
“Bella, sayang buka pintunya!” seru Arya membujuk Bella agar membuka pintunya. Sebab sedari tadi Abi sudah berusaha mengetuk pintu, Namun tidak di respon oleh Bella.
Bella sendiri duduk melamun di sofa di depan jendela kamarnya. Ia tidak peduli panggilan Papa mertuanya dan juga Arya, pikirannya melayang merindukan sang Ayah. Jika tidak ada anak mungkin ia sudah gila dengan semua yang ia hadapi dalam hidupnya. menikah dengan pria yang masih memiliki istri. Dua kali ia harus merasa bersalah pada Wanita yang sudah hadir lebih dulu di kehidupan sang suami.
"Ayah, Ibel boleh ikut ayah tidak. Ibel lelah Yah! Tapi bagaimana dengan Reyhan cucu Ayah? Yah ... berikan pundak kokoh Ayah untuk Ibel Yah. Supaya Ibel kuat berdiri tegak menghadapi kenyataan yang tidak Ibel inginkan. Tapi ini keinginan Tuhan untuk Ibel.”
Arya begitu cemas dengan keadaan Bella. akhirnya ia mendobrak pintu kamarnya.
"Bella!” serunya, Ia melihat Bella sedang duduk, ekspresinya diam namun air matanya terus mengalir.
Arya menghampiri Bella dan berlutut dihadapan Bella lalu meraih tangan Bella. "Sayang maafkan aku. Aku tahu aku salah sudah tidak jujur dengan masa laluku.”
Bella masih tetap diam dan tidak melihat sedikit pun wajah Arya. Pikiran Bella hanya tertuju pada almarhum sang Ayah. Ia ingin sekali memeluk Ayahnya di saat-saat seperti saat ini.
Abi juga masuk kedalam kamar dan melihat Bella yang masih syok. Abi mengusap kasar wajahnya, ia merasa ikut bersalah. Abi merasa gagal dalam mendidik sang anak.
"Sayang, tolong bicara. Jangan diam seperti ini. Aku mencintaimu Sayang. Laura hanya masa lalu.”
Bella mengusap air matanya. lalu melihat Arya. “Bangun Mas. Tidak pantas laki-laki berlutut seperti ini.” lirih Bella menarik pelan Arya agar berdiri. Lalu ia menepuk sofa agar Ary duduk di sampingnya. Arya duduk di samping Bella lalu memeluk Bella.
“Jangan menceraikannya. Ada anak yang harus kamu beri nama dan identitas. Menikah resmilah dengan Laura. Aku tidak apa-apa. Zeya dan Zidan berhak pengakuan yang sah di mata negara.”
"Tidak, Sayang! Aku sudah mentalaknya.”
Bella terhenyak lalu melihat Arya. Bella begitu geram dengan sikap Arya yang seenaknya mengucap kata talak. “ Kamu sudah gila ya, Mas. Begini rasa tanggung jawabmu sebagai suami dan Ayah?” Bella berdiri dan menghadap ke arah Arya.
“Kamu seenaknya menikahi, menghamili lalu kamu tinggal begitu saja. Di mana pikiran akal sehat kamu, Mas. Ada anak yang butuh pengakuan dirimu!“
"Sayang ...Aku tidak...,”
__ADS_1
"Tidak! Anak itu harus kamu akui secara negara. Dan Mas harus. menikahi Laura secara sah!” Bella kemudian membalikkan badannya.
"Tapi itu tidak mungkin sayang!”
Bella menujuk Arya.“ Kali ini aku tidak mau dibatah. Nikahi Laura secepatnya.” Bella kemudian meninggalkan kamar nya tanpa peduli dengan Abi. Bella menuju kamar Reyhan.
"Sayang, tunggu!” panggil Arya mengejar Bella.
“Biarkan dia sendiri!” seru Abi menahan lengan Arya.
Di kamar Reyhan Bella menangis sejadi-jadinya di balik pintu. Hatinya begitu hancur harus mengucapkan apa yang baru saja ia ucapkan.
Narti menghampiri Bella sambil menggendong Reyhan.“ Nyonya,” panggil Narti.
Bella melihat Narti dan Reyhan. Kemudian Ia mengambil Reyhan dari gendongan Narti.
“Narti, tolong tinggalkan kami berdua.”
"Mama, kenapa?” tanya Reyhan melihat heran sang ibu menangis.
"Ibu gak apa-apa Sayang, Ibu kelilipan. Sekarang bobok ya. Sudah malam.” Bella membawa Reyhan ketempat tidurnya.
"Ma, Adek Zeya, sama Adek Zidan itu siapa, Ma? Kenapa datang kerumah kita. Kenapa panggil Papa Arya, Papa juga. Apa mereka anak Papa Arya, sama seperti Reyhan.”
"Reyhan sayang. Mereka memang anak Papa Arya. Kalau kamu anak Mama dan Papa Alex.“
"Terus ... Kalau Reyhan anak Papa Alex, kenapa kita tinggal disini. Kenapa tidak ikut Papa Alex.”
“Karena Ibu istri Papa Arya. Makanya kamu panggil Papa Arya, Papa.“
__ADS_1
"Oh, Jadi Papa Reyhan dua ya, Ma?”
"Iya, sayang. Sudah bobok ya. Besok kan sekolah, hm!”
"Ia, Ma!”
Bella memeluk sang anak di tempat tidur. Hanya sang anak yang sedikit menghibur hatinya dan hanya Reyhan yang tidak pernah mengecewakan hatinya.
"Sampai kapanpun kamu harus bersama Ibu ya, Nak. Hanya kamu satu-satunya yang ibu miliki. Tapi Ibu juga tidak ingin merepotkan dirimu kelak kalau kamu dewasa nanti, Nak. Kamu pasti punya dunia dan keluarga sendiri,” batin Bella mengusap-usap kepala Reyhan.
Sementara itu Arya di ruang kerjanya bersama Abi, sang Papa. Arya diam dan Abi pun diam. Abi ingin memberikan solusi, tetapi ia juga bingung harus bagaimana, memang semua ini adalah kesalahan anaknya yang tidak jujur dengan masa lalunya, bahkan sebagai orang tua ia tidak mengetahui jika saat di London sang anak telah menikah.
“Papa tahu posisimu. Pasti semua serba salah. Mereka istrimu. Kamu sudah menyakiti keduanya. Pertama kamu meninggalkan Laura begitu saja. Kedua kamu tidak jujur dengan masa lalumu dengan orang tuamu, terlebih Bella. Ingat Arya, tidak ada wanita yang mau di madu dan tidak ada anak yang ingin orang tuanya berpisah.”
"Aku tahu Pa! Ini pilihan sulit. Maafkan Arya pa, Arya sudah mengecewakan papa.”
"Minta maaf dengan kedua istrimu. Duduk kalian bertiga, ikuti kemauan mereka dan harus menerima jika tidak sesuai keinginanmu. Dan ingat, jangan gunakan ego lelakimu. Wanita juga punya pilihan dan keputusanmu nanti sudah pasti akan menyakiti salah satunya, tapi kamu harus menerimanya.”
"Aku mencintai Bella, Pa!”
"Jangan kau pikirkan perasaanmu sendiri Arya! Ada dua perasaan wanita yang sudah kamu Sakiti. Mereka berhak memilih pergi atau tetap bersamamu!” timbal Abi yang ikut pusing memikirkan pernikahan anaknya.
"Papa pulang. Besok ajak Bella dan Laura juga kedua anakmu itu ke rumah utama kita sendiri, jangan rumah opa, oma. Papa juga bingung mau menyampaikan pada Oma dan opamu bagaimana dan dari mana. Papa takut mereka syok. Kamu tahu kesehatan Oma kamu akhir-akhir ini menurun.
"Iya, Pa!”
Abi bangkit dari duduknya lalu ia pulang ke rumah. Sementara itu Arya menyusul Bella ke kamar Reyhan.
Arya melihat Bella masih menangis sambil berbaring memeluk Reyhan. Perlahan Arya berbaring disisi Bella dan memeluknya dari belakang.
__ADS_1
“Maafkan aku sayang," lirih Arya, Namun Bella hanya diam dan tetap masih menangis tanpa suara.
lambat laun Bella tertidur sementara Arya masih tetap terjaga. Arya mulai menyelimuti Bella dan Reyhan kemudian ia duduk memandangi keduanya. Arya melihat wajah sang istri yang seakan penuh derita darinya. Mungkin saja luka dari Alex belum sembuh seutuhnya, kini justru ia menambahkan luka di hatinya.