
Pesta telah usai. Semua orang sudah kembali ke rumah dan penginapan masing-masing bagi yang rumahnya jauh. untuk keluarga Bram sendiri mereka menginap di kamar yang sudah di sediakan.
Arya dan Bella juga sudah di kamar dan Reyhan tidur di boks yang sudah Arya sediakan di kamarnya.
Arya melihat Bella keluar dari kamar mandi dan menggunakan piyama tipis pemberiannya. Bella hanya diam, ia bingung harus berbuat apa. Walau ia sudah berpengalaman, Namun ia masih canggung untuk melakukan hubungan suami istri dengan Arya.
"Mas, aku boleh tidur dulu. Aku capek!” ucap Bella sedikit takut dan tidak berani menatap Arya.
"Iya, tidurlah. Aku juga mau ganti baju dulu!” Arya kemudian bergegas menuju kamar mandi.
Bella melihat jam dinding yang menunjuk jam 2 dini hari. Bella melihat Reyhan dalam bok dan sepertinya sedang bangun kemudian membuat susu. Setelah membuat susu ia menghampiri Reyhan.
"Hai sayang, haus ya. Ini susunya.” Bella memberikan susunya lalu mengecek popoknya sudah penuh atau belum, rupanya popoknya pun penuh. Bella mengambil Reyhan dalam bok dan membawanya ke tempat mengganti popok.
"Reyhan bangun?” tanya Arya yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Iya Pa. Reyhan haus,” balas Bella menirukan suara anak kecil sambil mengganti popoknya.
Arya berdiri di samping Bella dan melihat Bella begitu cekatan mengurus Reyhan. Arya melihat tengkuk Bella lalu mulai menciumi tengkuknya. Bella merasa tidak nyaman karena ia belum siap melakukannya dengan Arya.
“Maaf Mas! Aku belum siap.”
Arya terdiam dan langsung berhenti mencumi tengkuknya. Tak lama Arya mengambil alih Reyhan untuk ia timang. Bella terus memandangi Arya sambil bersandar di lemari kecil milk Reyhan.
“Ya Tuhan, aku belum siap, tapi mau sampai kapan bayangan Abang ada dalam pikiranku. Ayo Bella kamu bisa! Ayo lawan. Ingat Bella dosa menolak suami. Mas Arya sekarang suami kamu. Orang yang sudah mencintaimu tanpa di duakan.” Bella melangkah menghampiri Arya yang baru saja meletakkan Reyhan di dalam boknya.
Arya berbalik dan melihat Bella di depannya. Ia terkejut tiba-tiba Bella mencium bibirnya. Arya mulai mengimbangi Bella saat Bella perlahan menariknya ketempat tidur dan masih berciuman. Bella membuka tali piyama dan membuka piyamanya sendiri dan menuntun tangan Arya ke pinggangnya. Tangan Bella membuka kancing baju tidur Arya.
Bella mendorong Arya ke tempat tidur dan melancarkan aksinya. Arya hanya bisa pasrah mengikuti Permainan Bella.
"Mas, Lakukanlah sesukamu. Aku milikmu,” bisik Bella lalu berpindah posisi di bawah. Arya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ia pun mulai mengambil alih kendali.
"Apa kamu siap memberikan adik untuk Reyhan?” tanya Arya pelan sebelum Arya memulai ke bagian inti.
"Aku KB, Mas. Mungkin Nunggu Reyhan dua tahun pas. Maaf ya!”
Arya tersenyum lalu memanggut bibir Bella dan memulai permainan intinya. Suara nikmat keduanya membuat malam mereka semakin menumbuhkan rasa cinta terlebih Arya yang begitu bahagia memiliki Bella seutuhnya.
Bella terus memandangi wajah Arya seolah ingin menghapus jejak wajah Alex di pelupuk matanya.
__ADS_1
Tidak terasa pagi pun tiba. Suara ketukan pintu kamar Arya membuat Bella terbangun. Bella melihat jam dinding dan ternyata sudah menunjukkan jam 8 pagi. Bella mengambil piyamanya lalu ia kenakan dan berjalan menuju pintu.
"Iya sebentar!” balasnya dengan suara seraknya.
“Selamat pagi sayang!" sapa Utari.
"Mama! Maaf Ma, Bella kesiangan.” Bella merasa tidak enak hati sudah bangun kesiangan.
"Tidak apa-apa. Mama mengerti. Mama datang cuma mau ambil Reyhan. Biar Mama mandikan.” Utari langsung masuk begitu saja dan menghampiri Reyhan. sekilas Utari melihat putranya yang masih tidur dengan bertelanjang dada dan hanya menutupi bagian bawahnya dengan selimut. Utari mengambil baju ganti dan keperluan Reyhan untuk mandi.
"Sudah lanjutkan. Reyhan biar Mama yang urus!” Utari tersenyum sambil keluar menggendong Reyhan. Bella hanya tersenyum melihat mertuanya begitu baik dengannya dan juga anakmu. Salah jika ia tidak menerima Arya sepenuh hati.
Bella menutup kembali pintu kamarnya kemudian menghampiri sang suami. Bella duduk di tepi tempat tidur dan melihat suaminya.
"Kamu sudah bangun!” Lirih Arya melihat sekilas Bella terus melihatnya lalu mengusap wajahnya.
"Iya. Tadi Mama ketuk pintu. Ambil Reyhan.”
Arya bangkit dan duduk bersandar sandaran tempat tidur. “ Kalau masih ngantuk tidur lagi.” Arya menepuk bantal di sebelahnya.
"Gak Mas! Aku mau mandi. Mau ganti shalat subuh. Mas juga ya!”
"Boleh tapi nanti ya! ganti shalat dulu. Aku juga capek, laper haus.”
"Baiklah. Ayo mandi!” Arya bangkit dan langsung membopong Bella ke kamar mandi.
Mereka tertawa bersama dan mereka pun melakukannya lagi saat mandi.
"Mas benar-benar ya! Udah tau aku laper, malah nambah di kamar mandi!” grutu Bella saat selesai mandi dan sudah keluar dari kamar mandi.
Arya hanya tertawa kecil sambil mengambil baju ganti di lemari di ikuti Bella yang juga mengambil bajunya.
Setelah mengganti baju mereka berdua turun ke lantai bawah. Banyak keluarga yang sudah menunggu mereka hanya untuk meledek Arya.
"Ahai! Ada yang sudah belah duren!” ledek Raffi anak Bianca.
"Hahai! Auranya langsung beda!” sambung Tasya di iringi tawa semuanya.
"Brisik kalian!” balas Arya di anak tangga sambil terus menggenggam jemari Bella.
__ADS_1
"Sukses Ar!” tanya Arjuna meledek!”
"Si om Juna lagi ikut-ikutan!” balas Arya sedikit kesal.
"Enak dong! Pasti tadi nambah!” ujar Bianca.
"He! kalian udah pada tua, ngeledek kerjanya. kalian pernah muda kan. Kamu ca, gak ingat sama Reza suami kamu dulu!” sambung Wina menghentikan semua agar Bella tidak malu.
"Sudah biar mereka sarapan dulu, tenaga mereka sudah habis!”
"Mama!” saut Semua anak Wina.
"Oma juga sama aja, secara gak langsung juga ngeledek!” saut Tasya kesal.
“Hm! Nanti kalau kamu udah nikah juga tau rasanya.” balas Wina tertawa kecil melihat Tasya yang kesal.
Arya hanya tersenyum melihat Bella. Bella mengambilkan air minum untuknya dan juga sarapannya.
"Sudah cukup, sayang!” ucap Arya saat Bella sedikit banyak mengambilkan nasi untuknya.
"Cukup?”
"Iya, Kamu juga harus makan ya banyak ya. Udah di sedot dua orang!”
"Mas!” pekik Bella melihat sekelilingnya, takut ada yang mendengar. Sedangkan Arya hanya terkekeh.
“Kak!” ujar Tasya lalu duduk di sebelah Arya.
"Hm! opo?”
"Kakak habis ini langsung menetap di Surabaya dong? Aku jadi sendirian di Jakarta!” lirih Tasya.
"Kamu kan udah dewasa Sya. Ayolah buka hati kamu buat pria lain. Gak semua pria itu jahat kok. Masih banyak pria yang baik menerima kamu apa adanya. Kakak GK bisa selamanya jagain kamu. Apalagi Mama dan Papa juga sudah semakin tua. Cuma kamu cucu Oma yang belum menikah, Sya.”
"Iya, kak. Tasya coba buka hati sama siapa aja, sama bodyguardku, boleh?”
"Ngaco kamu? Bodyguard kamu udah punya istri!”
Tasya hanya tertawa, ia hanya bercanda untuk menutupi hatinya yang sebenarnya bimbang untuk membuka hati.
__ADS_1