
Bella berjalan keluar dari sekolah. Ia berjalan menghampiri sopirnya. Namun saat hendak masuk mobil ia melihat seorang anak yang hendak menyeberang.
"Pak sebentar ya!”
“Mau kemana Nyonya?” tanya sang sopir melihat Bella menghampiri seorang anak. Bella hanya mengangkat tangannya agar sang sopir menunggu.
“Kamu mamu kemana,Nak?” tanya Bella pada anak tersebut.
"Mau nyebrang, Bu. Mama saya ada di sebrang.”
"Ya sudah. Ibu bantu ya. Tapi nyebrangnya jangan disini. Di zona penyebrangan ya. Di sana ada pak satpam yang suka bantu anak sekolah menyebrang.”
"Tapi saya kan buka anak sekolah sini bu.”
“Tidak apa-apa. Siapa yang mau marahin kamu. Yuk ibu bantu.” Bella mengajak anak tersebut menuju zona penyebrangan lalu meminta satpam itu menyebrangkan anak tersebut. Setelah itu Ia Kemabali ke mobilnya.
"Sudah, Pak. Ayo pulang.” Bella masuk ke dalam mobil dan sang sopir malajukan mobilnya.
Pandangan Bella menerawang keluar jendela mobil. Memikirkan orang yang membeli rumahnya. Siapakah ia sebenarnya. Kenapa orang lain yang mengurusinya. Ia teringat Rumah peninggalan orang tuanya dan banyak kenangan disana. Dirumah itulah ia menikah dengan Alex dalam keadaan berduka. pernikahan yang ia harapkan sampai menua bersama Alex walau saat itu ia belum mencintainya.
"Nyonya, di depan macet,” seru sopir.
"Tidak apa-apa, pak. Saya tidak buru-buru. Mas Arya juga ada meeting.”
Tiba-tiba mobil yang di tumpanginya di tabrak mobil lain dari belakang.
’Brak! Brak! Brak!’ Suara tabrakan beruntun. Bella seketika tidak sadarkan diri begitu juga sang sopir. Banyak warga yang melihat kejadian tersebut berteriak minta tolong terlebih korban yang masih selamat. Beberapa warga juga menolong korban yang masih selamat.
Berita langsung menyebar karena informasi dari internet begitu cepat dan bisa di akses lewat ponsel masing-masing.
Disisi lain, Arya batu saja selesai meeting membuka ponselnya. ia melihat pesan singkat dari sang istri jika sudah di perjalanan pulang. Tak lama ia tidak sengaha melihat siaran televisi yang ada di kantornya. Bukan hanya Arya yang melihat beberapa karyawannya juga melihat, sebab jam makan siang.
Arya terkejut saat melihat berita televisi dan memperlihatkan mobil yang tidak asing. Mobil yang ditumpangi istrinya. Awalnya ia ragu lalu mendekat ke arah televisi. Akhirnya ia yakin itu mobil miliknya yang ia berikan untuk sang istri alat transportasinya.
"Bella!” pekiknya lalu ia berlari menuju lift.
Di perjalanan ia menghubungi pihak rumah sakit milik keluarganya apakah sudah mendapatkan informasi kecelakaan. karena lokasi kecelakaan tidak begitu jauh dari rumah sakit.
"Hallo Raffi!” Arya menghubungi adik sepupunya anak dari Bianca buang berprofesi sebagai dokter umum di rumah sakit milik opanya.
__ADS_1
"Ya Kak?” jawabnya santai.
"Apa Pihak rumah sakit sudah mengirim tenaga medis di kecelakaan dekat rumah sakit.”
"Iya kak. Baru saja beberapa ambulans dan tim kesehatan berangkat! Kenapa?
"Bella Kakak kamu ada di kecelakaan itu!”
"Apa!? Baik kak aku akan datang langsung kesana dengan ambulans satu lagi untuk segera menyelamatkan kak Bella!” Raffi segera menutup ponselnya dan langsung menuju lokasi kecelakaan bersama tim medisnya.
Arya begitu gelisah saat mengendarai motor menuju lokasi. Ia sengaja meminjam motor salah satu karyawannya agar cepat sampai ke lokasi.
Sesampainya di lokasi sudah banyak tim medis dan polisi. Arya melewati beberapa orang untuk mencari mobil sang istri. Ia melihat Raffi dan tim medis serta kepolisian sedang mencoba mengevakuasi korban yang tak lain istri sendiri. Posisi Sopir dan Bella terjepit badan mobil tapi beruntung masih ada tanda-tanda kehidupan.
"Bella!” teriaknya dan tidak percaya separah itu kecelakaan yang dialami sang istri.
"Kak! Sabar, kami sedang berusaha mengevakuasi kak Bella dan sopirnya.” Raffi berusaha mencegah Arya untuk mendekat ke mobil istrinya.
“Lepaskan aku aku juga ingin menyelamatkan istriku.“
"Sabar Kak. Tidak sembarangan mengevakuasinya!”
Arya terjatuh lunglai melihat istrinya yang tidak sadarkan diri dan terhimpit badan mobil. Setelah satu jam akhirnya Bella dan sopirnya berhasil di keluarkan dari himpitan mobil dan langsung di bawa ke rumah sakit begitu juga korban lainnya.
"Harusnya aku menjemputmu, Sayang!” lirih Arya.
"Arya!" Panggil Utari yang baru saja sampai bersama Abi.
"Mama!” Arya langsung memeluk sang Mama dan masih menangis.
"Istriku, Ma. Istriku!"
"Iya, Bella pasti selamat. Kamu tenang.”
“Bagaimana Arya bisa tenang, Ma. Kondisi Bella....” Arya tidak melanjutkan kalimatnya karena melihat Raffi keluar dari ruang IGD.
"Raffi, Raffi. Bagaimana keadaan Bella.”
"Kritis kak. harus segera di operasi untuk mengeluarkan bayinya, bayinya sudah meninggal di dalam perut. dan tiga tulang rusuk Bella patah. Kami juga membutuhkan beberapa kantong darah untuk bella.”
__ADS_1
“Ambil saja darahku, Raffi. Tolong selamatkan Bella.”
“Baik Kak. Saya akan memberitahu dokter kandungan serta dokter yang akan mengoperasi tulang rusuk Bella. Doakan Bella kuat karena Opera ini butuh waktu lama.”
"Terserah mau berapa lama operasinya. Tapi tolong selamatkan istriku.”
Raffi mengusap pundak Arya.” Kami akan berusaha.” Raffi kemudian meninggalkan Arya dan semuanya untuk menghubungi dokter yang ia maksud dan di ikuti Abi. Abi juga ingin yang terbaik untuk sang menantu.
"Ma ... bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Bella. Reyhan bagaimana. Pasti akan mencari Ibunya.“ lirih Arya terduduk di kursi tunggu sambil menjambak rambutnya sendiri.
"Doakan yang terbaik Arya!. Jangan berpikir terlalu jauh.”
“Keluarga Nyonya Isabella!” panggil Suster.
"Saya sus! Saya suaminya.“ Arya menghampiri suster tersebut.
"Begini tuan, Kami sedang mempersiapkan operasi. Persediaan darah kami telah tinggal 1 kantong. Dan tuan harus menyediakan 2 kantong darah lagi.”
“Iya sus, darah saya sama dengan istri. Ambil darah saya.” Arya begitu cemas, panik gelisah dan ketakutan.
"Baiklah ikut saya.”
Arya mengikuti langkah suster untuk tes darah lebih dulu. Lalu suster tersebut pun mengambil darah Arya.
Disisi lain Alex tiba-tiba tampak gelisah memikirkan Bella. ia bekerja pun tidak fokus.
"Ibel, Apa yang terjadi padamu, Semoga kamu baik-baik saja,” batin Alex sambil melihat sang Anak yangvia bawa ke kantor bersama baby sitternya. Sebagian ruangannya ia sulap menjadi tempat bermain sang anak dan ia sediakan tempat tidur minimalis untuk anak nya serta ia sekat.
"Tuan!” panggil asistennya
“Kau bisa kecilkan suaramu!” Geram Alex melihat tajam asistennya.
"Maaf tuan, Saya hanya memberitahu kabar kecelakaan di Surabaya di dekat Bu Bella mengajar disana!”
"Lalu apa hubungannya denganku?”
"Bu Bella salah satu korbannya!”
“Apa?“ Alex terperanjat dan tidak percaya. kemudian ia menghidupkan televisi dan mencari kabar berita kecelakaan tersebut. ia juga membuka ponselnya dan mencari berita di sana.
__ADS_1
"Ronald siapkan penerbanganku ke Surabaya sekarang. Mbak, siapkan Ara dan kita ke Surabaya sekarang.”
"Baik tuan!” jawab keduanya.