
“Mas, terima kasih ya sudah membelikan Reyhan stroller, sebenarnya sudah gak begitu butuh, sih!”
“Tidak apa-apa. Justru masih butuh, sayang. Biar kamu nggak capek gendong Reyhan, Reyhan kan semakin besar. Apa lagi kalau Reyhan tidur. Ini Mas sengaja belikan yang besar biar kalau Reyhan tidur sedikit leluasa. ini masih bisa di pakai sampai usianya tiga tahun.”
"Iya, Mas. Terima kasih!”
“Sama-sama.“ Kedua keluar dari store perlengkapan bayi dan stroller pun langsung di naiki Reyhan. Reyhan begitu senang serasa naik wahana permainan. Reyhan duduk manis sampai-sampai tertidur.
"Kini mereka sedang duduk disalah satu bangku di Mall sambil memakan es cream. Mereka Istirahat sejenak karena lelah selesai berbelanja.
"Reyhan tidurnya pulas," Ucap Arya lalu melihat Bella.
“Oh iya Mas. Boleh tanya sesuatu gak?”
"Apa? Tentu saja boleh!”
“Mas kerjanya apa? Maksud aku ... selama ini Mas selalu ada waktu buat aku dan Reyhan.”
Arya tersenyum lalu mengusap es cream yang menempel di sudut bibir Bella
"Membantu bisnis keluarga. Kadang juga bantu kerjaan Tasya!” jelas Arya yang sebenarnya pekerjaannua begitu banyak, Namun terlihat santai.
"Bisnis keluarga?”
“Hm ... seperti mantan suami kamu, tapi sekala lebih besar. karena memang perusahaan besar, tidak hanya di bidang konstruksi tapi juga bidang kecantikan, hotel dan restoran milik Papa sendiri dan Mall ini juga!”
"Hah? Mall ini juga punya Mas?”
"Tidak sayang. Ini milik keluarga. Papa punya saham di Mall ini dan Mall cabang lainnya. dulu sewaktu muda papa, Papa dan Tante syasa serta Om Bryan membeli mall ini dan di kembangkan. kalau untuk restoran memang murni milik papa, untuk hotel warisan dari opa buyut yang sepenuhnya di tangan Tante Bianca. Papa cuma membantu Tante Bianca. Kalau aslinya Mas, ya ... Mas tidak punya apa-apa, cuma karyawan! Kamu gak apa-apa. calon suami kamu ini hanya karyawan biasa? Bukan bos seperti mantan suami kamu?”
“Gak apa-apa, Mas. Yang penting kamu jadikan aku satu-satunya istri, tanpa ada yg lain. Gak enak di madu!”
Arya tertawa kecil lalu merangkul Bella dan mencium pipinya. Bella juga tersenyum sudah menemukan orang yang ia cari selama ini.
“Ya sudah! Kita pulang, Mas antar kamu ke apartemen dulu. Nanti Mas ada meeting di kantor dekat sini.”
__ADS_1
"Iya!” Keduanya bangkit lalu mendorong stroller Reyhan dan pulang ke apartemen.
Setelah mengantar Bella Arya pergi ke kantor Laras untuk membahas bisnis baru bersama Daren, anak sulung Laras. setelah itu Arya pergi ke kantor Alex untuk menemuinya dan ingin membicarakan masalah surat cerai milik Bella yang masih tangan Alex.
Arya menunggu di lobby kantor Alex setelah bertanya pada resepsionis.
Alex dan Anna berjalan menghampiri Arya yang masih fokus dengan ponselnya. Hanya sekitar 10 menit Arya menunggu Alex dan Anna.
“Ada apa kau datang kemari mencari kami?” tanya Akex dengan angkuhnya. Arya terdiam sejenak lalu mengantongi ponsel di saku jaket hitamnya. Dengan santai Arya bangkit lalu mengulurkan tangannya, Namun Alex enggan menjabat tangan Arya. Begitu juga saat Anna ingin menjabat tangan Arya Alex menepis tangan Anna.
"Sepertinya saya tidak di sambut dengan baik! Tidak apa-apa, Jadi saya tidak perlu basa-basi. Langsung saja, kedatangan saya kemari untuk mewakili Isabella untuk meminta surat cerainya yang masih di tangan Anda."
“Kalau aku tidak ingin memberikannya?“
“Mas! Apa maksud kamu tidak mau memberikan surat itu. Kamu ingin Bella tidak bahagia seumur hidupnya. Kamu mau menyiksa bella.”
“Diam kamu!” gertak Alex pada Anna.
"Aku tidak akan memberikan surat itu jika aku tidak busa bertemu dengan putraku!”
Arya tertawa dan tidak habis pikir dengan sikap Alex, bukankah dulu ia tidak mengakui Reyhan sebagai anaknya?
"Lalu apa urusanmu?”
"Mas! Cukup! Mas selama ini sudah membuat Bella menderita. Sekarang biarkan dia bahagia dengan tuan Arya!”
“Diam Anna!!” teriak Alex membuat Anna terkejut tidak menyangka ini pertama kalinya sang suami membentaknya. Anna kemudian berlari meninggalkan lobby menuju keluar sambil membawa beberapa dokumen penting serta surat cerai Bella.
Arya tanpa basa-basi ia pun meninggalkan Alex keluar kantornya. Rupanya Anna menangis di samping mobilnya. Arya yang melihat pun menghampirinya.
"Maaf jika kedatangan saya membuat bAnda bertengkar dengan suami Anda, Nyonya!”
"Tidak apa-apa tuan. Ini surat yang anda cari dan secepatnya tinggalkan kantor saya! Dan tolong bawa pergi Bella sejauh mungkin. Setidaknya sampai Bella melupakan Alex dan menyembuhkan luka di hatinya.”
Arya mengambil map berusikan dokumen surat cerai milik Bella, lalu ia pun segera pergi dari kantor Anna.
__ADS_1
Arya tersenyum rupanya doa sang Mama yang meminta di mudahkan segala urusannya dengan Alex di kabulkan Tuhan.
"Mak aku kawin!” Arya begitu girang saat melanjukan mobilnya pulang ke apartemen dan ingin secepatnya sampai.
Arya tidak langsung mengabari Bella ia ingin memberi kejutan untuknya. Sesampainya di apartemen Arya melihat Bella sedang mengganti baju Reyhan di ruang depan.
"Hai sayang! Hai anak Papa! Sudah Mandi?” Arya sekilas mencium pucuk rambut Bella dan juga Reyhan secara bergantian.
"Katanya pulang malam Mas?”
"Urusanku sudah selesai, jadi pulang saja. Kangen sama kamu dan Reyhan.”
“Mas bisa saja gombal!” Bella kemudian memberikan Reyhan pada Arya.
“Tolong jaga Reyhan dulu ya. Aku buatkan teh! Mau teh atau kopi!”
"Susu!” jawab Arya nyeleneh sambil tangannya memegang tangan Reyhan yang ia arahkan ke dada bocah 15 bulan tersebut.
“Mas...! Jangan ngaco deh!” balas Bella sedikit kesal.
"Gak sayang! bercanda. Itu kan punya Reyhan Papa. Papa belum boleh minta!” ujar Arya menirukan suara anak kecil di akhir kalimatnya.
"Aku buatkan teh saja ya!”
“Iya. Ini teh susu!” Arya tertawa di iringi tawa Reyhan. Bella pun menggelengkan kepalanya lalu menuju dapur.
Bella membuat teh serta membuat susu untuk Reyhan setelah itu membawanya ke ruang depan.
"Ini teh, susu!” Bella meletakkan segelas tehnya di meja lalu memberikan botol susu untuk Reyhan.
"Mas mau makan malam pakai apa?” tanya Bella duduk di samping Arya.
"Kita makan di luar saja. Ada kejutan untuk kamu!”
"Kejutan apa, Mas?”
__ADS_1
"Ada deh! Nanti Reyhan sementara sama Tasya, dan kebetulan Mama dan papa juga sedang di Jakarta. Pokoknya ada kejutan untuk kamu dan kamu tidak akan pernah lupa seumur hidup kamu!”
Bella mengerutkan dahinya, kejutan apa yang akanvdi berikan calon suaminya itu. Ucapan Arya membuat Bella penasaran.