awas aja kalau sampai melakukan yang belum sah ya!” Ancam Wina.


"Nikah sirih aja dulu. lagian seminggu lagi kan pernikahannya!” balas Tasya sambil memakan buah apel.


"Gak usah jadi kompor mleduk, Sya!” balas Arya di iringi tawa semuanya.


Bella kemudian berlutut di hadapan Wina lalu tersenyum Sambil meraih tangan Wina yang kini sudah keriput karena usia sudah 80 tahun-an.


“Oma, Sebelumnya Bella minta maaf. Kami tidak melakukan apapun Oma. Saya pribadi masih tahu batasan saya. Saya seorang ibu yang harau menjadi contoh yang baik untuk anak saya. Kami hanya sekali satu kamar Oma karena ada suatu hal yang membuat saya takut dan akhirnya Mas Arya menemani saya,” jelas Bella dengan lembut.


"Iya, Oma percaya sama kamu. Tapi Oma itu gak percaya sama dia itu! Imannya emang kuat Imronnya kuat gak!”


“Kenapa segala Imronku di bawa-bawa sih, Oma. masih aman dalam ditempatnya!”


Semua tertawa mendengar kekonyolan Arya. kecuali Tara hanya diam dan tersenyum tipis bersama sang istri.


"Sudah-sudah! Bella kamu istirahat ya.” Bram mengusap lembut rambut Bella. lalu Bella bangkit kemudian mengikuti langkah Arya menuju lantai atas.


Semua mata Keluarga tertuju pada Bella dan Arya yang sedang menaiki tangga. Betapa jelasnya Arya begitu mencintai dan menyayangi Bella dan Reyhan. Mereka berharap ini terakhir Arya berpetualang dengan cinta.


Sesampainya di kamar. Bella begitu takjub melihat kamar Arya yang begitu megah. terlihat foto keluarga dan foto dirinya. Pandangan mata Bella terhenti saat melihat foto pernikahan Bram dan Wina. Bella begitu terpesona dengan kecantikan dan wibawanya Oma dan Opa calon suaminya.


"Ini Oma dan opa waktu muda, kan?” tanya Bella memastikan.


"Iya. Dulu kamar ini punya Opa dan Oma, sudah banyak di renovasi sih. Tapi foto itu aku sengaja tidak aku pindahkan. Karena melihat Oma dan opa yang begitu saling mencintai. Aku jadi ingat seperti Opa yang mencintai Oma sampai sekarang. Dan aku hanya ingin mencintaimu selamanya!” Arya merangkul Bella kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Terima kasih, Mas!” Bella mencium pipi Arya.


__ADS_2