DERITA ISTRI KETIGA

DERITA ISTRI KETIGA
BAB 44 MENCINTAI KEDUANYA


__ADS_3

Semakin hari, hubungan Arya dan Bella semakin dekat. Begitu juga dengan Reyhan. Reyhan seolah tidak mau berpisah dari Arya. Terkadang Arya bingung sendiri saat Reyhan merengek tidak. memperbolehkan Arya pulang. Terpaksa Arya menunggu Reyhan tidur baru ia pulang dari kosan. Hubungan Bella dengan Arya pun semakin dekat.


Saat ini Reyhan begitu rewel dan suhu tubuhnya pun panas, Bella panik dan tidak tahu harus meminta bantuan dengan siapa di tengah malam. Reyhan terus menangis dan ia hanya bisa menggendongnya. Ia juga sudah menghubungi Arya, namun Arya belum juga datang.


“Mas, Arya mana sih. Belum datang? sabar Ya Nak. Om mungkin kena macet." Bella terus menenangkan Arya yang menangis.


“Woy! Berisik!! Bisa diam gak anak lo itu! Ganggu orang tidur!” seru seseorang di balik pintu kosan Bella disertai gebrakan pintu.


“Gak bisa diamin anak gak usah punya anak!” Orang tersebut hendak menggebrak pintu kosan Bella lagi tapi di cekal seseorang.


“Kau akan merasakannya jika nanti kau punya anak!” geramnya sambil menatap tajam lalu menghempaskan tangan wanita yang mengebrak pintu Bella.


“Bella! Ini mas Arya!” Seru Arya Bella membuka pintunya.


“Reyhan kenapa?”


“Badannya panas! udah minum nobatbtapi belum turun-turun!”


“Ayo! kerumah sakit!”


“Sebentar aku ambil dompet dulu?”


“Gak usah! Ayo!” Arya mengambil Reyhan dari gendongan Bella lalu Bella mengunci pintu kosannya.


Arya berjalan menuju mobilnya di ikuti Bella. Tidak peduli tetangga kosannya melihatnya begitu sinis. Arya membukkan pintu mobilnya lalu menyuruh Bella masuk kemudian memberikan Reyhan pada Bella.


Arya segera masuk kedalam mobil dan tanpa kata melajukan mobilnya ke rumah sakit keluarganya, Mila hospital. Saat di perjalanan Arya menghubungi Omnya yang seorang dokter sekaligus pemilik rumah sakitnya


"Halo, Om Bayu!”


"Hem. Apa tong!”


“Si, om malah bercanda. Di IGD dokter jaganya siapa?”


“Kebetulan adik kamu yang jaga, Alya!”


“Om, masih di rumah sakit?”


“Masih!”


“Mas, cepet sedikit, badannya semakin panas!” sela Bella.

__ADS_1


“Iya tunggu, sayang! Om pokoknya Alya suruh stay di IGD, Reyhan demam tinggi.”


“Astaga, Iya! Nanti Om hubungi bagian IGD.”


Arya langsung memutuskan sambungan ponselnya lalu mengantongi ponselnya di jaketnya. Arya menambah kecepatan laju mobilnya sampai lampu merah pun ia trobos.


Akhirnya sampai di rumah sakit di depan ruangan IGD. Alya dan dua suster sudah menyambut mereka dan menyiapkan brankar dorong.


Arya turun tergesa-gesa membukakan pintu untuk Bella serta mengambil Reyhan lalu meletakkan di brankar.


"Alya, tolong kamu tangani, badannya panas sekali,” ujar Arya yang juga begitu panik melihat Reyhan matanya sudah seperti terbalik. Sedangkan Bella hanya menagis melihat anaknya.


"Iya kak! Serahkan pada Kami.” Alya dan dua suster cepat-cepat mendorong brankarnya menuju ruangan UGD. sedangkan Bella dan Arya menunggu di luar.


"Mas...! Anakku bagaimana, Reyhan..., kuat sayang. Reyhan anak pintar.”


Arya hanya bisa memeluk Bella, Bella begitu panik,vtakut terjadi sesuatu pada anaknya.


"Reyhan tidak apa-apa. Ada Alya yang menangani.“ Arya terus memeluk Bella sesekali mencium pucuk keningnya.


“Aku takut Reyhan kenapa-kenapa, Mas!”


Arya mengajak Bella duduk di kursi tunggu. Arya terus merangkul Bella agar Bella tidak begitu cemas dan khawatir.


“Dokter! tolong!” seru seseorang sambil membopong seorang wanita.


Dua perawat menghampiri orang tersebut lalu membukan pintu ruangan IGD. Bella melihat ke arah sumber suara yang sangat ia kenal.


“Mbak Anna! Abang!” Bella hendak bangkit namun di tahan Arya.


"Sudah bukan urusanmu.” Arya semakin erat merangkul Bella.


Alex berjalan kesana-kemari di depan pintu IGD tanpa tahu ada Bella yang memperhatikannya. Ia terlihat cemas dan frustasi.


“Suami Nyonya Anna!” panggil dokter.


"Saya dok!”


"Maaf, tuan Istri Anda keguguran dan harus segera di ambil tindakan curet!”


"Jadi janinnya tidak bisa di selamatkan,dok?”

__ADS_1


"Tidak, tuan. Mari ikut kami!” Alex masuk ke dalam untuk keperluan administrasi serta persetujuan tindakan curet. Rupanya Anna tengah mengandung anak ke dua.


Tak lama Alya yang menangani Reyhan pun keluar dari ruangan IGD. Arya dan Bella bergegas menghampiri Alya.


"Dok, bagaimana anak saya?” tanya Bella.


"Alhamdulillah panasnya sudah mulai turun. Tapi nunggu hasil cek darahnya ya. di Indikasi anak Anda terkena demam berdarah, di lihat dari tanda-tandanya bintik-bintik di kulitnya seperti demam berdarah. Anak Anda saat sedang tidur dan sebentar lagi di pindahkan ke ruangan perawatan.” Alya mengusap pundak Bella lalu tersenyum.


"Oh iya kak. Di ruangan anak VVIP. Oh ya ... papa menunggu di sana.” ujar Alya pada Arya.


“Iya, kalau gitu aku langsung ke ruangan Reyhan ya. Tolong administrasinya urus kamu dulu. Aku temani Bella dulu."


"Iya. Kalau gitu aku balik kerja.” Alya tersenyum lalu berjalan ke lorong rumah sakit untuk mengurusi administrasi Reyhan. Sedangkan Bella dan Arya menuju ruangan Reyhan. Saat berjalan tidak sengaja berpas-pasan dengan Alex. Bella hanya diam dan melihatnya saja begitu juga Alex yang heran dengan Bella yang bersama pria lain. Apalagi terlihat pria yang merangkul Bella begitu mesra dan manis memperlakukan Bella.


Alex terus melihat Bella sampai Bella menghilang di balik pintu lift. Dan pada akhirnya Alex semakin penasaran lalu bertanya pada suster.


"Maaf sus, tadi wanita dan pria di sini sedang apa ya. Yang barusan menuju lift?”


"Oh itu saudara dokter Alya!”


"Dokter Alya?”


“Iya dokter Alya, anak pemilik rumah sakit ini dan pria tadi kakak sepupunya dan Nona tadi pacarnya. Anak pacarnya sakit demam berdarah,” jelas Suster yang tidak begitu memperhatikan dirinya karena fokus menangani Anna yamg akan di bawa ke ruang operasi.


"Oh iya tuan, Dokter yang biasa menangani Istri Anda sedang keluar kota. Malam ini adanya dokter Wahyu!”


"Siappun dokternya berikan yang terbaik untuk istri saya!”


"Baik tuan. Maaf istri Anda mau kami bawa ke ruangan oprasi! Silahkan tunggu di luar ruangan oprasi.”


Alex mengantar Anna sampai di depan ruangan oprasi. Namum pikiran memikirkan Bella bersama pria lain.


Disisi lain Arya dan Bella sudah sampai di Kamar perawatan Reyhan. Bella langsung menghampirinya. Sedangkan Arya berbicara dengan Bayu.


“Arya! kalau boleh om sarankan kalian cepat menikah. Biar kamu leluasa menjaga mereka.”


“Om. Saya masih meyakinkan Bella. Bella masih trauma dengan pernikahan masa lalunya. Kita dekat juga baru beberapa bulan.”


“Iya, om tahu. Kamu harus lebih yakinkan dia. Kamu juga harus tahu Wanita itu tidak mudah hidup sendiri. Dia butuh sandaran dan kasih sayang. Memang dari luar dia begitu tegar dan kuat tapi yang sebenarnya hatinya rapuh.”


"Doakan ya, Om. Saya bisa meyakinkan Bella. Aku benar-benar mencintainya, Om. Bukan hanya sekedar kasihan tapi, saat saya di dekatnya ada rasa yang berbeda begitu juga dengan anaknya. Saya mencintai keduanya, om.”

__ADS_1


__ADS_2