DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 46 MENYEMBUHKAN MASA LALU


__ADS_3

Akhirnya Reyhan sudah di perbolehkan pulang. Arya pun sudah mengurus semua administrasinya.


"Akhirnya anak ibu sudah boleh pulang! Ibu kangen kasur, sayang.” Bella menggendong Reyhan.


“Ya sudah kita pulang, yuk!” ajak Arya merangkul Bella. Keduanya tersenyum lalu keluar dari ruangan perawatan. Arya terus merangkul Bella sampai di lobby rumah sakit.


“Tunggu disini ya, aku ambil mobil dulu!”


"Iya.”


Arya kemudian menuju parkiran sedangkan Bella dan Reyhan menunggu di lobby rumah sakit. Di saat menunggu kebetulan Alex pun pulang dari rumah sakit bersama dengan Anna. Anna melihat Bella lebih dulu lalu memegang tangan Alex agar berhenti.


“Mas, Bella!” ucap Anna membuat Alex melihat ke arah Bella yang sedang duduk sambil bercanda dengan Reyhan.


“Bella!” Panggil Alex sambil berjalan menghampiri Bella. Sejenak Bella terdiam lalu melihat Alex berjalan menghampirinya.


Bella berdiri lalu memeluk erat sang anak, ia takut Alex mengambilnya.


“Jangan mendekat!” seru Bella dengan panik.


“Bella aku ingin melihat dan menggendong anak kita!”


“Tidak! Reyhan anakku!” Bella terus mendekap buah hatinya. Perlahan Alex mendekati Bella lagi. Bella menghindar satu langkah dan terus mendekap Reyhan. Bella mendekap sambil memejamkan matanya. tiba-tiba Arya menghadang Alex.


“Tidak mudah menyembuhkan luka yang sudah terlalu dalam. Jikan kau ingin Bella bahagia dan melupakan rasa sakit yang pernah engkau berikan. Jauhi Bella! Atau kau akan berhadapan denganku!”


“Siapa dirimu! Apa hakmu . Menghilangiku?”


“Dia calon suamiku! Dia orang yang datang di waktu yang tepat, disaat aku dan Reyhan membutuhkan perlindungan dan anak yang membutuhkan sosok ayah yang ia butuhkan. Reyhan tidak butuh sosok Ayah yang tidak mengakui anaknya sendiri!” sambung Bella berdiri di belakang Arya.


Arya menatap tajam Alex lalu merangkul Bella dan keluar dari rumah sakit. Arya membukkan pintu mobilnya untuk Bella. Alex hanya bisa memandangi mereka dari dalam ruamh sakit sampai mobil Arya menghilang, baru ia pun pulang bersama Anna.


“Mas ... aku takut Abang ambil Reyhan!”


"Tidak ada yang berani ambil Reyhan dari kamu sayang. Percaya padaku!”


“kita akan segera menikah dan pulang ke Surabaya.”


“Mas, surat cerai ku bagaimana?”


“Nanti kita minta lagi ke pengadilan agama, dengan alasan mantan suami kamu tidak memberikankannya.”


“Memangnya tidak menyalahi aturan,mas?”

__ADS_1


“Tidak dong! Aku akan bantu kamu untuk mendapatkannya. Tentunya sesuai prosedur hukum! Tapi Mas usahakan akan memintanya pada mantan kamu lebih dulu. Jika tidak di berikan, baru minta salinan yang baru dari pengadilan agama. Intinya tetap sesuai prosedur.”


“Terima kasih ya, Mas.”


Arya tersenyum lalu meraih jemari tangan Bella. Bella begitu bahagia di cintai pria yang nomer satu dirinya dan anaknya.


“Mulai sekrang kamu tinggal di apartemenku ya. Di sana ada adikku. Kamu gak boleh lagi tinggal di kos. kosan kurang tempat untuk Reyhan.”


“Barang-barangku bagaimana, Mas?”


"Kemarin aku sudah mengemas semua barangmu dan barang Reyhan tidak ada satupun yang tertinggal. Karena aku tahu perjuanganmu mendapatkan barang itu seperti apa, terlebih semua mainan Reyhan. Sudah Mas rapikan dan sudah di apartemen.”


“Teria kasih, Mas kamu selalu menghargaiku dan menghargai jerih payahku untuk Reyhan.” Bella tersenyum dan tidak percaya ada lelaki yang begitu mengerti keadaannya.


“Cinta itu harus saling menghargai, saling percaya, dan melengkapi, sayang!”


Akhirnya mereka sampai di apartemen dan sudah di sambut Tasya.


“Akhirnya adik kecil datang. Sini sama Tante!” Reyhan pun langsung menghambur meminta gendong Tasya. Arya dan Bella kemudian masuk bergantian.


“Oh ya, kak. Kamar Kak Bella sudah aku siapin semua tadi di ganti sama bibi.”


"Yo berarti, Bibi ya siapin. Bukan kamu!”


Arya memilih diam dan berjalan sambil menarik Bella menuju kamar, kamar yang dulu adalah kamarnya.


“Ini, kamar kamu sama Reyhan. Dulu ini kamarku.”


“Mas tidur dimana kalau ini jadi kamarku?”


“Gampang, aku bisa tidur di sofa, kalau gak tidur di kamar Tasya. Di kamar Tasya ada kasur di bawah kasurnya. Doble bad! tinggal tarik.”


“Oh, aku pikir tidur satu kasur!”


"Ya gak dong! tidur sama dia? Bisa-bisa di tendang. Tasya itu tidurnya sudah kayak baling-baling helikopter.” Keduanya tertawa melihat Tasya dari kamar karena pintu kamarnya terbuka.


“Bella!” Arya mendekat lalu menyibak rambutnya dan menyelipkannya di belakang daun telinganya.


Arya mengusap lembut pipi Bella lalu mencium keningnya, tatapan mereka saling bertemu. tatapan penuh cinta dari Arya membuat Bella yakin Arya adalah seorang yang di kirimkan Tuhan untuknya dan Reyhan.


Perlahan Reyhan mendekatkan wajahnya lalu melihat bibir Bella. Saat hendak berciuman, tiba-tiba Tasya melempar bantal ke arah Arya.


"Hargain gue dong! Mata bocah juga ternodai!” teriaknya sambil menutup mata Reyhan dengan telapak tangannya.

__ADS_1


"Ganggu wae!” Arya pun menutup pintunya sedangkan Bella hanya tertawa.


Arya tetap melanjutkan mencium bibir Bella dengan mesra. Arya melihat wajah Bella yang tersenyum padanya lalu keduanya berpelukan. Saat sedang berpelukan tiba-tiba Tasya mengetuk pintu.


“Jangan lama berduaannya nanti yang ketiga setan!”


Arya membuka pintunya dengan kesal.


"Kue setane!” Arya lalu mengambil Reyhan dan membawanya ke kamar agar menyusu dan istirahat bersama Bella.


“Aku setene! Iyo tah? sialan mosok aku di samain setan!” gumam Tasya lalu pergi dari depan pintu kamar Arya.


“Kamu dan Arya istirahat ya! Aku dan Tasya ada sedikit pekerjaan. Kalau butuh bantuan panggil saja aku. Aku di depan!”


“Iya, Mas. Terima kasih ya!” keduanya tersenyum lalu Arya keluar dari kamarnya dan membiarkan Bella dan Reyhan istirahat.


Arya menyusul sang adik yang sedang di dapur membuat jus.


"Tasya, Tara sudah pulang sama istrinya?”


"Gak tau? Belum ada kabar? Ngopo takon Tara?”


"Gak! Takon wae! Tasya kapan kamu nikah?” tanya Arya, kenapa sang adik sampai saat ini belum menikah.


"Nunggu kakak nikah. Aku gak mau ngelangkahi kayak Tara.”


"Tapi kamu kan perempuan, Sya! Kakak gak masalah arep di langkahi!”


"Gak tau kak! Masih trauma sama yang namanya percintaan.” Tasya duduk di kursi lalu mengambil sedotan dan meminum jusnya langsung dari gelas blendernya.


“Kenapa kamu dulu putus dari Boby?” Arya duduk di samping Tasya.


“Kan aku bukan orang kaya, kak! Mamanya maunya aku orang kaya!”


"Salahmu ora terus terang anak dan cucu siapa?”


"Terus, nanti akan bahagia, setelah mereka tahu aku ini siapa. Cinta itu menerima apa adanya, kak! Bukan ada apanya!”


"Rasanya bagaimana trauma dalam percintaan?” tanya Arya yang ingin tahu bagaimana rasa trauma itu seperti apa, apa sama dengan yang di rasakan Bella.


"Trauma orang, kan beda-beda. Kalau aku pribadi sih. Gak mau dapat cowok matre lagi dan selalu di bandingkan dengan mantannya.”


Arya tersenyum lalu mengusap rambut Adiknya. Mungkin Bella juga merasakan hal yang sama seperti Tasya tapi dalam situasi berbeda. Tugasnya saat ini adalah benar-benar harus bisa meyakinkan Bella jika ia sangat mencintainya. Karena memang tidak mudah menghapus dan menyembuhkan masa lalu yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2