Desa Pinggir Sungai

Desa Pinggir Sungai
Bau anyir


__ADS_3

Ustad Saleh seperti meletakkan kakinya di atas lumpur dan tubuh nya terlihat sangat ringan.


"Ustad, mengapa cara ustad berjalan sangat berbeda dengan kami?" Lumpur di sini hampir mencapai lutut ku" Tapi aku melihat kaki ustad tak terkena lumpur sama sekali" tanya Subhan sambil terus memperhatikan ustad Saleh.


"Ya nak, lanjutkan saja jalannya" Aku berbeda dengan kalian semua" jawab ustad Saleh santai.


"Oh yaudah" jawab Subhan tanpa berpikir lagi mengenai hal aneh yang baru saja dilihatnya.


Subhan mulai berjalan lagi diikuti orang tua nya dan Sarto. Setiap melangkahkan kaki nya, Subhan merasa berat karena lumpur yang ada di jalanan itu lengket.


Sarto yang berada di belakang Subhan mulai bertanya pada Subhan karena dia mengalami hal yang sama dengan apa yang dia alami saat berjalan.


"Subhan, apa benar ini jalan menuju rumahmu?" Kok banyak lumpur?" Apakah dulu saat kau di sini juga seperti ini jalan nya?" tanya Sarto pada Subhan

__ADS_1


"Pak Sarto, aku pun bingung dengan hal aneh yang terjadi di desaku" Dulu saat aku disini, aku berjalan dengan enak dan tak ada lumpur setinggi ini" Apakah wedus gembel lagi marah dan ini adalah lumpur akibat letusan gunung yang ada di dekat desa ya?" ucap Subhan menerka-nerka


"Sebelum nya apa emang jalanan ini mulus tanpa lumpur dan rumput liar?" Apakah ada jalan lain selain jalan ini Subhan?" tanya Sarto pada Subhan


"Jalan desa hanya satu ini pak" Aku tak pernah lewat jalan lain selain jalan ini" Ayo kita berjalan saja, sebentar lagi sampai kok" ujar Subhan pada Sarto


Akhirnya Sarto, Subhan dan orang tua Subhan meneruskan perjalannya ke tempat dimana nenek Subhan berada.


Ustad Saleh semakin terlihat aneh saja. Subhan dan pak Sarto mulai menggelengkan kepalanya karena sejak tadi ustad Saleh hanya diam saja seribu bahasa.


"Loh, gerakan ustad Saleh sepertinya hampir sama dengan pak Tua itu" Apa aku yang salah lihat ya?" gumam Subhan sambil terus memperhatikan ustad Saleh yang saat itu masih berada di belakang Subhan.


Subhan diam seribu bahasa karena yang Subhan ingin kan adalah bertemu dengan nenek dan kakek nya. Segala keanehan yang ada di pikirannya dia buang begitu saja.

__ADS_1


Saat berjalan di atas lumpur, terlihat bayangan berwarna hitam berlari di depan Subhan. Subhan terkejut ketika melihat bayangan itu


"Loh, loh siapa itu?" teriak Subhan sambil mengamati bayangan berwarna hitam yang baru saja lewat di depannya.


"Siapa Subhan?" tanya Sarto penasaran


"Pak Sarto, aku melihat bayangan berwarna hitam baru saja lewat di depanku" ucap Subhan pada Sarto.


Sarto akhirnya melihat ke sekeliling dan tak ada bayangan hitam apapun yang dilihat oleh Sarto, begitu juga dengan orang tua Subhan yang juga tak melihat hal apapun.


Subhan pun melanjutkan perjalanan karena dirinya menganggap bayangan itu hanya halusinasinya saja. Saat memulai berjalan lagi, tercium bau keringat yang tak asing baginya


"Hem, aku ingat betul bau ini" Bau ini sepertinya adalah bau keringat Sutikno" gumam Subhan dalam hati

__ADS_1


Bau khas tubuh Sutikno sangat dikenal oleh Subhan. Bagi Subhan bau itu sangat khas karena mengingat Sutikno tak pernah mandi dan tetap memakai baju merah, sehingga bau tubuhnya tercium sedikit anyir dan busuk. Namun bagi Subhan bau itu tak menjadi masalah karena Subhan telah terbiasa mencium bau tubuh Sutikno.


__ADS_2