
Sambil berjalan pelan, Subhan, Sarto dan ayah ibu Subhan berjalan menuju ke kamar sang nenek. Sambil menoleh ke kanan dan ke kiri, Subhan tampak mengamati segala hal yang ada di dalam rumah itu walaupun terlihat remang-remang.
Hingga akhirnya, Subhan sampai di depan pintu sebuah kamar.
"Ayah, apa ini kamar sang nenek ya?" Kamarnya sepertinya terkunci rapat" ucap Subhan berusaha semakin mendekat ke arah pintu kamar
"Iya nak, kalau begitu Apakah kita ketuk pintu dulu, nenek tua itu bilang pada ayah kalau hendak ke kamarnya, kita harus mengetuk pintu terlebih dahulu" ucap ayah Subhan pada Subhan.
"Ya baiklah ayah, aku ketuk pintunya dulu" jawab Subhan
Subhan segera mengetuk pintu kamar sang nenek.
"Nenek, nenek, bolehkah kami masuk?" Kami semua ingin pulang" ujar Subhan sambil mengetuk pintu kamar misterius itu
Setelah beberapa lama menunggu, rupanya tak ada jawaban dari sang nenek hingga membuat Subhan, penasaran.
__ADS_1
"Pak Sarto, gimana ini?" Aku sudah mengetuk pintu hingga berkali-kali tapi tam ada jawaban dari dalam" Apa nenek itu sedang tidur?" tanya Subhan gelisah.
Wajah Subhan tampak kelelahan karena dirinya kurang tidur semenjak berada di rumah sang nenek.
"Ehm, gimana kalau kita masuk saja?" kita buka pintunya tanpa nenek tua tau?" tanya Sarto memberikan ide pada Subhan.
"Yaudahh paman, gimana ayah?" Aku coba buka pintunya ya?" tanya Subhan meminta ijin pada ayahnya terlebih dahulu.
"Terserah kamu nak, cuman nenek tua itu sebelum pergi dari kamar berpesan pada ayah bahwa sebelum masuk ke dalam kamarnya kita harus mengetuk pintu nya terlebih dahulu sampai dia membukakan pintu kamar ini" jawab ayah Subhan pada Subhan
Setelah semua setuju dengan kesepakatan bersama, Subhan mulai membuka pintu kamar sang nenek pelan-pelan.
"Ceklek" Suara pintu kamar itu berbunyi sedikit keras, membuat Subhan dan Sarto sedikit tekejut.
"Ayah, lihatlah" Pintu kamar nenek tak dikunci" Ayo kita masuk" ajak Subhan pada ayah ibu dan Sarto.
__ADS_1
Mereka berempat segera masuk. Tampak dua buah lilin yang mirip sekali dengan lilin yang dibawa oleh nenek ketika pergi ke kamar dimana ayah dan ibu Subhan terjebak disana.
"Loh, lilin ini besarnya mirip dengan lilin yang dibawa oleh sang nenek saat menuju ke kamar kita. Apa mungkin nenek tua itu masih tidur?" tanya ayah Subhan menerka.
"Sepertinya sih begitu" Kalau begitu ayo kita terus saja masuk ke dalam" Sepertinya kamar ini sangat luas sekali" ucap ayah Subhan sedikit takut.
Langkah demi langkah sudah mereka lalui, saat langkah kesepuluh, pintu kamar sang nenek tiba tiba tertutup sendiri dan ruangan semakin gelap saja.
"Loh, lihatlah" pintu itu tertutup" ucap Subhan sambil melihat ke arah pintu kamar.
Subhan mulai berbalik arah menuju ke arah pintu keluar kamar dan mencoba membuka pintu kamar itu, namun hasil nya sia-sia
"Paman, lihatlah, pintu tak bisa dibuka" Sepertinya kita terkunci di dalam dan tak bisa keluar" ucap Subhan pada Sarto.
Sarto segera menyusul Subhan diikuti oleh ayah dan ibu Subhan. Mereka bekerja sama membuka pintu keluar itu, namun hasil nya sama saja. Pintu kamar sang nenek tetap tak bisa dibuka.
__ADS_1