
Mereka berempat mulai berlayar di saat waktu menjelang sore hari. Mau tidak mau suasana gelap meliputi perjalanan. Lampu yang digunakan oleh Sarto hanya mengandalkan lampu senter saja. Tak ada lampu penerangan lain selain senter yang dipegang oleh Sarto.
Saat itu, Sarto berada di depan perahu, Kedua orang tua Subhan di tengah
Sedangkan ustad Saleh berada di belakang sendiri. Terlihat Subhan masih memegang tombak peninggalan kakek dan nenek nya. Tombak itu berwarna perak seperti besi. Dalam tombak itu masih ada anak keturunan jin jinggo yang akhirnya ikut berlayar bersama mereka berlima
Saat mereka berlayar dan sampai di persimpangan jalan, Sarto terlihat bingung karena jalan yang dilalui mereka saat ini sangat berbeda dengan jalan yang mereka lalui saat berlayar menuju ke desa Teluk meriang. Saat Sarto bingung, tiba tiba saja, lampu senter yang dipegangnya mati dan tak bisa dinyalakan lagi.
__ADS_1
"Ustad, senternya tiba-tiba saja mati, bagaimana Ini?" jalan menuju ke arah desa kita juga belum juga terlihat" Sepertinya suasana sungai ini mirip dengan lautan saja"ucap Sarto sambil mengamati senter yang saat itu digenggamnya dengan erat.
Sarto berusaha mengamati isi baterai yang ada di dalam senter dan usahanya tetap saja sia-sia belaka. Subhan yang saat itu berada ditengah perahu mencoba mengamati sungai itu. Subhan berusaha mengingat-ingat perjalannya bersama Sutikno yang berlayar menuju ke desa tempat tinggal Sarto. Sambil mengingat jalan yang dilaluinya, Subhan berkata
"Pak Sarto, kenapa kok jalan yang kita tempuh saat ini berbeda dengan jalan yang pernah kutempuh bersama Sutikno? "Apa kita salah jalan?" Saat aku bersama Sutikno, aku melewati sebuah persimpangan yang dijaga oleh penjaga sungai"Sekarang, aku tak menemui penjaga sungai itu lagi"ucap Subhan serius
Saat situasi gelap gulita, secara tak sengaja perahu yang ditumpangi mereka berlima mulai bergoyang ke kanan dan ke kiri. Seperti ada ombak yang sangat besar.
__ADS_1
"Loh, ada apa ini, kenapa perahu kita bergoyang padahal tak ada ombak sama sekali" ucap ibu Subhan dengan perasaan ketakutan. Sementara itu Ustad Saleh tetap diam tanpa bersuara apapun dan hal itu membuat mereka berempat curiga.
Ustad, ada apa denganmu?" tanya Sarto sambil pergi menuju ke tempat dimana Ustad Saleh duduk. Perahu yang mereka naiki semakin kencang goyang nya sehingga Sarto tak sampai ke belakang perahu menemui Ustad Saleh. Sarto terduduk di tengah perahu bersama ayah ibu Subhan dan Subhan sendiri.
"Subhan, peganglah punggung ayah kuat-kuat nak, jangan sampai kau lepaskan" ucap ayah Subhan sambil tangannya memegang tangan ibu Subhan. Sementara itu, Sarto berpegangan pada kayu perahu dan berusaha menjaga keseimbangan agar perahu yang mereka tumpangi tak sampai tenggelam.
Tiba tiba saja, air sungai angker itu mulai naik dan masuk ke dalam perahu. Mereka berempat mulai melihat perahu yang mereka tumpangi hampir saja tenggelam. Subhan berteriak dan memanggil nama Ustad Saleh yang sejak tadi tetap bertahan di belakang perahu.
__ADS_1
" Ustad Saleh, bagaimana Ini, tolong kami ustad" Sutikno...., andai kau ada disini, pasti aku selamat seperti dahulu saat berlayar bersamamu" jerit Subhan meratapi nasibnya