DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 33 DIA ANAKU


__ADS_3

Wahyu menemani Bella di rumah sakit. Ia hanya bisa melihat Bella mondar-mandir merasakan kontraksi. Bella meringis kesakitan sambil berpegang ujung brankar.


“Abang ... sakit,” lirihnya.


“Nyonya, Silahkan berbaring. Tuan Maaf, istri di bantu naik ke brankar. Kami akan memeriksa pembukaannya,” ujar Suster yang mengira Wahyu adalah suami Bella.


Wahyu bangkit dari duduknya dan membantu Bella berbaring. Wahyu membiarkan tenaga medis di rumah sakit tempat Bella melahirkan membantu persalinan Bella. Tidak mungkin ia juga mengambil alih karena bukan tempat ia praktek.


“Pembuakaannya sudah lengkap ya. Tuan tolong di samping istri terus ya.” Suster kemudian memanggil dokter dan bidan untuk menangani Bella.


“Abang ... sakit,” lirih Bella lagi dan terus memegangi lengan Wahyu.


“Bella, saya hubungi Alex ya. Saya tahu kamu butuh Alex.”


“Tidak Dok. Saya bisa sendiri.”


Wahyu memandangi Bella, dan diam-diam mengirim pesan pada Alex.


“Lex, kau ada dimana?”


“Aku ada di Bogor, sedang meninjau proyek baru!”


“Kebetulan! Datang sekarang juga di rumah sakit Darma. Langsung ke tempat persalin. Jangan banyak bertanya atau kau akan menyesal! Rumah sakit yang aku maksudhanya sekitas 15 menit dari proyek mu.”


Begitu bunyi isi pesan Wahyu. Alex berpikir sejenak baru ia terpikirkan Jika bulan ini adalah hari dimana Bella akan melahirkan.”


“Shit!” umpatnya pada dirinya sendiri dan bergegas menuju ramah sakit yang di maksud Wahyu dan meninggalkan proyeknya begitu saja tanpa pesan pada orang kepercayaannya.


Alex sudah seperti orang kesetanan mengendarai mobilnya, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dan akhirnya ia sampai di rumah sakit yang dituju.


“Sus, dimana ruang persalinan?” tanya Alex dengan nafas terengah-engah.


“Lurus belok kanan, ada tulisan vruang bersalin.”


"Terima kasih!” Alex berlari menuju ruang bersalin.


"Ibel!” teriaknya masuk begitu saja. Alex melihat Ibel sedang berusaha melahirkan anaknya dengan Wahyu di sampingnya dan menggenggam tangan Bella.


"Maaf, Anda siapa?” tanya bidan.

__ADS_1


“Saya suaminya!” Alex menghampiri Bella dan Wahyu menyerahkan tangan Bella.


Wahyu dan Alex hanya berbicara lewat mata dan hanya mereka yang tahu. Wahyu keluar dari ruang bersalin membiarkan Alex bersama Bella.


Banyak pertanyaan di kepala Alex, akan tetapi ia kesampingkan lebih dulu, yang terpenting saat ini Bella sudah ketemu.


“Abang, Sakit...,” lirihnya meremas tangan Alex.


“Dorong lagi, Nyonya. Ambil nafas, dorong!” seru Bidan mengarahkan.


Perawat, bidan dan dokter yang semuanya perempuan saling pandang melihat wajah Alex yang tidak asing. Sebab wajahnya sering bersiliweran di televisi dan majalah bersama Irene.


“Sayang, Maafkan Abang. Abang sudah mencari kamu kemana-mana. Abang hampir gila mencari kamu. Ayo sayang, kamu bisa melahirkan anak kita.”


Bella tak menggubris ucapan Alex, justru ia melihat bayangan Wahyu yang menunggu di luar ruang persalinan. Entah mengapa melihat Alex ia begitu bertambah sakit hati. Bella sudah tidak percaya ucapan manis Alex. Sebab ia tahu ucapan manis itu bukan hanya untuk ia seorang.


Tak lama, bayinya lahir dengan selamat. Bella menangis bahagia begitu juga dengan Alex. Alex lebih bahagia lagi karena bayi yang di lahirkan Bella berjenis kelamin laki-laki. Sudah pasti kelak akan menjadi penurus dan pewaris seluruh kekayaannya.


Mereka menangis berdua melihat bayi yang masih di bersihkan perawat. Alex terus mencium kening Bella. Bella hanya pasrah Alex memperlakukanya bak seperti tidak pernah terjadi apapun.


“Maaf tuan, Ini putra Anda. Selamat Nyonya atas kelahiran putranya.” Suster memberikan Bayinya pada Alex lalu Alex mengadzaninya.


Bella hanya diam saat ia sedang di tangani bidan dan perawat. Ia diam sambil melihat Alex menggendong bahagia putranya. perawat dan bidan hanya saling pandang melihat keduanya, dan mereka tahu siapa penyebab Iren menggugat cerai Alex.


Tatapan sinis Bidan dan perawat pun di sadari Bella. Namun ia hanya diam. ia tahu mata yang melihatnya itu sudah pasti menilai dirinya yang tidak-tidak.


Setelah selesai, Bella di pindahkan ke ruangan perawatan sedangkan Alex dan Wahyu berbicara di luar ruangan.


“Bagaimana kamu bisa menemukan Bella , Yu?” tanya Alex penasaran.


“Sebelumnya Aku minta maaf Lex, Sebenarnya aku bertemu Bella saat Bella hilang tiga hari. Aku yang membantunya pergi dari Jakarta dan aku yang memberikan dia tempat tinggal serta memberikan pekerjaan. Dan aku juga yang setiap saat datang ke apartemennya untuk menemani dia,v agar tidak bersedih terus memikirkan dirimu. Kau tahu betapa menderitanya dia saat dia mengingat namamu.”


“Kanpa kau tidak memberitahuku, brengsek!!” Alex menarik kerah baju Wahyu dan mengeratkan rahangnya, ia begitu kecewa pada Wahyu. Kenapa Wahyu tidak memberitahunya.


"Bella melarangku untuk memberitahumu!” balas Wahyu melepas cengkraman Alex.


“Kau tidak berbuat macam-macam pada istriku, kan?” Alex begitu marah dengan Wahyu dan mengira Wahyu berbuat macam-macam dengan Bella.Wahyu hanya tersenyum sinis.


“Kau pikir aku sebrengsek dirimu. Tapi jujur, Aku jatuh hati pada Bella!“ tegas Wahyu dan langsung mendapat pukulan dari Alex di bagian wajahnya.

__ADS_1


“Kau memang berengsek!” umpat Alex dan masih menghajar Wahyu.


“Stop, Bang!” teriak Bella di ambang pintu. Bella tertatih menghampiri mereka.


Orang-orang dan tenaga medis hanya bisa melihat dan tidak berani memisahkan mereka.


"Stop!” teriaknya. Alex berhenti menghajar Wahyu.


“Bella!” Ujar Alex hendak memegang kedua lengan Bella. Namun Bella mudur satu langkah.


“Jangan pernah salahkan dokter Wahyu. Dia yang sudah menolongku di saat aku butuh pertolongan.”


“Bella ... Abang juga sudah mencari kamu kemana-mana! Hampir setiap kota Abang mencarimu. Abang khawatir sama kamu, sayang!” Alex hendak menyentuh pipi Bella Namun Bella tepis.


“Khawatir? Abang khawatir? No...! Abang tidak pernah mengkhawatirkanku. Abang kurang gigih mencariku dan Abang tidak pernah mencintaiku. Abang selalu mengatakan aku istri tersayang bagi Abang. Tapi yang terbaik adalah Mbak Anna dan yang paling Abang cintai adalah mantan istri Kedua Abang! Yang sangat aku kecewakan, Abang tidak jujur kalau Abang mempunyai istri selain Mbak Anna. Aku kecewa Bang! Dan semua orang mengira aku adalah biang perceraian Abang dengan Mbak Irene. Padahal Abang sendiri yang tidak jujur. Aku paling benci orang yang tidak jujur dan pembohong seperti Abang. Abang menikahiku hanya rasa kasihan, Kan? Oh ya! Aku tidak mencintai Abang. Aku juga jatuh cinta dengan dokter Wahyu!”


“Bella!!” Suara tinggi Alex menggema di lorong rumah sakit. Alex tidak terima di permalukan istrinya sendiri.


“Kenapa? Abang marah! Ceraikan aku, aku sudah tidak sanggup menjadi madu di rumah tangga Abang dengan Mbak Anna. Aku hanya ingin mempunyai suami satu-satunya. Bukan berbagai suami atau menjadi istri ketiga Abang.”


Alex begitu marah. Ia menatap tajam Bella. Tidak menyangka gadis polos yang dulu ia kenal manja kini berubah drastis.


“Kau jatuh cinta dengan Wahyu? Sejak kapan? Atau jangan-jangan anak itu anak Wahyu? Makanya kau pergi meninggalkanku dan pergi bersama Wahyu?” tanya Alex yang membuat Bella seperti di sambar petir di siang bolong. Bisa-bisanya sang suami menuduh dirinya bermain api dengan Wahyu.


Alex mempunyai alasan sendiri kenapa ia bisa berucap yang membuat Bella sakit hati. Tentunya Alex menyamakan Bella dengan Iren yang mau di tiduri Axell, sang Adik.


“Iya, Anak itu bukan Anak kamu, Bang! Dia Anakku."


“Aku tidak menyangka kamu setega ini, Bella? Kau sudah membuatku malu. Memang benar , Anna yang terbaik. Baiklah ... kau minta cerai. Aku ceraikan kamu detik ini juga dan pergilah dari kehidupanku bersama laki-laki brengsek ini.” Alex pergi begitu saja. Namun saat langkahnya belum jauh ia berhenti tanpa melihat Bella lagi.


"Tunggu saja surat perceraianmu. Kau bebas dengan laki-laki sialan ini.” Alex kembali melanjutkan langkahnya.


"Lex, Tunggu! Itu semua tidak benar Lex!” seru Wahyu sambil mengejar Alex dan berusaha meraih tangannya, akan tetapi Alex mendorong Wahyu sampai tersungkur.


Sementara Bella menangis, sambil berjalan masuk ke ruang perawatan. Hatinya begitu sakit sudah dituduh yang tidak-tidak.


“Kuatkan Aku ya tuhan. Aku pikir Abang juga mencintaiku, tapi ...,” Gumam Bella sambil mengambil anaknya di dalam boks. Ia memeluk sang bayi yang batu saja lahirkan dan juga langsung tidak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya sendiri.


"Ibu janji, Nak. Ibu akan membesarkan kamu, dengan tangan ibu sendiri. Suatu saat nanti, kamu pasti mengerti.” Bella mencium pipi sang bayi.

__ADS_1


__ADS_2