DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 22 MENGANDAI


__ADS_3

Anna saat ini merasa kuwalahan melayani sang suami yang sudah meminta beberapa kali dalam satu hari satu malam. Namun ia hanya bisa melayani sebisa mungkin. Ia juga merasa senang melihat Suaminya yang begitu lebih bersemangat di banding saat awal menikah.


“Hai, Sayang. Kenapa senyum-senyum di depan cermin. Lagi membayangkan tadi malam ya?” Goda Alex saat melihat Anna menyisir rambut di depan cermin.


“Memangnya gak boleh. Terima kasih ya Mas, Baru kali ini aku benar-benar bahagia. Aku merasa memiliki kamu seutuhnya.”


“Iya, Maaf ya. Mungkin dulu aku kadang menyebut nama mantanku saat kita melakukannya. Terima kasih ya sudah membantuku.”


“Ini bukan pelampiasan, kan Mas.”


Alex melihat lekat Anna, Alex tersenyum lalu mengecup keningnya.


“Tidak sayang. Kamu yang terbaik. Aku tahu ini tidak mudah. Tapi aku minta maaf dan terima kasih padamu.”


“Mas....,” ujar Anna memeluk Alex.



“Ya sudah, Ayo kita sarapan?” ajak Alex.


Alex merangkul Anna menuju ruang makan. Mereka sarapan bersama dengan penuh suka cita. setelahnya mereka berangkat ke kantor.


Sesampainya di kantor, mereka seperti biasa bekerja secara profesional. Tidak memperlihatkan keromantisan di depan karyawannya. Apa lagi Anna yang malu jika di perlakukan manis di depan umum.


“Mas, ini bahan meeting hari ini!” Anna memberikan berkas pada Alex.


“Iya, terima kasih.” Alex memeriksa berkas tersebut dan membacanya dengan teliti. Sedangkan Anna duduk kembali di kursinya.


Anna tersenyum melihat sang suami dan masih terbayang aksinya tadi malam. Anna sampai tersenyum sendiri di balik leptop sambil melirik Alex.


Tak lama pintu ruangannya di ketuk seseorang. Anna sedikit terkejut dan menetralkan sikapnya.


“Masuk!” seru Anna. Terdengar pintu terbuka.


“Permisi Pak, Bu. Ada Adik Pak Alex datang, katanya sudah ada janji,” ujar Asisten Alex, Ronald.


“Oh, iya. Suruh masuk saja,” balas Anna sambil melirik Alex yang begitu sibuk mempelajari berkas meetingnya.


“Baik, Bu.” Ronald pun keluar untuk memanggil adik Alex yang bernama Axell.

__ADS_1


Tak lama Axell masuk dengan beberapa berkas di tangannya.


“Selamat pagi, Mbak!”


“Pagi Xell.”


“Ada apa kau datang kemari? Aku dan Anna tidak pernah membuat janji padamu!” Alex melihat sekilas sang adik yang kini duduk di kursi di depannya.


“Kalau tidak begitu, Mana mungkin aku bisa menemuimu. Oh ya, aku mau minta izin padamu, mau pakai Jasa Iren untuk iklan terbaruku. Boleh tidak!”


“Irene sudah bukan urusanku. Kau datangi saja sendiri.”


“Maksudmu?” Axell tidak mengetahui jika sang kakak sudah bercerai dengan Irene.


“Aku sudah bercerai dengannya. Kau tidak melihat berita perceraianku, Semua media memberitakannya.”


“Ouh! Im sorry. I don't know your problem.”


“Minum dulu xell!” Anna memberikan minuman kaleng untuk Axell dan Alex.


“Terima kasih, Mbak.”


“Kau ingin beralih profesi menjadi wartawan untuk acara gosip!” Alex menatap tajam sang adik. Ia tidak suka ada yang ikut campur masalah pribadinya.


“Kau datang kemari kalau hanya ingin membahas Irene, lebih baik kau keluar dari ruanganku!” Alex sedikit bernada tinggi. Anna yang sedari tadi melihat adik kakak sedang bicara pun bangkit dan menghampiri Keduanya.


“Mas ... sudah! Minum dulu ya!” Anna memberikan segelas air putih pada Alex.


“Xell, baiknya kau temui sendiri Irene di apartemennya dan jangan membahas Irene di depan kakakmu. Jangan memancing emosinya.”


Axell mengela nafas panjang dan melihat Anna sekilas lalu pandangannya beralih melihat Alex yang membuang pandangannya.


“Ok! Aku pamit. sorry sudah mengganggu waktu kalian.” Axell keluar dengan senyum sinis penuh arti. Sepertinya orang yang paling bahagia dengan perceraian Alex dan Irene adalah Axell.


“Mas, sudah ya. Jangan di ambil hati pertanyaan Axell. Kamu tahu sendiri Axell bagaimana.”


“Iya, Na. Mungkin aku lagi sensi saja membahas Irene. ”


Anna tersenyum dan mengusap pundak Alex, setelah Alex merasa tenang, Anna pun kembali bekerja begitu juga Alex.

__ADS_1


Disisi lain. Bella sedang belanja bersama Mbok Imah di salah satu pusat perbelanjaan yang cukup besar di Jakarta. Bella begitu senang saat berbelanja, apalagi saat belanja kebutuhan pribadi sang suami.


Bella juga membeli kebutuhan dapur dan susu hamilnya dan berbagai cemelin lainnya. Ia begitu senang nafsu makannya mulai kembali dan rasa mualnya sudah mulai sedikit hilang.


“Mbok beli es cream ya. Nanti beli Cemilan lainnya.” Bella memasukkan beberapa jajanan yang menurutnya menggugah selera makannya.


“Iya, Non tapi jangan banyak-banyak ya, Non. Nanti meleleh di jalan.”


“Iya Mbok, cuma buat makan di mobil.”


Keduanya melanjutkan menelusuri rak di setiap sudut. Tak luoa Roni sang bodyguard terus mengikuti mereka.


Setelah selesai berbelanja, mereka keluar dari pusat perbelanjaan dan menuggu Roni sedang mengambil mobilnya.


”Duduk dulu, Non.” Mbok Imah mengajak Bella duduk di pembatas sambil menunggu Roni datang.


Bella mengusap perut nya yang sedikit mulai terlihat membuncit. Ia mengusap sambil makan es cream.


“Mbok, perutku sudah terlihat ya! Lucu.”


“Iya, Non. Sehat-sehat ya Non. Semoga lancar,. sehat Ibu dan bayinya. Tuan Alex makin sayang sama Non dan anaknya.”


“Iya Mbok!” Bella tersenyum lalu kembali mengusap perutnya.


“Mbok!”


“Ya, Non?"


“Boleh gak ya aku egois. Kalau aku minta Abang tinggalkan Mbak Anna demi anak ini?”


“Astagfirullah Non! Tidak boleh seperti itu. Istri pertama tuan begitu baik sama, Non. Ya memang kita sebagai istri memang ingin memiliki suami satu-satunya. Tapi kita tidak bisa melawan takdir, Non. Melawan takdir tandanya secara tidak langsung sudah menyakiti hati istri pertama. Bisa saja tuan meninggalkan Istri pertamanya. Tapi ingat ya Non, tanpa izin istri pertama Non tidak bisa menjadi istri tuan Alex. Jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya, Non. lagipula tuan kan adil bagi waktunya. Non ... sejauh yang saya tahu tentang keluarga tuan Alex. Semua pencapaian yang tuan Alex miliki saat ini adalah karena andil dari Non Anna. Non Anna yang memiliki saham terbesar di perusahaan yang di pimpin tuan Alex saat ini jadi apa yang Non makan, Non pakai semua dari non Anna. Jadi jangan pernah berpikir seperti itu lagi ya, Non.”


“Iya, Mbok. Aku hanya mengandai saja. ya wajar Mbok. Cemburu!” Bella tersenyum dan menyesal sudah mengandai-andai yang seharusnya tidak ia bayangkan.


“Iya, Non. Mbok paham perasaan Non.”


“Terima kasih ya, Mbok. Sudah menasehatiku.”


“Sama-sama, Non.“

__ADS_1


Bella tersenyum lalu mengusap kembali perutnya. Tak lama mobilnya datang, kemudian mereka masuk kedalam mobil dan Roni memasukkan semua belanjaannya ke bagasi mobil. Setelah itu mereka pulang ke rumah.


__ADS_2