Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Sebuah pengakuan


__ADS_3

Hingga pada akhirnya nenek tua mata satu tertunduk lesu. Dia tak menyangka jika cucu nya sendiri telah mengabdi kepada seorang manusia seperti Subhan yang dia anggap sangat lemah.


Nenek tua itu akhirnya segera berdiri dan memegang tangan Zaenal. Sambil berbisik dia berkata


"Kau masih cucuku" Jadi lebih baik tinggalkan manusia bodoh itu dan ikutlah dengan ku" ucap nenek tua itu membujuk Zaenal.


Zaenal yang tak tahu apa-apa langsung mundur dari tempatnya semula. Dalam hati Zaenal muncul rasa tak percaya jika dirinya adalah cucu dari seorang nenek tua yang buruk rupa dan mempunyai mata satu.


"Tidak, kau bukan nenek ku" Aku tetap akan bersama keempat manusia itu karena merekalah yang memberikan aku tempat tinggal" ujar Zaenal kesal.


Nenek tua itu akhirnya mengeluarkan sebuah cawan yang ada di lengan kirinya. sambil memegang cawan, sang nenek berkata


"Nak, lihatlah" ini adalah cawan yang berisikan jiwa manusia yang tergadai" Mereka menggadaikan jiwa ini kepadaku" Apakah kau tak mau merasakan energi jiwa ini?" Jika kau menghirup cawan ini, usia mu akan bertambah 100 tahun lagi, dan kekuatan mu akan berlipat ganda" ujar sang nenek berusaha merebut hati Zaenal yang saat itu masih belum percaya kepadanya.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkan kamu, untuk yang sekarang" Kau telah memecahkan satu cawan milikku" Anggap saja kau tak sengaja melakukannya" ucap sang nenek tua.


Mendengar ucapan sang nenek tua, Zaenal terdiam. Batin nya sama sekali tak percaya atas ucapan sang nenek. Namun, jika dirinya tetap bersikukuh membela Subhan, maka nenek tua itu tak kan pernah memberi tahu jalan pulang untuk Subhan yang sudah dianggap tuannya itu.


Hingga akhirnya, muncullah sebuah ide bahwa sebaiknya Dirinya menuruti apa yang diinginkan oleh nenek tua itu.


"Hem, sepertinya, aku harus mengakui dia sebagai nenek ku, dengan begitu dia pasti memberi tahu dimana letak jalan pulang" gumam Zaenal


"Ya, aku percaya kau nenek ku" Sekarang, apa yang nenek inginkan dari keempat manusia tak berdosa itu?" tanya Zaenal pada nenek nya.


Jika kau berhasil mengambil jiwa mereka, energi mu pasti akan bertambah" ucap sang nenek tua.


"Hem, baiklah nek, aku akan pergi menemui ke empat manusia itu"

__ADS_1


"Oh ya, sebelum pergi, aku ingin tau dimana jalan yang bisa membuatku keluar dari tempat ini?" Aku ingin berjalan jalan ke dunia manusia nantinya nek" Jika aku telah bosan, aku akan kembali ke sini" ucap Zaenal pada nenek nya.


Sambil tersenyum, nenek tua itu berkata


"Zaenal, lihatlah ke arah kanan, di sana ada lubang kecil yang sedikit ada cahaya masuk" Keluarlah lewat sana" ucap sang nenek tua pada Subhan


"Hem, kecil sekali?" Apakah tubuhku bisa melewati lubang itu?" tanya Zaenal setengah tak percaya


"Jasad mu berupa asap" Kau bisa keluar masuk sesukamu jika telah berada di sini" jawab sang nenek singkat


"Trus, untuk keempat manusia itu?" Bagaimana nek?" apakah mereka akan terperangkap di sini selamanya?" tanya Zaenal berusaha bertanya lagi pada nenek nya.


"Nak, selama pintu yang ada di kamar nomor satu aku tutup, mereka tak akan bisa keluar" Kunci nya ada padaku, jadi kau tak perlu kawatir, mereka tak akan bisa kemana-mana" ucap sang nenek pada Zaenal

__ADS_1


Mendengar ucapan sang nenek, Zaenal tertunduk lesu karena tak ada hal yang bisa dia tanyakan lagi.


Akhirnya, Zaenal segera pergi meninggalkan nenek nya menuju ke tempat dimana Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan berada.


__ADS_2