
Arya sedang menggendong Reyhan yang sedang rewel. Kondisi Reyhan juga masih belum pulih. Arya rela tidak pulang agar bisa selalu di dekat Reyhan dan menggantikan Bella menjaga sang buah hati. Keluarga Arya pun tidak keberatan untuk menjenguk Reyhan di rumah sakit dan membawakan beberapa kebutuhan barang untuk Bella.
Seperti saat ini sang Ayah Abi dan Tasya sedang berkunjung di rumah sakit untuk melihat kondisi Reyhan.
“Arya, tidurkan saja Reyhan, sepertinya sudah terlelap. Kalian istirahat, ajak Bella ke kantin buat minum sesuatu!” titah Abi.
“ Iya, kak. Biar kami yang jaga. Janji gak bersisik!”
Arya melihat Bella yang sedang duduk. sepertinya ia begitu lelah. Arya perlahan menidurkan Reyhan lalu membenarkan posisiqnya serta selang infusnya. Arya mengusap lembut rambut Reyhan lalu mencium pipinya. Kemudian menghampiri Bella lalu duduk di sampingnya.
“Kamu capek?”
"Sedikit,” lirih Bella. Arya merangkul Bella dan mengusap lengannya.
“Keluar sebentar yuk! minum teh di kantin. Mas juga pengen ngopi!”
Terdengar helaan nafas Bella lalu ia mengangguk. keduanya bangkit dari duduknya.
“Mbak Tasya, Om. Titip Reyhan sebentar.”
“Iya. Tenang saja!” saut Tasya.
Arya dan Bella keluar dan menuju kantin. Saat di dalam lift Arya terus merangkul Bella seolah takut Bella di ambil seseorang.
"Sayang!” panggil Arya meraih tangan Bella agar memeluknya.
"Hem!”
"Nikah yuk!”
Bella tertawa kecil lalu menepuk lembut dada Arya.
“Mas ngajak aku nikah, kayak ngajak pergi jalan-jalan.”
__ADS_1
“Bella, aku serius! Aku akan membahagiakan kamu dan Reyhan. Aku mencintaimu dan Reyhan. Nanti setelah menikah kita kembali ke Surabaya. Arya berlutut di hadapan Bella.
“Jadilah istriku, pasangan hidupku sampai tua nanti. Kamu akan aku jadikan istri satu-satunya di hidupku dan ratu satu-satu di rumahku.” Arya terus memenangi kedua tangan Bella.
Bella tersenyum, mungkin saatnya ia membuka lembaran baru. Reyhan juga membutuhkan sosok Ayah. ia juga tidak mau egois dan berlarut mengingat masa lalunya.
"Aku mau!” Bella tersenyum begitu juga Arya. Arya kemudian merogoh cincinnya lalu memasangkan ke jemari manis Bella yang sebelah kiri, entah kapan ia mempersiapkan cincin itu? Arya bangkit kemudian memeluk Bella.
“Terima kasih. Apapun yang kamu mau aku akan kabulkan.”
"Tidak usah, Mas cukup jadikan aku istri satu-satunya sampai aku menutup mata.”
Arya menakup kedua pipi Bella lalu mencium pipinya.
"I love you, sayang.” Arya kembali memeluk Bella dan tak lama pintu lift terbuka. Mereka pun keluar dan menuju kantin.
Saat sampai kantin Arya dan Bella tercengang melihat seseorang yang mereka kenal adu mulut.
“Dengar ya, Alex yang terhormat. Aku dan Bella tidak mempunyai hubungan apapun. Apalagi melakukan hal yang kau sebutkan. Iya memang suka dengannya tapi aku cukup tahu diri dia istrimu. Aku tidak pernah komunikasi semenjak kalian bertengkar di rumah sakit saat Bella melahirkan. Dan anak itu anak kandungmu, bukan anakku!” Jelas Wahyu dengan lantang sambil mencengram kemeja Alex.
Alex dan Wahyu tidak sengaja melihat Bella dan Arya sedang berpegangan tangan. Bella kemudian pura-pura tidak tahu dan menarik Arya masuk ke dalam kantin.
"Kau tanya saja pada wanita yang kau campakkan itu. Wanita yang kau peristri dari kampung dan kau bawa ke kota, lalu kau campakkan dengan bayinya dan bayi itu adalah anakmu sendiri!”
"Bayi itu bukan anaknya. Bayi itu anakku! Bayi itu anakku!” jerit Bella tidak terima jika Reyhan diakui atas nama Alex.
“Bella!” gumam Alex
“Iya, anak itu anaku, bukan anak Abang atau pun Dokter Wahyu. Reyhan anakku! Aku yang mengandung, Aku yang melahirkan. Aku sendiri yang membawanya pulang dari rumah sakit dengan tertatih. Aku sendiri yang mengurusnya tanpa bantuan siapapun. Aku yang berjuang sendirian di kakiku sendiri di kota besar, Saat sakit, aku yang merawatnya dan menjaganya. Saat kehabisan popok dan susu tambahan aku yang bekerja keras, saat bekerja pun aku bawa. Apa Abang masih ingat saat tidak sengaja bertemu di sebuah store perlengkapan bayi dan mainan bayi di salah satu Mall, hah! Saat itu aku ingin membelikan sesuatu untuk Reyhan. Ingin sekali Aku membeli stroller seperti yang Abang belikan pada anak perempuan Abang. Tapi aku tidak bisa membelikannya dan Abang masih ingat saat Abang juga melihatku jalan di trotoar dan aku sedang membeli mainan mobil-mobilan seharga 20 ribu, Karena aku tidak bisa membelikan di gerai itu! Dan Abang justru menggeber mobil Abang saat melewati aku dan Reyhan, sampai Reyhan kaget dan hampir menangis. Saat itu hatiku sakit Bang!”
Alex perlahan mendekati Bella, dan ingin meraih tangannya. Namun Bella mundur satu langkah.
“Bella, Apa benar itu anak kita? Maafkan Abang sudah meragukanmu!”
__ADS_1
“Apa...!! Abang masih bertanya itu anak kita atau bukan? Abang masih mempertanyakannya? Ayah macam apa Abang! Jelas-jelas Abang menikahiku. Abang yang meniduriku dan aku hamil. Abang masih mempertanykannya? Dimana hati nurani Abang!” Bella meraih gerah baju Alex.
“Wajahnya saja begitu mirip dengan Abang, Tapi Abang tidak pernah menyadarinya saat tidak sengaja bertemu! Saat ulang tahun Reyhan yang pertama di toko kue, kue itu hancur seperti hatiku, di saat itu juga aku sudah berjanji pada diriku sendiri aku tidak lagi berharap pengakuan dari Abang. Aku anggap Ayah anakku sudah MATI!!” Bella begitu tegas dan bicara tepat di wajah Alex dan menatapnya tajam. Setelah itu Bella menghempaskan Alex hingga terhuyung.
Bella meraih kalungnya lalu menariknya. Kalung yang ia beri cincin yang di berikan padanya sebagai tanda ikatan pernikahan. Cincin itu sengaja ia jadikan liontin di kalungnya agar selalu dekat di hatinya tetapi. saatnya ia harus melepaskannya.
"Aku kembalikan cincin ini padamu!” Bella mengambil tangan Alex dan menyerahkan cincinnya.
Bella mundur lalu berbalik dan menangis sejadi-jadinya tanpa suara. Arya menghampiri Bella lalu memeluknya sembari menatap tajam Alex.
“Ok! Semua akan baik-baik saja!” Arya mengusap lembut pipi Bella lalu mencium keningnya.
Arya mengajak duduk Bella lalu pandangannya tidak sengaja melihat seorang yang merekam kejadian barusan. Tanpa kata Arya menghampiri orang tersebut lalu merebut ponselnya. Arya menatap tajam pemilik ponsel tersebut lalu menghapus videonya.
"Dari dulu peraturan rumah sakit di sini tidak di perbolehkan mengambil gambar dan video. Apa Anda tidak melihat tulisan itu. di sana terlihat jelas BUKAN! Siapa lagi yang mengambil gambar atau video kejadian hari ini di kantin rumah sakit ini dan menyebar luaskan siap-siap berhadapan dengan saya dan pihak berwajib!” Arya memberikan ponselnya dengan sedikit kasar.
Alex melihat Bella dengan penuh penyesalan. Ia ingin sekali mendekati Bella, Namun sepertinya situasi belum tepat. Alex memutuskan pergi dari kantin dan kembali ke ruangan Anna.
“Arya membawakan teh hangat untuk Bella serta Sarapan berupa bubur ayam.
“Sarpan dulu ya. selesai ini kita kembali ke ruang Reyhan.”
Bella mengangguk lalu mereka berdua sarapan bersama setelah kembali ke kamar Reyhan.
Saat berjalan di lorong rumah sakit, Mereka berpas-pasan dengan dokter Wahyu.
"Bella!” panggil dokter Wahyu. Bella berhenti sekilas tersenyum tipis.
“Ya, dok!”
“Selama ini kamu kemana? saya juga mencari mu, Karena tiba-tiba kamu tidak lagi di apartemen.”
“Saya tidak kemana-mana, dok. Saya hanya berjuang menghidupi anak saya.”
__ADS_1
“Maafkan saya, Bella. Saya pikir Alex mengurungkan niatnya.”
“Tidak apa-apa, dok. Dokter tidak perlu meminta maaf. Dokter tidak salah. Saya yang harus meminta maaf pada dokter, sudah merepotkan dan terima kasih atas bantuannya selama ini. Saya sudah Bahagia dengan Reyhan dan Mas Arya.” Bella tersenyum ke arah Arya lalu merih Jemarinya. menggenggam erat di depan Wahyu.