
beberapa bulan sudah Bella diam-diam mencari rumah dan akhirnya pun ia menemukan rumah yang tidak jauh dari tempat ia mengajar. Ia sengaja mencari rumah yang dekat dengan sekolah Mahendra. Ia juga diam-diam memindahkan Reyhan ke sekolah taman kanak-kanak biasa tetapi masih dengan fasilitas lengkap dan pengajaran yang terbaik. Bagaimanapun Reyhan harus mendapatkan pendidikan terbaik agar Alex tidak kecewa. Namun ia masih merahasiakan semuanya dari Alex terlebih hubungannya dengan Arya. Sebab Alex kini berada di luar negri untuk waktu yang lama.
Zea dan Zidan juga sudah mulai masuk sekolah Playground di tempat Bella mengajar, kepala sekolah dan guru lainnya juga sudah mengetahui kisah Bella, Arya dan Laura. Mereka tahu itu semua dari mulut Laura tentu saja dengan cerita versi dirinya yang menyatakan ia istri pertama.
Laura meminta Kepala sekolah agar Bella tidak lagi mengajar di sekolah, apa lagi mengajar anak-anaknya. Dengan mengancam jika tidak di keluarkan Keluarga suaminya tidak lagi mau menjadi donatur di sekolah tersebut. Padahal Ardan sang pemilik sekolah tidak pernah mau melibatkan urusan pribadi. Laura memang sengaja melakukan itu agar Bella secepatnya pergi dari rumah dan dari kehidupan Arya.
Bella kali ini di panggil kepala sekolah dan meminta Bella mengundurkan diri.
"Maaf, Bu Bella. Kamii terpaksa menyuruh ibu untuk mengundurkan diri. Karena suatu hal.”
"Mengundurkan diri? menyuruh? saya salah apa, Pak!”
"Anda tidak salah, Tapi ada salah satu wali murid yang tidak menyukai cara ibu mengajar, terlalu kuno. Kami sudah mendapat pengganti Ibu, mulai hari ini pengganti Ibu sudah mulai mengajar.”
Bella meneteskan air mata lalu ia buru-buru mengusap sekilas ia melihat Laura di luar pintu. kini ia paham. Bella segera menandatangani pemutusan kontrak secara sepihak.
"Sudah, Pak! Terima kasih untuk semuanya. Permisi.”
"Oh iya, ini gaji dan kompensasinya, Bu. saya kepala sekolah dan semua rekan guru lainnya juga meminta maaf.”
Bella tersenyum kemudian menyalami kepala sekolah lalu menerima amplop tersebut setelah itu ia keluar. Bella berpamitan dengan semua guru dan anak-anak didiknya.
"Maaf Ibu guru dan bapak guru, Mrs and Mr. I'm so sorry, I have to stop being a teacher here. Because there's something I can't explain. Thank you." Bella tersenyum lalu ia berlalu pada semua rekan guru lainnya.
"Semoga dapat mengajar di sekolah lain ya, Bu,” ucap salah satu guru. Bella hanya tersenyum tipis lalu ia keluar dari sekolah tersebut kemudian menuju sekolah baru sang Anak.
Bella menggunakan taksi saat menuju sekolah sang anak. Sepanjang perjalanan ia terus menangis mengingat semua sudah hancur, dari rumah tangga, karir dan terutama hatinya.
"Maaf, Bu sudah sampai di sekolah Cipta Bangsa!” seru sang sopir. menyadarkan Bella.
"Ah, iya Pak. berapa Pak?”
"Lima puluh ribu, Bu.”
__ADS_1
Bella kemudian memberikan uang lima puluh ribu pada sopir taksi lalu ia turun dan masuk ke sekolah sang anak. Bella ikut menunggu anaknya bersama Ibu-ibu lainnya yang sedang menunggu anaknya.
"Halo,. Mbak!” sapa salah satu murid pada Bella saat Bella duduk di bangku di kantin sekolah.
"Hai, Mbak.”
"Baru disini ya?” tanyanya sambil duduk di sebelah Bella di ikuti dua ibu-ibu lainnya duduk di depan Bella.
"Iya, baru Bu. Baru dua Minggu anak saya sekolah di sini.”
"Oh, pantas saja. Tapi Mbaknya baru kelihatan."
"Iya, Bu. Kemarin-kemarin saya kerja. Tapi sekarang sudah gak kerja. Mau fokus ngurus anak saja.”
"Oh, memangnya suaminya kerja dimana, Mbak!”
Bella tersenyum tipis lalu menunduk sejenak, menarik nafas dalam agar air matanya tidak jatuh.
"Oh, TKI?”
"Bukan, ikut Bosnya.”
"Asisten, Bos! Wah ... hebat ya suaminya bisa keluar negeri.”
Bella hanya tersenyum tipis, andai mereka tahu yang sebenarnya, mungkin mereka juga akan sama menghujat dan menjauhinya.
"Abang, kapan Abang pulang. Kasihan Reyhan tanya Abang terus. Waktu Mas Arya sudah berkurang untuk Reyhan,” batin Bella yang mengingat Reyhan selalu bertanya tentang Alex. Ingin menghubungi lebih dulu tapi takut mengganggu pekerjaan Alex.
Cukup lama Bella menunggu sang anak, ia hanya diam mendengarkan ibu-ibu lainnya bercerita, hanya sesekali ia menjawab jika di tanya pendapat.
Disisi lain Arya dan Abi berada di kantor, mereka juga baru saja selesai rapat bersama Putra, Pamannya yang memang memimpin perusahaan keluarga. Abi menemui Arya di ruangannya dan ingin membicarakan tentang Bella dan Laura.
"Bagaimana hubungan kalian, apa sudah merasa pusing menyatukan dua istri dalam satu atap selama beberapa bulan ini?” tanya Abi.
__ADS_1
"Jangan membuatku tambah pusing, Pa. Dengan menanyakan hal itu, kepalaku hampir pecah. Aku juga sedang menunggu kabar dari Raffi, karena aku sedang tes DNA Zea dan Zidan untuk memastikan mereka berdua anakku.”
"Itu terserah kamu. Papa tidak ikut campur untuk masalah itu. Yang Papa khawatirkan sekarang itu Bella. Badannya makin hari makin kurus. Matanya selalu sebab dan menjadi pendiam. Ayolah Arya jangan siksa Bella. Ceraikan dia baik-baik, biar dia bahagia di luar sana. Kasihan hidup tertekan. Tidak ada wanita yang mau di madu. Kalau untuk Laura. Dia memang wanita tegas dan realistis, tidak pernah menggunakan perasaannya dan orangnya masa bodoh dengan orang sekitar. Tapi ini Bella, Arya. Istrimu pernah terluka di masa lalu sekarang kau tambah luka itu. Astaga! Papa ingin sekali menghajarmu!” Abi begitu geram lalu menggebrak meja dengan satu tangannya.
Arya mengingat Bella, memang di matanya Bella semakin hari semakin kurus dan menjadi dingin dan pendiam. Ada sesuatu yang ingin Bella sampaikan padanya, tetapi Arya takut jika apa yang di sampaikan Bella itu adalah permintaan perpisahan.
"Nanti aku bicarakan dengan Bella lagi, Pa. Aku tidak mungkin menceraikan dia begitu saja. Ada hal yang harus aku persiapkan untuknya. Papa benar, aku harus melepas Bella, agar Bella bahagia di luar sana.”
"Jangan terlalu lama berpikir, bisa-bisa Bella mati tertekan.” Abi pun kemudian keluar dari ruang kerja Arya.
Arya memikirkan ucapan sang Papa agar secepatnya melepas Bella. Tak lama ia mengambil ponselnya dan menghubungi pengacara.
"Pak Rendi,” ucap Arya.
"Tuan Arya, bisa saya bantu. Tidak biasanya menghubungi saya”
“Iya, Pak saya butuh bantuan Bapak, tolong bantu saya untuk mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama, tergugat atas nama Isabella binti almarhum Bapak Husain.”
"Hah? kenapa tiba-tiba mau bercerai dengan istri pertama tuan?”
"Kami sudah tidak cocok, Pak. tolong di segerakan.”
"Hanya itu, alasannya, tuan?”
"Iya!”
“Tapi kalau hanya itu pengadilan tidak bisa mengabulkan, tuan. Harus ada alasan yang kuat.”
"Istri saya sudah tidak mau melayani saya. Baik keseharian dan masalah ranjang.”
“Baikalah, tuan. Besok saya datang ke rumah tuan, untuk mengambil berkas gugatannya.” Keduanya pun mematikan sambungan ponselnya.
“Maaf sayang, Mungkin ini terbaik untuk kita. Terlebih untukmu.”
__ADS_1