
Anna baru selesai saja mandi dan mendapati suami duduk termenung sambil memegang dokumen di tangannya. Anna berjalan mendekatinya dan memeluknya dari belakang.
“Mas lagi mikirin apa?“ Anna mencium pipi Alex.
“Bella! Bagaimana caranya aku minta maaf dengannya. Semua ini salahku aku terlalu egois! Pasti dia sangat menderita. Aku harus bagaimana Na? Sedangkan sepertinya ia begitu bahagia bersama Pria itu."
“Lepaskan dia, Mas. Dia berhak bahagia berikan surat perceraiannya dan kita fokus rumah tangga kita sendiri terutama Alisa, putri kita.” Anna kemudian duduk di samping Alex den menggenggam jemarinya.
“Aku pikir dulu aku sudah adil dengan semua istriku, tapi dua istriku sudah aku sakiti terlebih bella.”
Anna menghela nafas panjang, sebenarnya ia cemburu sang suami terus memikirkan dua mantan madunya. Apalagi akhir- akhir ini Alex sering memikirkan Bella dan Reyhan.
“Lalu Mas maunya bagaimana?”
“Aku hanya ingin melihat putraku, Na. Anak lelakiku.”
“Tapi mungkin belum saatnya, Mas. Bella masih terlalu sakit untuk menerima kehadiran mas.”
“Kamu benar! Terus apa yang hatus aku lakukan.”
“Lapaskan dia, berikan surat ini padanya dan minta maaf dengan tulus. Tapi jika dia tidak mengizinkan kamu untuk bertemu dengan Reyhan. Kamu jangan memaksa. Biarkan dia bahagia dengan anak Om Abi. Mereka bukan orang sembarangan. Kita tidak bisa berbuat apa-apa jika sudah berhadapan dengan keluarga Sanjaya. Kalau Bella sudah menikah. Mas bisa bicara baik-baik dengan Arya bagaimana baiknya agar bisa. menebus kesalahan Mas pada Bella dan Reyhan.”
Alex tampak gelisah mendengar solusi dari Anna. Ia sebenarnya tidak rela jika Bella menikah lagi. Ia ingin Bella kembali padanya dan membesarkan anak bersama-sama.
"Tapi, aku mau Bella kembali bersamaku, Na. Aku ingin terus bersama Reyhan.” Alex mengusap kasar wajahnya lu meletakkan dokumen surat cerai Bella di meja . Anna terdiam sejenak, bagaimana menyadarkan suaminya agar tidak egois.
"Mas ... situasinya sudah berbeda. Bella seperti lebih bahagia bersama Reyhan dan Arya tanpa hadirnya kamu, Mas! Tolong biarkan Bella bahagia. Jangan egois, Mas. Mas Mau memperdalam luka di hati Bella. Pikirkan solusiku. Biarkan Bella berdamai dengan hatinya lebih dulu, biarkan Bella bahagia, Mas. Mas fokus padaku dan anak kita. Tolong Mas!”
“Aku tidak, Na.” Alex bangkit dari duduknya dan menghampiri putrinya yang sedang tidur di boksnya.
Anna diam-diam mengambil dokumen surat cerai Bella, lalu menyembunyikannya dari Alex . Anna ingin memberikannya langsung pada Bella. Anna juga ingin suami tidak lagi memikirkan wanita lain. sudah cukup selama ini ia bertahan dan akhirnya menjadi istri satu-satunya.
__ADS_1
Disisi lain Bellaasih tertidur pulas dengan Reyhan. Sepertinya mereka begitu menikmati tidur di kasur empuk yang begitu nyaman dengan selimut tebal dan merasa aman tanpa takut Alex akan mengganggunya.
Arya yang baru saja selesai masak untuk sarapan, ia pun langsung menuju kamar sang adik untuk membangunkannya.
Arya duduk di tepi tempat tidur mengusap lembut rambut sang adik. Melihat adiknya pulas rasanya tidak tega ingin membangunkannya. Walau usia Tasya sudah 30 tahun Arya sebagai kakak selalu memanjakannya dan sebisa mungkin terus menjaganya. Arya hanya berharap sang adik mendapatkan suami terbaik yang bisa menjaga dan sabar dengan tingkah absurdnya.
"Sya, bangun. Kamu mau ke restauran, gak. Kakak sudah buat sarapan buat kamu!” ucap Arya sambil mengguncang pundak Tasya.
"Hm! Iya, nanti aku ke restoran. Hari ini ada orang yang mau menyewa satu restoran untuk acara ulang tahun."
" Restauran yang dimana?”
"Dekat pantai, dekat villa Tante syasa!”
"Ya sudah, Bangun, mandi, sarapan.”
"Hm.”
Arya membenarkan posisi Reyhan lalu menyelimutinya. Kemudian beralih Melihat Ibu dari calon anak tirinya.
"Isabella. Kau memang wanita kuat, Aku jadi teringat kisah Oma Wina, yang begitu tegar sepertimu tapi kau jauh lebih kuat, sayang. Apa bisa aku seperti Opa Bram, yang terus menanjakan Oma dan selalu ada untuk Oma,” batin Arya mengusap lembut pipi Bella.
Bella merasa ada yang menyentuhnya ia pun terkejut.
“Aku pikir siapa, Mas!” Bella memegang tangan Arya.
“Calon suami kamu, sayang.“ Bella bangkit lalu memeluk Arya.
"Mas. Diam dulu ya. Aku mau peluk kamu dulu. Aku rindu sama Ayah!” Bella memeluk Arya begitu erat. Dengan senang hati Arya membalasnya dengan penuh kasih sayang. mengusap punggungnya agar Bella merasa nyaman.
“Peluk sesukamu. dada dan tanganku siap merangkulmu.”
__ADS_1
“Kapan kita nikah?” tanya Bella tiba-tiba. Bella sengaja ingin secepatnya menikah agar Alex tidak mudah mengambilnya. Bella takut Alex akan menuntut hak asuh dan memberatkan haknya sebagi ibu karena kondisi tempat tinggal Bella untuk Reyhan. Ia takut di anggap tidak memberikan tempat tinggal yang layak untuk anaknya.
“Kita urus surat cerai kamu dulu ya. Nanti aku temui istri Alex, siapa tau dia bisa membantu. kalau tidak nanti aku bicara baik-baik dengan Alex lebih dulu. kalau tidak bisa juga kita ke pengadilan agama minta salinannya.
"Mau nikah aja di persulit. Hidupku sudah di bikin sulit dan menderita. Apa aku tidak boleh bahagia?”
“Sabar ya! Aku akan usahakan.” Arya mengusap lembut pipi Bella dan tersenyum. Ia tahu apa yang di pikiran Bella.
"Pa-pa!” suara mungil itu terdengar. rupanya Reyhan sudah bangun.
"Hai! jagoan Papa sudah bangun. Sini sama papa.” Arya mengulurkan kedua tangannya dan Reyhan merangkak menghampirinya.
"Bagaimana tidurnya. Nyenyak? Anak Papa pinter. Tos dulu!” kedua tos lalu Arya memeluk Reyhan.
"Sayang! kamu mau sarapan dulu atau mau mandi dulu?”
"Sarapan dulu, Mas. laper!”
"Ya sudah! Mas sudah masak buat kalian. Buat Reyhan juga. Papa sudah buat bubur buat Reyhan." Arya bangkit sambil menggendong Reyhan, bocah 15 bulan itu bahagia mendapatkan sosok Ayah. Bella juga bangkit mengikut langkah Arya menuju ruang makan.
"Kak! Aku berangkat!” pamit Tasya sambil mengenakan jasnya
“Sudah sarapan?”
"Sudah! Tapi maaf piringnya gak sempet nyuci. Udah telat!” Tasya menghampiri Arya untuk Salim lalu mencium pipi sang kakak, tak lupa Tasya juga mencium gemas pada Reyhan, kemudian bersalaman dan sekilas memeluk Bella.
"Bye! Kak, mbak, adik kecil, Tante kerja dulu ya! Nanti pulang Tante belikan martabak!” canda Tasya
"Martabak. belum bisa makan. Bocah!”
“He! iya nanti tante belikan mobil-mobilan polisi ya. buat tangkap penjahat cinta! bye!” Tasya berlari keluar sedangkan sang kakak hanya menggelengkan kepalanya. Ada saja tingkahnya.
__ADS_1