
"Kamu gila ya Arya, istri kamu masih koma di rumah sakit, Tapi kamu selalu di luar. Keluarga Istrimu bertanya tentangmu, dimana kamu? Kamu bukannya menjaga Laura di rumah sakit tapi berkeliaran di luar sana. Masih diam-diam mendatangi mantan istri kamu itu? Hah!”ujar Utari.
Arya mengeratkan rahangnya lalu membanting tas kerjanya dengan sangat emosi. Abi, Tasya dan suaminya dan seisi rumah terkejut melihat raut wajah Arya yang tidak bersahabat.
"Aku kerja, Ma! Banyak tangung jawab yang harus aku selesaikan di perusahaan. Tanyakan saja pada paman Putra, kenapa paman memberikanku banyak pekerjaan! Aku capek, Ma! Aku sudah menuruti ego Mama untuk menikahi Laura dan menceraikan wanita yang aku cintai. Apa masih kurang?” Nada tinggi Arya menggema di seluruh ruangan.
"Aku sudah kehilangan wanita yang lemah lembut. Wanita yang selalu menyambutku pulang dengan senyum manisnya, tidak pernah bernada tinggi padaku. Dia selalu menghormatiku sebagai laki-laki dan suami. Aku hanya ingin di saat pulang kerja ada mendamaikan hatiku, Aku sudah bosan dengan wanita di rumah ini yang semuanya begitu keras, tegas dan tidak ada yang mau mengalah. Aku campek, Ma!” Arya membanting vas bunga di sampingnya. Arya menangis mengingat sang mantan istri, Bella.
Tasya menghela nafas lalu mendekati sang kakak dan memeluknya.“Sabar kak. Tenang, ingat itu Mama. Jangan bernada tinggi padanya. Aku tahu mama salah, tapi beliau orang tua. Maafkan kami Jika selama ini tidak sesuai harapan kakak. Aku tahu Kakak lelah.” Tasya menakup kedua pipi Arya dan tersenyum tipis.
"Terima kasih, hanya kamu yang paham denganku!” Arya kemudian masuk kedalam kamar anak-anaknya yang sudah tertidur lelap.
Utari masih syok dan masih terdiam di tempatnya mengingat sang anak yang baru pertama kali berani bernada tinggi dengannya.
"Jujur, Ma. Aku tidak habis pikir sama Mama. Mama itu berubah semenjak kecelakaan Bella. Mama gampang marah dan tersulut emosi. Yang menghasut mama itu sebenarnya siapa? Mama terobsesi sekali ingin mempunyai cucu. Jika Putramu itu tidak mendapatkan anak dari istrinya yang dulu. Maksudku, Bella. Ya sudah Ma ... masih ada Tasya, ada anak dari Tara. sama saja kan. Sudah seperti ini, tidak ada yang mau di salahkan.” Abi bangkit dari duduknya.
"Papa mau kemana?” tanya Utari.
"Mau cari janda cantik, semok!” Abi pergi begitu saja tanpa melihat raut wajah sang istri yang melongo melihatnya keluar rumah.
"Papa! Memang aku udah tidak cantik lagi!” teriaknya membuat Tasya dan suaminya sedikit menahan tawa. Pasalnya mereka tahu Abi hanya mencari angin di teras rumah.
"Sedikit keriput,” sambung Tasya tertawa kecil.
"Anak sama Papa sama saja.” kesal Utari bangkit dari duduknya lalu menuju kamarnya.
Arya di dalam kamar anaknya hanya bisa memandangi wajah kedua anak kembarnya. Ia tidak tahu harus berbuat apa dan bagaimana. Sudah banyak dokter yang menangani Laura akan tetapi tidak ada hasil yang di harapkan.
Memang semua salahnya, karena sering bertengkar dan akhirnya Laura pergi dari dan terjadilah kecelakaan.
"Maafkan Papa, Nak. Mamamu memang yang terbaik untuk kalian. Tapi jujur dengan Papa Mama tidak pernah sejalan. Maafkan Papa jika terjadi sesuatu pada Mama.” Arya mencium kening anaknya satu persatu. Arya lelah dengan semunya.
__ADS_1
Setelah itu Arya keluar dan melihat Tasya bersama sang suami yang sedang duduk. Tasya begitu bahagia dengan kehamilannya yang kini sudah memasuki 6 bulan.
"Sya, Kakak titip anak-anak. Kakak mau ke rumah sakit.”
"Iya kak. Hati-hati, Maaf aku tidak bisa ke sana.”
"Tidak apa-apa. Mari kak.” seru Arya pada suami Tasya. Suami Tasya hanya mengangkat tangannya.
Di waktu yang sama di tempat berbeda Bella sedang belanja di salah satu swalayan bersama Ara, Reyhan serta Baby sister Ara. Mereka berbelanja kebutuhan serhari-hari dan keperluan pribadi masing-masing.
"Yuli kamu ambil saja apa yang kamu mau ya, gak usah sungkan sama saya. Nanti biar saya yang bayar kalau mau jajan ambil saja," ujar Bella saat mengambil jajanan untuk kedua anaknya.
"Memangnya gak apa-apa, Bu!”
"Gak apa-apa. Gaji kamu yang dari suami saya biar utuh. katanya kamu lagi bantu orang tua kamu bangun rumah. Udah ambil saja yang kamu mau.”
“Terima kasih, Bu.”
"Sayang, kalian mau apa lagi? tanya Bella pada Reyhan dan Ara.
"Es cream, Ma,” balas Ara.
"Ok deh! Tapi kita bayar dulu ya ini ya. Kalau ambil es cream sekarang takutnya nanti cair.”
"Iya, Ma!”
"Yuli, kamu udah?”
"Sudah, Bu. Ini saja.” Yuli tersenyum begitu juga Bella. Bella kemudian mengambil beberapa makanan yang di pilih Yuli.
"Ini lagi. Saya gak mau kamu kekurangan. Saya juga mau!” keduanya pun tertawa.
__ADS_1
"Ibu bisa saja. Terima kasih ya, Bu.”
“Ya sudah, Ayo ke kasir!” ajak Bella, keduanya menuju kasir lalu Bella menunggu kasir menjumlahkan semua belanjanya.
"Yuli kamu pesan taksi ya,” ujar Bella sambil melihat kasir memasukkan belanjanya di kantong belanjaan.
"Sudah Bu. sebentar lagi taksinya sampai.”
"Kalau gitu tolong ambilkan es cream untuk anak-anak buat kamu dan saya juga.”
Yuli mengangguk lalu menuju ke tempat es cream dan mengambil es cream yang biasa Reyhan dan Ara minta, serta untuk Bella dan untuk dirinya sendiri kemudian kembali ke kasir.
"Mbak, tambah ini ya.” Bella menujuk es creamnya.
"Baik, Bu.” sang kasir pun menjumlahkan semuanya.
"Semuanya empat juta lima puluh ribu,” ucap kasir memberitahu jumlah belanjanya.
Bella memberikan kartu debitnya pada kasir. kartu debit yang Alex berikan padanya. Yuli Melongo mendengar jumlah belanja Bella. Akan tetapi Bella tertawa kecil melihat Yuli yang seolah terkejut melihat total belanja sang nyonya.
"Banyak sekali bu.”
"Ini belum seberapa Yuli. Gak apa-apa, tapi ini yang kita butuhkan, kan. Apalagi kebutuhan jagoan dan tuan putri Alex ini, ada susu, popoknya belum yang lainnya.” Bella tersenyum lalu mendorong troli keluar dari swalayan di ikuti Yuli.
Mereka berdua langsung memasukkan belanjanya ke dalam taksi karena taksi mereka sudah datang. Namun saat mereka hendak masuk kedalam taksi, tiba-tiba ponsel Bella berdering rupanya dari sang mantan suami, Arya. Awalnya Bella mematikan ponselnya, karena sudah tidak ingin lagi berhubungan dengan mantan suaminya, sebab ia juga sudah bersuami lagi. Akan tetapi, ponselnya terus berdering, mau tidak mau ia menjawab sambung ponselnya.
"Ya, Mas?”
Terdengar suara Arya yang menahan tangisnya." Tolong maafkan Laura. Maafkan kesalahanya, Laura sudah tidak ada,” lirih Arya lalu ponselnya pun mati.
Bella masih berdiri mematung dan mencerna semua yang di ucapkan Arya. Tidak terasa air matanya menetes.
__ADS_1