
"Ma, Kenapa perempuan itu sulit melupakan cinta pertamanya?” tanya Arya pada sang Mama.
"Ya begitulah perempuan. Tapi laki-laki juga sama saja!” jelas Utari pada Arya yang berdiri di sampingnya sambil melihat dirinya membuat kue.
"Cinta pertama sulit di lupakan karena meninggalkan jejak di hati dan pikiran untuk pertama kalinya di wanita tersebut dan itu memang sulit, apa lagi jika pernah ada luka tapi si wanitanya juga sangat mencintainya. Butuh waktu lama, bahkan seumur hidup. Memangnya kenapa?” Utari melihat sang anak.
"Tidak, Ma cuma tanya saja. Jadi sebagai yang kedua kita harus bersikap seperti apa, Ma?”
"Mama tahu yang kamu maksud. Istrimu, kan?” tanya Utari memastikan. Arya hanya bisa mengangguk ragu.
"Contoh saja Oma dan opa kamu. Opa kamu tidak pernah marah dengan Oma Wina kalau Oma kamu mengingat mendiang suami pertamanya. Tapi Opa membiarkan Oma Kalau sewaktu-waktu teringat almarhum suaminya. Karena orang pertama itu adalah bagian dari perjalanan hidup. Apalagi sudah punya anak. Contoh lain kakak sepupu kamu Laras dan Ardan. Mereka masih saling mencintai tapi hanya di tempatkan di sisi hati terdalam. selebihnya mereka bahagia dengan pasangan masing-masing. Kamu lihat sendiri bagaimana kisah mereka. Banyak yang harus di korbankan. Kamu santai saja selagi istri kamu itu tidak berhubungan dengan mantannya yang berlebihan. Mereka putus hubungan juga tidak mungkin, kan. Karena ada anak mereka. Yang penting kamu selalu ada untuk istri kamu dan tunjukkan rasa cinta kamu padanya. Cinta tidak harus mendapat balasan, kan. Sudah jangan terlalu overtaking. Bella akan terus bersamamu.”
"Terima kasih, Ma."
"Hm, ingat! Wanita itu sulit di tebak seperti adikmu! Jadi sebagai pria dewasa kamu harus bijak, jangan cemburu buta. Karena nanti bisa berakibat fatal pada dirimu dan pasanganmu. Tugasmu hanya mencintai dengan tulus,” balas Utari.
"Ma!” panggil Tasya menghampiri Utari dan Arya di dapur.
"Apa, sayang!”
“Aku berangkat ke Jakarta ya! Ada meeting. Dua Minggu lagi aku pulang.” Tasya mencium pipi Utari. Arya yang di dekatnya pun menyodorkan pipinya ke arah Tasya.
"Apaan sih kak! Wes duwe bojo juga!” Tasya mendorong wajah Arya, Arya hanya tertawa kecil begitu juga sang Mama.
"Kamu ke Jakarta bareng Erick? tanya Arya.
"Gak! Dia udah balik Singapure dua hari lalu. ya sudah aku berangkat. Da!” Tasya meninggalkan dapur dan bersiap ke bandara bersama bodyguardnya.
"Mas!” panggil Bella sambil membawa hasil panen cabe dari halaman belakang rumah.
"Sayang! Duh hati-hati.” Arya mengambil baskom dari tangan Bella lalu meletakkan di meja kemudian membantu Bella duduk di kursi.
"Banyak panen cabenya,” seru Utari.
"Iya Ma, tadi sama opa panennya,” balas Bella sambil menerima gelas dari yang Arya.
"Mas, Pengen mangga di depan rumah!” bisik Bella pada Arya. Arya melihat ke arah Utari yang juga melihatnya. Utari mengangkat alisnya tanda ingin tahu Bella berbisik apa.
"Mangga depan rumah, Ma.”
"Ya sudah ambilkan. Kayaknya ada yang setengah matang!” sambung Utari.
__ADS_1
"Ma, itu pohon kan udah tinggi banget! Masak suruh manjat!”
Utari menepuk bahu Arya. “Seng ngokon kuwe menek sopo? Ngo tangga , kan iso tah!”
"He! Lupa!“ Arya menyunggingkan senyumnya. Bella tertawa melihat suaminya yang kadang konyol seperti anak kecil.
"Mas! Ayo ambil?”
"Tapi habis ambil pulang ya!” balas Arya sambil mengusap perut Bella.
"Gak mau! mau nginap di rumah Mama. Wek!” Bella tertawa begitu juga Utari.
"Udah sana ambil! Nanti Mama buatkan sambel rujaknya. Oh ya, ambil sedikit banyak ya! Wilona dan Tara juga mau kesini! Wilona juga lagi ngidam.”
"Hm!” jawab Arya lalu mengambil tempat untuk buahnya nanti.
"Ma, Bella ikut Mas Arya ya!”
"Iya sayang! Oh iya. Ini kuenya sudah jadi.”
"Nanti saja, Ma.” Bella kemudian menyusul Arya kedepan rumah. Bella duduk di kursi yang ada di teras dan melihat Abi naik tangga berdiri di bawah pohon mangga.
Pandangan Bella kini tertuju di pintu pagar dan melihat pagar. Pikirannya masih memikirkan Alex yang sudah beberapa bulan tidak ada kabar dan memberi kabar. Bertanya anaknya pun tidak.
"Wuaaa! Semut rang-rang!” Teriak Arya dan buru-buru turun dari tangga. Sang sopir dan beberapa pekerja tertawa melihat anak bosnya yang kesakitan karena di gigit semut.
"Ya Tuhan, Mas! Buka bajunya!” Bella menghampiri Arya yang sibuk menyingkirkan semut di lengan dan rambutnya. Tak lama ia membuka kaosnya bdan masih mengusap-usap badan dan rambutnya.
"Tuan, gak Papa?” tanya salah sopir.
"Gak apa-apa gimana. di cokoti semut iki!”
'Tuan pasti nyundul sarang semut rang-rang ya. Lihat itu bubar semua semutnya.” saang sopir masih tertawa sambil melipat tangganya.
"Wes, Wes di gowo buri ondone!”
Sang sopir pun membawa tangga ke belakang dan Arya membawa buahnya. Bella masih tertawa melihat tubuh suaminya yang bertelanjang dada dan tampak merah-merah bekas di gigit semut.
"Semua demi kamu, Nak! Ini mangganya, habiskan ya!” Bella semakin tertawa melihat wajah Arya yang sedikit kesal.
Arya duduk di kursi diikuti Bella. Arya bertelanjang dada dan masih menggaruk-garuk bagian yang di gigit semut.
__ADS_1
"Permisi tuan, Nyonya. ini minumannya,” ucap salah satu asisten rumah tangga Utari.
"Iya, Bi. terima kasih. Oh iya! Reyhan sudah bangun?“ balas Bella.
"Masih tidur, Nyonya." Asistennya pun kemudian kebelakang lagi.
"Ini Mas, minum dulu?” Bella memberikan gelasnya pada Arya.
"Oh ya, Mas. Besok mungkin aku pang agak siang. karena ada rapat di sekolah. ” ujar Bella memberitahu.
"Iya, tidak apa-apa. Besok Mas juga ada rapat gak bisa jemput kamu. Nanti sopir yang jemput kamu!”
“Iya.”
Sejenak keduanya terdiam. Arya terus melihat Bella vdan juga perutnya yang semakin membesar. Ia tersenyum sebentar lagi anak yang ia rindukan akan lahir. Itu artinya ia akan mempunyai penerus darahnya.
"Nyonya, Ponsel Nyonya berdering dari tadi,” ucap asisten rah tangga Utari sambil membawakan ponsel Bella. Bella mengambilnya dari tangan asistennya.
"Dari siapa ini?” batin Bella melihat nomor yang tertera di layar ponselnya lalu mengangkatnya.
"Halo!” jawab Bella.
"Halo, Ibel. Ini uwak di kampung. Rumah kamu sudah di tawar orang 1 M sama pengusaha. Mau kamu lepas atau tidak?” ujar seseorang yang ternyata RT di kampung halaman Bella.
"Satu Milyar?” tanya Bella memastikan.
"Iya!“
"Ya sudah Wak, lepas aja. Lusa saya pulang kampung.”
"Baik ndok!” keduanya memutuskan sambungan ponselnya.
"Mas! Rumahku di kampung sudah laku 1 milyar.”
"Siapa yang beli?” tanya Arya santai.
"Gak tau! kata uwak sih pengusaha. Tapi pastinya kurang tau.”
"Ya gak apa-apa. nanti uangnya kamu belikan blagi rumah disini kalau nanti kurang Mas tambahin.”
"Gak Mas! Aku gak mau beli rumah. Aku mau beli kontrakan yang di dekat perkantoran, kurang sih.... Nanti tambahin dikit ya!“
__ADS_1
"Pasti sayang!“ Arya senang sang istri sudah bisa melihat peluang usaha dan belajar bisnis. Ia tidak akan pernah menghalangi apa yang membuat Bella bahagia.