DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 77 KEPUTUSAN 2


__ADS_3

Setelah Utari masuk. Suasana hening sejenak. Bella sedari tadi sudah beberapa kali mengusap air matanya. Arya yang di sampaikan hanya bisa merangkulnya dan meminta maaf atas sikap Mamanya.


"Baiklah itu keinginanmu?” tanya Abi pada Bella. Bella hanya mengangguk.


"Lalu apa keinginanmu, Laura?” tanya Abi pada Laura yang duduk di sampingnya.


"Seperti yang Saya sampaikan dari awal pada Arya, Pa! Saya tidak mau di ceraikan dan saya mau pernikahan saya dan anak papa di catat secara negara dan saya minta hak saya dan hak anak kami di penuhi dan nama keluarga Papa di sematkan di belakang nama Zea dan Zidan. Hak yang saya maksud seperti pada umumnya. Hak pangan, sandang, papan dan batin saya. itu tidak perlu saya jelaskan secara detail, kan Pa? itu saja.” Laura menyampaikan begitu lugas dan logis menurutnya tanpa memikirkan perasaan Bella.


“Oh iya satu lagi. Berhubung ada anak-anak saya minta Arya lebuh sering bersama saya, setidaknya 5 hari dalam seminggu dan ini surat perjanjiannya. Saya harap Bella setuju dengan ini. Ingat ya Bella ada anak kami yang butuh sosok Ayah. Bukankah peran ayah begitu sangat penting seperti apa yang kamu ucapkan?” Laura mengeluarkan surat perjanjian yang sudah di bumbui matrai, entah kapan surat itu sudah di persiapkan yang jelas ia ingin haknya dan terus berpikir realistis untuk berjuang mendapatkan haknya dan anaknya yang selama ini di abaikan Arya begitu saja. Padahal Laura sudah menghubungi Arya lewat email dan nomor kontak tetapi tidak pernah Arya buka.


"Laura kenapa permintaan kamu berlebihan. Kamu juga harus pikirkan perasaan Bella dan Reyhan, dia juga butuh aku!” saut Arya tidak terima.


"Lalu bagaimana perasaanku saat kamu mencampakkan begitu saja. Aku hamil 9 bulan seorang diri tanpa siapa-siapa di negara orang lain dan juga harus menyelesaikan S2 kedokteranku di sana. Kamu pikir mudah? Mungkin aku yang bodoh sudah mau kamu ajak menikah disana hanya untuk menghalalkan pacaran kita. Tapi aku tidak tahu kamu akan meninggalkanku begitu saja. Mana janjimu yang akan terus bersamaku. Mana? Bullshit!“


"Iya tapi, Aku juga ada Reyhan, Laura! Dia juga butuh Ayah. Dari kecil dia sudah bersamaku.”


Laura tertawa.” Kamu bersama anaknya. Lalu anak kita bersama siapa. Reyhan itu anak Bella, kan? Dia punya ayah sendiri. Hai ... kau punya anak sendiri.”


"Cukup!” teriak Bella lalu mengambil surat perjanjian dari tangan Laura kemudian ia mencari namanya lalu menandatanganinya.

__ADS_1


"Sudah. Apa yang Mbak Laura mau akan Mas Arya penuhi. Untuk Reyhan, Reyhan anakku. Biar saya sendiri yang mengurusnya. Oh ya, Mas lebih baik kita berpisah untuk sementara waktu atau mungkin lebih baik untuk selamanya. Permisi, Pa!” Bella keluar rumah sambil berlari kecil, ia sudah tidak tahan dengan semuanya.


"Bella, tunggu!” Arya mengejar Bella sampai ke halaman rumah.


"Sayang, tunggu!” Arya meraih lengan sang istri.


"Kenapa kamu menyerah seperti ini sayang. Aku mencintaimu.”


Bella tertawa melihat dan mendengar ucapan Arya sambil menangis. “Cinta? Cinta seperti apa yang Mas berikan padaku. Kebohongan masa lalu kamu, Iya? Mas tak ubahnya Abang yang dulu. Sudah cukup Mas! Aku sudah tidak sanggup dengan posisi yang sama seperti dulu. Lebih baik kita bercerai kembalikan ke tempat asalku di kos-kosan, di Jakarta. Dan satu lagi, Aku sudah tidak tahan dengan hinaan Mama dan Wilona selama ini yang Mas tidak ketahui. Dan semua itu aku simpan rapat-rapat. Cukup Mas! Sakit!” Bella menepuk dadanya lalu Ia masuk ke dalam mobil.


"Jalan Pak?” ucap Bella pada sopirnya.


"Ini semua terjadi karena ulah kamu sendiri, tuan Arya! Kalau di bilang aku pelakor. Oh ... tidak bisa! Aku istri kamu dan aku nuntut hakku. Kalau istrimu Bella minta cerai. Mungkin dia sudah kecewa dengan dirimu yang tidak jujur dengan masa lalumu! Kalau kamu mau ceraikan aku. Aku tidak mau. Kalau kamu lakukan itu. Aku akan buka semua ke media sikapmu selama ini. Siapa yang tidak mengenal keluargamu!” ucap Laura di belakang Arya. Laura sebenarnya kasihan dengan Bella. Akan tetapi ia ingin memberi pelajaran pada Arya.


Sebagai orang tua ia juga tidak bisa memihak salah satu diantara kedua menantunya dan tidak bisa ikut campur terlalu jauh di rumah tangga anaknya. Memikirkan sikap istri yang berubah semenjak pasca kecelakaan Bella saja ia sudah pusing tujuh keliling.


Sepanjang perjalanan Bella terus menangis di dalam mobil sampai sang sopir juga bingung, karena tidak biasanya Bella menangis sepilu seperti saat ini.


"Ayah ... Bella sudah tidak sanggup, Yah. Tolong Bella Yah,” batin Bella.

__ADS_1


"Nyonya, Anda baik-baik saja?” tanya sang sopir.


“Its Ok, Pak. Tidak apa-apa. Lebih cepat ya, Pak. Saya ingin secepatnya sampai rumah.”


"Baik, Nyonya.” Sang sopir menambah kecepatan hingga Abi pun yang di belakangnya juga menambah kecepatan.


Sesampainya di rumah. Bella cepat turun dan berlari ke rumah. Namun belum sampai masuk kedalam Abi memanggilnya.


“Bella!” seru Abi. Bella berhenti dan sejenak menghapus air matanya lalu menoleh.


"Papa? Kenapa Papa menyusulku?” Bella berusaha mengatur nafasnya dan mengusap air matanya. Abi mendekati Bella laku mengusap rambutnya seperti Putrinya sendiri.


"Maafkan Arya ya, Nak. Maafkan Papa juga. Papa gagal mendidik anak Papa menjadi suami yang bertanggung jawab dan sudah tidak jujur dalam suatu hubungan.”


"Tidak, Pa! Saya tahu pasti Papa sudah mengajarkan banyak hal sebagai laki-laki pada Mas Arya. Tapi ... Sudah Pa, Bella tidak apa-apa. Sudah menjadi jalan hidup Bella. Tapi Maafkan Bella jika Bella memilih mundur . Tolong kembalikan Bella ke tempat asal Bella, Pa! Bella sudah tidak sanggup Pa ... Biarkan Bella hidup berdua dengan Reyhan. Hanya Reyhan yang Bella punya. Maafkan Bella jika saat menjadi menantu Papa, Bella banyak kesalahan dan sudah mengecewakan Papa dan Mama serta semua keluarga besar Papa. Tolong bilang sama Mas Arya untuk melepaskan Bella, Bella sudah tidak sanggup. Pa...,” ucap Bella sambil terisak-isak. Abi memeluknya dan juga merasakan sakit hati Bella. Abi membayangkan jika itu terjadi pada Tasya dan Tasya tidak mempunyai siapapun. Dimana ia akan mengadu.


"Maaf, Bella. Papa tidak bisa membantu, keputusan ada di tangan suamimu. Tapi Papa pasti bantu kamu.”


"Terima kasih, Pa! Hanya Papa yang mengerti Bella.”

__ADS_1


"Masuklah. Tenangkan dirimu.”


Bella mengangguk lalu masuk kedalam rumah, sedangkan Abi duduk di kursi teras rumah.


__ADS_2