
"Sutikno, kenapa kau melarangku menyapa pak tua itu?" Sejak tadi suasana sungai sangat sepi dan mencekam, hanya pak tua itu yang bisa aku tanyain perihal letak desa sebelah yang belum terlihat di mataku" ujar Subhan pada Sutikno.
Subhan makin was-was karena sebelum berangkat bersama sutikno, Sungai yanh di lewatinya tak selebar ini.
Namun, ketika rakit sudah berlayar menyeberangi sungai, pemandangan desa nya tak muncul laki di matanya. Semua terlihat seperti hamparan lautan yang amat luas.
Sutikno melihat wajah subhan yang sedikit ketakutan dan pucat. Dengan perasaan santai, Sutikno mencoba menenangkan hati sahabatnya itu.
"Subhan, tenanglah" Ada aku yang akan menemanimu sampai ke tepian" ucap Sutikno pada Subhan.
Mendengar ucapan Sutikno yang sedikit menenangkannya, Subhan berkata
"Iya Sutikno, aku tahu" Tapi kenapa kau melarangku untuk bertanya pada kakek tua itu?" Bukankah ini kesempatan kita untuk bertanya seputar jalan pintas yang harus kita lewati?" tanya Subhan pada Sutikno.
Sutikno terdiam sejenak mendengar ucapan Subhan, dan menghela nafas panjang. Tangannya mulai memegang pundak Subhan yang sudah mulai gagah itu.
__ADS_1
"Subhan, kakek itu sepertinya bukan makhluk yang baik"
"Lihatlah, dia membawa sebilah pisau di pinggangnya" ujar Sutikno sambil menunjukkan sebilah pisau yang ada di balim punggung pak tua itu.
Subhan pun langsung melihat ke arah dimana Sutikno memberitahu nya tentang pisau yang ada di pinggang pak tua.
"Oh, ya Sutikno, aku melihatnya" Kenapa kau takut?" bukankah pisau itu bisa jadi digunakan oleh pak tua untuk melindungi dirinya sendiri" Toh pak tua itu terlihat sangat renta sekali" ujar Subhan tak mau kalah dan terus bertanya pada Sutikno.
Sutikno hanya diam saja, tapi tangannya tetap saja mencegah Subhan untuk memanggil pak tua itu. Sutikno menyumpal mulut subhan dengan kedua tangannya sehingga mulut subhan tak bisa berteriak.
Saat Subhan sudah menyerah dan pak tua itu tak terlihat lagi, barulah Sutikno melepaskan tangannya.
Dengan rasa penasaran, Subhan bertanya pada Sutikno mengapa dia sampai tega memperlakukan dirinya seperti itu.
"Sutikno, mengapa kau sangat berubah sikap menjadi sangat kasar terhadapku?" apakah kau telah kerasukan penghuni sungai ini?" tanya Subhan penasaran
__ADS_1
"Hus, diam Subhan, di atas sungai ini jangan banyak bicara, kau cukup diam dan ikuti aku" ucap Sutikno memberi peringatan pada Subhan.
"Sebagai sahabatmu, aku akan berusaha sekuat tenaga mengantarkan mu sampai ke desa sebelah tanpa halangan apapun" ujar Sutikno pada Subhan.
"Yasudah, kalau begitu apakah kita makan dulu?" mumpung aliran sungai tak begitu deras.
"Ya, baiklah Subhan, buka bekal makanan mu, kita makan diatas sungai ini" ucap Sutikno sembari melihat ke sekeliling sungai yang sedikit mencekam.
Subhan pun mulai membuka makanan yang dibungkuskan nenek Subhan untuk nya. Ketika hendak membuka bekal dari nenek nya, Subhan merasakan hal yang luar biasa. Bekal yang dibawakan nenek nya berubah menjadi sebuah tulang belulang yang pernah ditemui nya di bawah kasur tempat tidurnya.
"Hah, Sutikno?" mengapa makanan dari nenek ku berubah menjadi tulang yang mirip dengan yang pernah aku temui di dalam kamar tidurku?" tanya Subhan pada Sutikno. Subhan langsung menutup matanya karena sangat takut melihat makanan yang sangat menjijikkan itu.
Sutikno melihat subhan dengan tatapan sayu. Sutikno pun berkata
"Yang benar Subhan?" Coba aku ingin lihat" ucap Sutikno pada Subhan.Sutikno pun segera mengambil jatah makanan yang diberikan Subhan untuk nya. Ketika Sutikno mulai membuka jatah makanan nya dari nenek Subhan, Sutikno tertawa lepas dan berkata
__ADS_1
"Punyaku enggak nih, lihatlah" ujar Sutikno pada Subhan.
Subhan yang mulai tadi menutup matanya karena takut sedikit demi sedikit memberanikan diri untuk membuka matanya dan ternyata makanan yang didepannya berbeda dengan makanan yang pertama kali dia lihat tadi.