
beberapa bulan kemudian.
Bella mulai melupakan Alex dan fokus pada pekerjaannya di sekolah dan fokus dengan rumah tangga barunya. Arya juga sudah membawa Bella ke rumah barunya. limpahan cinta Arya membuat Bella sedikit demi sedikit lupa rasa untuk Alex.
Di hari ulang tahunnya yang ke 25 tahun, Bella hanya mempunyai harapan agar terus bersama Arya dan anak-anaknya kelak. Ia juga sudah melepas alat kontrasepsinya dan berniat memberikan Arya Anak. Alex sendiri memang belum menemui Bella dan sang anak. Ia sengaja agar Bella perlahan mencintai Arya Dan ini hanya perkara waktu. Ia tahu Bella masih sangat mencintainya. Jadi ia sengaja untuk menghindar lebih dulu. Untuk tanggung jawabnya ia pada Reyhan ia berikan melalui Arya dan Arya menyimpannya untuk sang Anak.
“Sayang! Sudah siap belum! Reyhan sampai tidur!” Seru Arya menunggu Bella bersiap untuk pergi ke swalayan.
“Iya, Mas!” balas Bella keluar dari kamar dan dengan penampilan yang berbeda.
"Sayang! Kamu?” Arya begitu terkejut melihat istrinya dengan penampilan yang kini tertutup.
"Kenapa, Mas. Jelek ya?“
"Gak kok! Makin cantik! Tapi yakin dan udah siap pakai tertutup seperti Kak Elsa?”
"Kak Elsa?”
"Istrinya Kak Krisna, anak Tante Syasa!”
"Oh! Eum ... belajar dulu boleh!” jawab Bella malu-malu.
"Boleh sayang! Mas tidak akan memaksa. Mau pakai atau tidak yang penting hati kamu selalu baik dan terus berbuat baik.”
“Terima kasih, Mas. Aku tau semua buruh proses. Aku hanya ingin menjadi istri yang lebih baik lagi dan contoh bagi anak-anak kita nanti.” ucap Bella meraih tangan Arya. Arya mencium kening sang istri. Kecantikan Bella semakin bertambah di mata Arya.
"Ya sudah! Berangkat yuk!” ajak Arya lalu merangkul Bella menuju ke luar.
Arya mendudukkan Reyhan di kursi khusus di mobil lalu masuk ke kursi kemudi sedangkan Bella sudah masuk lebih dulu di kursi depan. Tak lupa sang baby sister yuag sudah duduk di sebelah Reyhan.
"Narti tolong jaga Reyhan ya.” ucap Arya pada Baby sisternya.
“Baik tuan.” balasnya sopan lalu Arya masuk kedalam mobil dan menyalakan mobilnya.
“Mas, Nanti beli kebutuhan Reyhan dulu ya. baru keperluan dapur. Baru mampir ke apotik buat beli tespeck!” ujar Bella membuat Arya mematikan mobilnya karena mendengar kata tespeck.
"Tespeck?”
"Hm, Aku telat 5 hari!”
"Serius! Sayang?”
"Mas, untuk ini aku tidak bercanda!” Bella tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang suami yang antara senang dan tidak percaya.
__ADS_1
"Semoga saja, ada Adik Reyhan di sini!” Arya mengusunp perut Bella. Bella juga senang melihat suaminya bahagia.
"Sudah ayo! selak Reyhan bangun."
"Wah, Reyhan mau pulang adik ya Nyonya!”
"Doakan saja ya, Narti!” balas Bella sekilas menolehbke belakang melihat Narti dan Reyhan.
"Semoga ya, Nyonya!”
Arya mengemudi mobilnya menuju swalayan terbesar di Surabaya tanpa di kawal bodyguardnya. Karena saat bersamanya ia tidak lagi memerlukan bodyguard.
Sesampainya di swalayan Reyhan di naikan di stroller dan di dorong Narti. Sementara itu Bella dan Arya berjalan bergandengan. Mereka menuju rak tempat keperluan dan kebutuhan Arya. Mulai dari susu dan sampo, bedak bayi dan sebagainnya. Kemudian mereka beralih ke tempat sayur dan keperluan dapur tak lupa Bella juga membeli apa yang di butuhkan baby sister anaknya dan juga Kebutuhan pribadi dirinya dan suaminya.
"Mas, Capek!” ujar Bella saat mengantri di kasir.
"Ya sudah, kamu keluar dulu tunggu di sana sama Reyhan dan Narti. Mas bayar ini.”
“Gak apa-apa aku nunggu disana sama Reyhan?”
"Gak apa-apa! Gak ada yang ganggu! Itu ada satpam dekat bangku disana.”
"Baiklah. Narti Ayo kita keluar dulu. Tunggu di luar saja.”
"Baik Nyonya.”
"Dor!" seru Tasya.
"Kamu! Gawe kaget wae!”
"Hehe! Sengaja. Bayar sekalian! Mbak, Mas saya yang bayar ya!” Tasya meletakkan belanjanya di depan kasir.
"Hm! Kebiasaan!" kesal Arya.
"Biarin. kan aku masih tanggung jawab Kakak!”
"Iya, bawel! Sekalian punya adik saya, Mbak!” ucap Arya pada kasir agar belanja Tasya di total menjadi satu dengan miliknya
"Baik! tuan!”
"Kamu sama siapa? Kapan pulang dari Jakarta!”
"Itu sama seseorang. Teman lama!” Tasya menunjuk seseorang yang sedang mengambil minuman dingin.
__ADS_1
"Itu kan, dokter Erick dulu!” ujar Tasya heran.
"Hm. Dia lagi liburan di sini. Gak sengaja kemarin ketemu di bandara, jadi ... kami janjian jalan-jalan.”
"Terus dua duda dokter yang deketin kamu bagaimana?"
"Maaf tuan Semua 6 juta tiga ratus!” sela kasir memberi tahu total belanjanya. Arya memberikan kartu cardnya.
"Kan, cuma temenan. Sama dokter Erick juga temenen. Liat saja nanti siapa yang bisa bertahan hadapin sikap aku yang absurd.”
"Sya! Minuman yang ini?” tanya Erick tiba-tiba menghampiri Tasya sambil membawa minuman dinginnya.
"Yes! thanks you! Erick. Kak sekalian.”
"Bayar sendiri! itu jajan kamu. Udah tua jajan terus!” Arya pergi begitu saja sambil mendorong troli belanjanya setelah mengambil kartu cardnya.
"Ye ... awas sampai rumah!” kesal Tasya.
“Sudah, biar saya yang bayar!” sambung Erick mengeluarkan uang sesuai total belanjanya.
"Tasya sama siapa, Mas?” tanya Bella saat Arya menghampirinya.
"Dr Erick. Dokternya Amara dulu waktu Amara sakit! Gak tau itu anak mau serius sama siapa.”
“Mas ... perempuan yang sudah berumur dan pernah trauma masalah cinta itu akan lebih selektif memilih pasangan hidup. Dia akan akrab ke banyak pria dan seolah memberi harapan. Tetapi sebenarnya biasa saja. Di balik sikapnya itu dia sedang memilih pria yang tepat untuk kedepannya. Bukan hanya masalah cinta. tapi faktor keuangan. faktor pekerjaan dan latar belakang keluarganya. Aku rasa itu realistis untuk ukuran Mbak Tasya. Karena semakin bertambah usia cinta saja tidak cukup. Sama aku juga begitu!” Bella tertawa kecil melihat Arya yang kadang heran dengan tujuan sikap perempuan yang tidak bisa di tebak.
"Jadi intinya perempuan itu matre!” sambung Arya.
"Ya harus! Memang kenyang makan cinta. Memangnya biaya hidup dan biaya sekolah anak cukup di bayar pakai buku nikah!”
"Ok baiklah. Aku nyerah debat sama mak-mak! Menurutmu setuju tidak Narti sama Nyonyamu yang ini!” tanya Arya di akhir kalimatnya.
"Ya harus tuan! Jaman sekarang semua serba pakai uang! Ada uang Abang sayang, gak ada yang Abang ku tendang” balas Narti sedikit tertawa di iringi tawa Bella.
"Lah! kae luwih parah Narti! Sama saja ternyata. Kayaknya aku harus lenih giat bekerja! Biar gak kena tendang!”
Bella tertawa sambil melihat Tasya menghampirinya bersama Erick dan mereka memang tampak biasa saja.
"Halo anak Tante! Udah besar, gak kerasa kamu sudah dua tahun! Tante gemes!” Tasya mencium pipi Reyhan sampai Reyhan menangis.
"Tasya! Kamu kebiasaan bikin Reyhan nangis!” seru Arya. Namun Tasya hanya tertawa sambil mengambil Reyhan dari stroller.
"Oh sayang! Maafin Tante ya. habisnya kamu ngeslin sih!”
__ADS_1
“Kamu itu yang ngeselin.” Jawab Arya sewot. Namun Tasya masa bodo'.
Tasya kemudian memperkenalkan Erick pada Bella dan setelah itu mereka pulang ke rumah.