
Ladang milik Sutikno terlihat sangat luas. Ternyata orang tua Sutikno adalah orang paling kaya di desa nya. Terlihat luas ladang itu jika ditanami jagung tanpa ada kendala hama, orang tua Sutikno bisa meraup uang puluhan juta rupiah.
"Subhan, seluas inikah ladang milik Sutikno?" tanya Sarto pada Subhan
"Iya, dia selalu berada di sini dan menemaniku bermain" Lihat pohon yang mengelilingi ladang" Sutikno membuat rakit dengan kayu yang didapat dari pohon itu"
Terlihat bekas potongan kayu yang tersisa ada di sana.
"Nah, kan benar?" Ini adalah potongan kayu sisa dari pembuatan rakit ku" ujar Subhan pada Sarto
Sarto manggut-manggut saja tanpa banyak bertanya lagi. Hingga suatu saat, Subhan melihat sesuatu yang aneh di gubuk peristirahatan dimana dirinya selalu beristirahat bersama Sutikno jika telah selesai bermain dan menanam sayuran di ladang.
"Gubuk itu adalah gubuk tempat ku beristirahat bersama Sutikno" ujar Subhan pada Sarto dan kedua orang tuanya
Ustad Saleh melihat ke arah kanan. Tampak nya ustad Saleh sedang berbincang dengan seseorang yang tak kasat mata. Terlihat ustad Saleh menganggukkan kepalanya sesekali menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Segala tindakan ustad Saleh itu tak sempat dilihat oleh Subhan, Sarto dan kedua orang tua Subhan. Mereka berempat asyik melihat suasana di ladang milik Sutikno.
Karena penasaran, Sarto pergi menuju ke gubuk itu dan diikuti oleh Subhan dan kedua orang tua Subhan.
Sambil berjalan pelan, Sarto datang lebih dahulu dibanding Subhan. Sarto melihat sebuah gundukan tanah di dalam gubuk. Terlihat botol air minum dan alas kaki yang terlihat sangat lama berada di sana.
Di dalam gubuk juga terdapat arit dan palu, serta barang tanam lain. Tampak nya barang-barang itu masih tersimpan rapi di din ding gubuk. Barang itu kebanyakan sudah berkarat.
"Subhan, coba lihat di gubuk" Apakah kau dulu sering beristirahat di sini bersama Sutikno?" tanya Sarto pada Subhan.
Subhan pun ikut masuk ke dalam gubuk itu dan dia terkejut melihat apa yang ada di dalam gubuk. Suasana gubuk saat ini sangat berbeda dengan suasana gubuk itu beberapa waktu yang lalu saat dia bersama Sutikno.
"Subhan, kenapa dengan mu?" Apa yang kau pikirkan?" tanya Sarto penasaran
"Pak Sarto, aku melihat sebelum nya, tak ada gundukan tanah di sini" Ucap Subhan.
__ADS_1
"Loh, ini alas kaki milik Sutikno" Kok ada di sini?" Bukankah dia bersamaku berlayar ke desa sebelah dan dia memakai alas kaki ini?" ucap Subhan dengan kebingungan.
"Subhan, coba kau ingat-ingat lagi" mungkin kamu lupa" ujar ayah Subhan pada Subhan.
"Bener pak" Aku melihat Sutikno memakai alas kaki ini ketika bersamaku menyeberangi sungai" ujar Subhan yakin.
Karena penasaran, Subhan menggali gundukan tanah itu dan dibantu oleh Sarto dan ayah Subhan. Sementara ustad Saleh berjaga di luar dan melihat ke arah timur. Dimana gunung merapi yang tetap berdiri kokoh.
Lama kelamaan, gundukan tanah itu mulai menunjukkan keanehan. Terlihat sobekan baju berwarna merah ada di dalam gundukan itu.
"Loh, ini baju yang dipakai Sutikno, sama persis dengan baju yang dipinjam kan nya untuk menutup lukaku" Sobekannya sama persis" ujar Subhan keheranan.
Subhan dan Sarto makin penasaran dan terus menggali gundukan tanah itu hingga terbuka pelan-pelan.
Muncul sesuatu yang membuat Subhan terkejut
__ADS_1
"Hah, apa benar yang aku lihat?"