
"Ustad Saleh, lihatlah ke depan rumah" Ada Sumur aneh" ucap Sarto pada ustad Saleh yang saat itu masih berada di kamar Sutikno bersama Subhan.
"Oh, iya pak, sebentar saya akan menuju ke sana" ucap ustad Saleh.
"Subhan, tampak nya di kamar Sutikno tak ada apapun" Lebih baik kita tinggalkan tempat ini dan kita menuju ke sumur depan rumah" ujar ustad Saleh pada Subhan.
"Baiklah ustad, jawab Subhan. Ustad Saleh dan Sarto akhirnya pergi menuju ke sebuah sumur dimana Sarto baru saja melihat kejanggalan di dalam sumur itu diikuti Subhan.
Saat Subhan beranjak melewati batas pintu kamar Sutikno, terlihat sebuah cincin bermata biru tergeletak di lantai. Karena penasaran, Subhan memungut cincin itu dan menyimpannya di kantong bajunya tanpa memberi tahu kepada ustad Saleh maupun Sarto ..
Tibalah mereka bertiga di tempat dimana sumur milik keluarga Sutikno berada.
"Lihatlah ustad, air di dalam sumur ini warnanya aneh dan baunya anyir" ungkap Sarto sambil menunjukkan air sumur yang baru saja diambil nya kepada ustad Saleh.
Ustad Saleh langsung mengamati air sumur itu dan mulai mencium nya
__ADS_1
"Ya benar Sarto, air sumur ini baunya tak wajar" ucap ustad Saleh sambil mengamati sumur milik keluarga Sutikno itu.
Ustad Saleh lanjut dengan membaca doa sambil mulutnya komat kamit tak tahu apa yang diucapkan karena doa yang dilontarkan ustad Saleh tak terdengar di telinga Sarto maupun Subhan yang saat itu ada di sampingnya.
Sementara itu, Subhan mulai mendekat ke arah air sumur itu dan sepertinya Subhan mencoba mengingat-ingat sesuatu yang menimpa dirinya saat menyeberangi sungai angker bersama Sutikno.
"Loh, air ini mirip dengan air yang pernah diberikan Sutikno kepadaku" Aku pernah meminum air ini" Kala itu Sutikno memberikan air ini ketika aku kehausan" ucap Subhan pada Sarto dan ustad yusuf
"Coba aku lihat lebih dekat" ucap Subhan sambil mengambil air itu dari tangan Sarto.
"Ya, benar, ini adalah air yang diberikan Sutikno kepadaku" Bau dan rasanya sama dengan air yang pernah aku minum saat aku berlayar bersama Sutikno" ucap Subhan
"Emang rasanya gimana nak?" tanya Sarto penasaran
"Rasanya asin pak, dan bau nya tidak sedap" Saat itu, Sutikno meletakkan air itu di dalam botol. Dan karena aku haus, aku meminum nya" ucap Subhan polos.
__ADS_1
"Jleb " jantung ustad Saleh berdetak hebat tak kala mendengar Subhan meminum air sumur itu
"Kalau begitu, minggirlah sebentar" pinta ustad Saleh pada Subhan dan Sarto yang saat itu masih berada di samping sumur.
Sarto dan Subhan segera minggir sesuai dengan arahan dari ustad Saleh. Dengan memejamkan matanya ustad Saleh berdoa di pinggir sumur milik Sutikno. Doa yang dilafalkan oleh ustad Saleh tak terdengar di telinga Subhan dan Sarto. Namun mereka berdua ikut menundukkan kepala dan ikut berdoa mengamin kan apa yang dibaca oleh ustad Saleh
Setelah ustad Saleh berdoa, barulah ustad Saleh menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dalam sumur itu
"Subhan, Sumur ini sempat dijadikan kuburan oleh kedua orang tua Sutikno" Sebenarnya ayah dan ibu Sutikno dulunya adalah seorang pencari pesugihan, sama dengan yang dilakukan oleh kakek dan nenek mu" ucap ustad Saleh pada Subhan
"Hanya saja, kakek mu menggunakan tombak sebagai bahan pesugihan, namun kalau ayah dan ibu Sutikno menggunakan media sumur untuk memberikan tumbal manusia" Setiap 3 tahun sekali, orang tua Sutikno membuang tumbal manusia ke dalam sumur ini" Itulah kenapa, arwah Sutikno sampai saat ini belum tenang dan tetap berkeliaran, karena Sutikno memakan hasil dari pesugihan yang dilakukan oleh ayah dan ibunya"
"Sutikno sebenarnya adalah korban tumbal berikutnya, namun berhubung gunung merapi meletus terlebih dahulu, tumbal itu tak jadi diberikan pada sang demit"
Saat ini kedua orang tua Sutikno telah menjadi pengikut demit lereng gunung merapi" ucap ustad Saleh panjang lebar
__ADS_1
"Darimana ustad tahu semuanya?" Subhan balik bertanya pada ustad saleh yang saat itu sangat tahu sekali tentang semua seluk beluk permasalahan yang ada di desanya. Padahal ustad Saleh saat itu ada di desa sebelah bersama Sarto