
Satu bulan sudah Bella tidak di temukan keberadaannya oleh sang suami. Alex benar-benar frustasi mencari keberadaan Bella. Sudah banyak orang yang ia kerahkan untuk mencari keberadaan Bella. Namun nihil. Ia begitu khawatir kondisi Bella dan calon bayinya. Ia juga sudah mencari ke kampung halamannya tetapi Bella tidak kembali ke kampungnya di Surabaya.
“Kemana lagi aku harus mencarinya, Na. Ini sudah satu bulan.
“Sebentar, Mas.” Ana tiba-tiba berlari kecil menuju kamar mandi dan mengeluarkan isi perutnya di sana.
“Na, kamu kenapa?” tanya Alex heran mendengar Ana tiba-tiba muntah di kamar mandi.
“Gak apa-apa, Mas. gak tau tiba-tiba mual cium bau aroma parfum kamu,” balas Anna saat keluar dari kamar mandi.
Alex mengerutkan dahinya dan mencium jasnya sendiri. Bukannya ini parfum kesukaannya.
Alex mendekati Anna, Namun Anna menyetop Alex agar jangan mendekat sambil satu telapak tangannya menutup mulut dan hidungnya.
“Jangan deket-deket, Mas. Aku cium Bau parfum kamu, aku mual lagi.”
Alex menggaruk kepalanya lalu keluar kamar lebih dulu. Alex menuju ruang makan tak lama Anna menyusul, namun ia duduk di ujung meja sama seperti Alex duduk di ujung meja satunya. Nia sang asisten rumah tangga heran melihat dua majikannya itu saling duduk berjauhan.
“Nia tolong buatkan saya jus mangga ya.”
“Hah? Tidak biasanya Nyonya minum jus mangga pagi-pagi.”
“Sudah sana buatkan.” Anna mulai mengambil sarpannya.
Alex melihat istri pertamanya itu dengan heran, Kenapa seperti Bella saat pertama kali hamil.
“Kamu sakit?” tanya Alex.
“Gak tau, Mas. Tapi rasanya badanku itu lemes. Tiba-tiba kayak capek, Bau parfum aja tiba-tiba mual.”
“Kamu hamil?”
“Hah?” Anna mengingat terakhir ia datang bulan.
“Telat 3 minggu.”
Alex dan Anna saling pandang penuh arti. Alex tersenyum di ikuti Anna. Alex bangkit menghampiri Anna dan memeluknya.
“Kita Priksa kedokter ya!”
"Iya, Mas. Tapi....” Anna mendorong Alex dan ia berlari ke wastafel, Anna benar-benar muntah tidak tahan bau parfum sang suami.
“Mas, jangan dekat-dekat. Kalau bisa mandi lagi, jangan pakai parfum itu.” Anna pun kembali muntah.
__ADS_1
Alex pun bergegas mandi lagi dan menggunakan baju santai tanpa menggunakan parfum. Alex kembali ke meja makan dan sudah mendapati Anna sedang duduk di kursi meja tengah sambil minum jus manga serta makan kentang goreng.
“Sudah sarapan?” tanya Alex.
“Ini.“ Ana menunjukan kentang gorengnya dan jus mangganya.
“Hari ini ke rumah sakit ya. Periksa ke dokter Wahyu.“
“Gak ke kantor?” tanya Anna sambil melihat Alex berjalan menghampirinya.
“Libur dulu ya. Lagian tidak ada pekerjaan penting beberapa bulan ini. Semua biar Ronald yang mengaturnya.”
“Iya. Ya sudah, Mas sarapan. Aku tunggu di sini. di meja makan ada ayam kecap. Aku GK suka baunya.”
“Kayaknya kamu beneran hamil. Soalnya gejala sama seperti Bella.”
“Gak tau Mas, Aku sudah pasrah. Kalau memang iya, berarti pengobatan dan terapiku selama ini tidak sia-sia.”
“Semoga saja,” balas Alex lalu mencium kening Anna lalu menuju ruang makan.
Disisi lain, Bella begitu bahagia menikmati masa kehamilannya, walau menjalani kehamilannya sendiri. ia juga bekerja di salah satu sekolah ternama milik sahabat Wahyu menjadi guru TK.
Wahyu pun seminggu sekali menjenguk Bella hanya untuk mengajaknya jalan-jalan agar terhibur dan tidak merasa sendiri.
Bella tersenyum saat melihat Wahyu di depan pintu gerbang. Wahyu menghampiri saat di ambang gerbang untuk mengambil alih barang bawaan Bella.
“Siang dok!”
“Siang! balas Wahyu mengambil alih buku Bella.
“Bagaimana hari ini?” tanya Wahyu berjalan berdampingan menuju mobilnya.
“Baik, tapi ya begitulah. Namanya mengajar anak-anak ada saja tingkah mereka.”
Wahyu membukakan pintu mobilnya lalu Bella masuk ke dalam. Tak lama Wahyu pun masuk di bagian kemudian.
“Kita makan siang dulu ya!” ajak Wahyu sebelum menyalakan mobilnya.
"Boleh!”
Wahyu tersenyum lalu menyalakan mobilnya dan menekan pedal gas mobilnya. Wahyu mengajak Bella di sebuah restoran untuk makan siang.
Dipertengahan jalan ponsel Wahyu berdering, ia pun mengambil ponselnya dengan sangat hati-hati dan perlahan menepikan mobilnya dipinggir jalan.
__ADS_1
“Sebentar, Suami kamu telpon.”
Bella terdiam lalu tersenyum tipis mendengar Wahyu mendapat panggilan dari sang suami. Rasanya ingin sekali ia mendengar suara Alex.
“Dok, maaf. Boleh hidupkan loudspeaker-nya. Saya ingin mendengar suara Abang!” Pinta Bella sebelum Wahyu mengankat sambungan ponselnya. Alex tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
“Ya, Lex?”
“Kau hari ini gak praktek?”
“Gak! Kau tau kan jadwal praktek ku di Mila hospital hari Rabu ,kamis dan Jumat, hari Minggu, Senin aku free. praktek di klinikku sendiri Selasa sama Sabtu dan sekarang hari senin aku libur!” terang Wahyu.
“Astaga, aku lupa! Ya sudah nanti aku ke dokter kandungan lainnya dulu.”
“Hm, tapi untuk apa kau ke dokter kandungan. Kau hamil?” canda Wahyu membuat Bella menahan tertawa sekaligus terharu bisa mendengar suara Alex.
“Gila kau! Ya gaklah! Ini Anna mau periksa. dia sudah telat 3 minggu dan gejalanya seperti Bella waktu positif hamil. Aku curiga Anna hamil.”
Wahyu melihat Bella yang langsung menunduk saat mengetahui Anna telat 3 Minggu.
“Ya sudah, kau cek saja sama dokter kandungan satunya, dokter Ara.”
“Iya, terima kasih.” Alex memutuskan sambungan ponselnya.
“Bella, Kamu gak apa-apa?” tanya Wahyu melihat wajah sendu Bella.
"Gak dok! Tidak apa-apa. Syukur lah kalau Mbak Anna Beneran hamil. Mungkin dengan itu Abang tidak lagi mencariku.”
“Bella, baiknya kamu temui suami kamu. Kasihan dia, dia sudah mencari kamu seperti orang gila.”
"Tidak dok. untuk kali ini saya pastikan Abang tidak akan mencari saya lagi. Jika harus memilih Saya ingin berpisah. Saya juga ingin menjaga perasaan Mbak Anna yang mungkin benar kata Abang, Mbak Anna sedang hamil. Saya tidak ingin menjadi racun di hubungan mereka.”
“Tapi bagaimana dengan perasaan kamu sendiri?”
“Saya sudah kebal dengan perasaan saya sendiri dok. Saya pasti bisa. Saya bukan wanita lemah. Walau jujur Saya sangat mencintai Abang. Tetapi keadaan tidak mengizinkan.”
Wahyu mengusap pundak Bella dan tersenyum, mencoba memberi dukungan moral agar Bella kuat menghadapi ujiannya.
“Ya sudah, kita lanjutkan perjalanan. Adek bayi pasti udah lapar ya!” ujar Wahyu refleks mengusap perut Bella.
“Maaf Bell! Saya refleks!”
“Tidak apa-apa dok. Saya tahu Anda tidak sengaja. Saya yang harus minta maaf sudah banyak sekali merepotkan dokter.”
__ADS_1
“Saya tidak merasa di repotkan.” Wahyu kembali menyalakan mobilnya dan melaju ke restoran .