
Arya baru saja pulang dari kantor dan sudah di sambut Laura dengan marah-marah sambil membawa surat tes DNA dan mengamuk memukuli Arya.
"Dasar laki-laki brengsek! Kamu tes DNA tidak melibatkanku. Segitunya kamu tidak percaya padaku, jika kedua anakmu itu anak kamu sendiri. Dengar ya Arya! Aku memang matre dalam segala hal. Tapi, aku bukan wanita ****** yang sembarangan tidur dengan pria lain selain dirimu, BRENGSEK!!” Laura begitu marah dengan Arya yang seenaknya tidak melibatkan dirinya untuk tes DNA kedua anaknya.
’Plak, Plak!' Tiba-tiba keduany di tampar oleh Tasya yang tiba-tiba datang bersama Juna serta Bianca dan Reza.
"Kalian berdua yang BRENGSEK!! Aku tidak menyangka, Kakak Setega itu pada Bella. Aku juga tidak menyangka Kakak di London ternyata sudah menikahi DIA!!” Tasya benar-benar emosi, para orang tua tidak berani menghalangi Tasya jika sudah seperti saat ini. Arya dan Laura syok dan terdiam tiba-tiba Tasya datang bersama keluarga
Tasya meraih ketah kemeja Arya.“ Kalau memang kakak sudah menikahinya, kenapa kakak tidak memberitahuku atau keluarga besar kita. Tapi kakak diam-diam menikahinya setelah itu kakak meninggalkan dirinya demi mendekati Bella yang saat itu sedang rapuh. Wanita manapun akan luluh di saat rapuh ada pria yang memperlakukan dirinya begitu manis!! Motif kamu apa kak!! Supaya hebat!”
Tasya menghempaskan Arya sampai terhuyung sedangkan Arya hanya terdiam.
"Kalau saja kemarin Om Juna tidak bertemu dengan Bella di pasar. Mungkin kita semua tidak akan tahu kalau kakak sudah menceraikan Bella. Wanita malang itu sudah tidak memiliki siapapun, kak. Dan Kakak tau itu. Dia hanya mempunyai anak kecil. Dia hanya mempunyai anak kecil. Siapa yang akan melindungi dirinya dan anaknya.” Tangis Tasya pecah mengingat Bella dan Reyhan. Entah dimana keberadaannya saat ini dan bagaimana nasibnya.
"Aku tidak bisa membayangkan menjadi Bella, kak. Wanita yang begitu baik, polos dan menganggap semua orang itu baik.”
Tasya duduk di sofa sambil menangis. Juna pun langsung memeluknya. Hati Tasya begitu lembut dan tidak bisa melihat penderita orang lain.
"Jadi kamu tidak bisa membayangkan mantan istri kakakmu itu. Lalu aku bagaimana, Tasya!! Aku hamil sendirian di London. aku sudah menghubungi Kakakmu tapi tidak pernah ada jawaban, bahkan pesanku tidak ia buka.”
"HAI, BODOH! KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHUKU, HAH! Sekarang yang Bodoh itu siapa? KAU atau si brengsek ini. Berpendidikan tinggi tapi otak gak di pakai?” Tasya menujuk kesal Laura.
“Kalian berdua sudah membuat keluarga malu! Malu, semalu-malunya!” sambung Tasya lagi.
"Tasya, cukup! Duduk kalian semua!” Ucap Reza suami Bianca, adik Abi. Mereka duduk semua di sofa sejenak mereka saling diam agar mengatur nafas mereka masing-masing.
__ADS_1
Juna yang melihat keponakannya masih menangis pun langsung mengambilkan air minum lalu ia berikan pada Tasya.
“Minum dulu. kamu lagi hamil, jangan seemosi seperti ini. pikirkan kandunganmu.” Juna membantu Tasya minum.
"Arya, Kami tahu semua ini dari Juna dan di benarkan Papamu. Jujur kami kecewa dengan sikapmu! Mungkin yang kamu lakukan itu untuk menjaga nama baik Sanjaya. Tapi sepertinya kamu lupa sudah menyakiti dua Wanita. Bella dan Laura. Om tahu pilihanmu ini demi anak-anakmu bersama Laura, tapi kamu sepertinya lupa bagaimana dengan Bella. Sekarang dia tinggal dimana. Apa kamu tahu?”
Arya menggeleng dan masih menunduk. Reza menghela nafas lalu melihat sang istri yang sedang menahan amarah pada keponakannya.
“Kamu sudah menghubungi Alex?” tanya Reza lagi. Arya lagi-lagi menggeleng. Reza mengusap kasar wajahnya ingin sekali menggampar keponakan istrinya.
"Fatal! Kesalahanmu sangat fatal Arya! Kamu tahu Bella itu tidak mempunyai saudara bahkan kerabat, dia tidak memiliki satupun. Dia hanya mempunyai anak, yaitu Reyhan dan Reyhan itu anak Alex, dan Alex menitipkan Reyhan padamu. Seharusnya sebagai lelaki yang tanggung jawab kamu pulangkan Reyhan padanya minimal hubungi Alex atau keluarganya. Bella hanya punya Alex, Arya! Astaga...! Ingin sekali Om menghajarmu!” Geram Reza.
"Tua-tua gak mikir. ***!!” saut Tasya melempar bantal sofa ke arah Arya.
“Bagaimana aku bisa sabar melihat kelakuan mereka berdua Tante. Bikin tambah malu keluarga. Kue ki dadi kebanggaan keluarga tapi nyatane koyo ... ais...! Mbuh karepmulah!” Tasya beranjak menuju kamar Reyhan, biar bagaimanapun ia sangat merindukan Reyhan.
"Sudah! Sekarang kamu cari tahu dimana tempat tinggal Bella dan anaknya.” Reza kemudian menyandarkan punggungnya di Sandaran sofa.
"Baik Om!”
"Oh alah Arya,Arya. Tante Nek ora di sabar- Sabari Karo ommu iki. Wes entek kuwe dadi rempeyek Karo Tante. Kui ki yo mbok mikir, Bella. Melas kae bocah. Halah! urusi kui ponakanmu Jun. Tanganku rasane pengen nabok bocah loro kui” Bianca Memilih menyusul Tasya ke kamar Reyhan.
Sementara itu Bella tengah menjemput sang anak ke sekolah. Dengan senyum bahagia melihat bsang anak keluar dari kelasnya.
"Mama!” seru Reyhan berlari menghampiri Bella.
__ADS_1
"Halo sayang. Anak Ibu ceria sekali hari ini.” Mereka berdua berjalan keluar sekolah sambil bergandengan
"Iya, Ma! Tadi di kelas Bu guru bercerita dongeng Malin kundang.”
"Terus.”
"Reyhan tidak mau jadi seperti Malin, Ma. Reyhan akan terus menyayangi Mama sampai mama tua! Reyhan tidak mau di Kutuk menjadi Batu! Serem, Ma. Takut.
Bella tertawa kecil mendengar cerita sang anak.“ Ya tidak dong! Masak anak Ibu yang baik sama Ibunya di Kutuk jadi batu. Ibu kutuk jadi anak yang sukses dan selalu menyayangi, Ibu.”
Reyhan tertawa kecil dan terus memandangi sosok sang Mama yang selalu sabar dan menyayanginya. Tiba-tiba Reyhan menempelkan kepala di pinggang sang Mama.
Mereka berdua pulang ke rumah dengan berjalan kaki, Karena rumahnya tidak jauh dari sekolah. Sesampainya di rumah Bella menggantikan baju Reyhan dan menyuapinya.
"Ma, kapan papa Alex pulang?” tanya Reyhan tiba-tiba di sela makannya.
"Sabar ya, Nak. mungkin setahun lagi Papa pulang. Doakan Papa ya. urusan dan pekerjaan lancar. papa sehat, adek Ara sehat. Kenapa? Kamu kangen sama Papa?”
Reyhan mengangguk dan wajahnya terlihat sendu.“ Ma, kapan Papa Arya kesini.” tanya Reyhan lagi membuat Bella menahan emosi.
"Sayang, maaf ya, Nak. Ingat ucapan Ibu. Papa kamu hanya Papa Alex, ok! Ibu bukan Istri Papa Arya lagi. Jadi Papa Arya bukan Papa Reyhan lagi. Papa kandung Reyhan itu Papa Alex, walau Mama tidak menjadi istri Papa Alex. Seandainya Mama menikah lagi dengan orang lain sampai kapan pun kamu anak Papa Alex. Paham, Nak!"
Reyhan langsung memeluk Bella, karena Bella sudah meneteskan air matanya. “Maaf, Mama. Reyhan janji tidak lagi bertanya tentang Papa Arya. Reyhan tahu saat Mama ingat Papa Arya pasti menangis. Reyhan tidak mau Mama menangis lagi. Reyhan sayang Mama.
Bella mendekap erat sang anak, anaknya masih kecil tetapi mengerti siapa yang membuat mamanya menangis.
__ADS_1